Kupang, bkd.nttprov.go.id - Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi kepulauan yang terdiri dari 22 Kabupaten/Kota yang memiliki beraneka ragam suku dan budaya dengan kain tenun ikat yang beraneka ragam motif. Tenun ikat sudah ada sejak jaman nenek moyang dan merupakan warisan budaya serta memiliki keunikan dan corak yang beragam.
Kain tenun ikat dengan berbagai motif dan keunikan yang berbeda-beda dan mengandung makna ini menjadi bagian komoditi NTT yang kerap dipromosikan di berbagai kegiatan. Produk kain tenun ikat mampu memikat perhatian kalangan masyarakat karena diproduksi dengan tangan manusia menggunakan alat tenun tradisional yang terbuat dari kayu dan bambu, serta pewarnaannya bersumber dari tumbuh-tumbuhan (daun, akar atau kulit kayu).
Setiap daerah di NTT memiliki motif tenun ikat yang berbeda-beda dan mengandung filosofi yang berbeda. Tenun ikat juga bukan hanya sekedar hasil buatan kaum perempuan NTT tetapi juga dinilai sebagai karya intelektual yang tidak kalah dengan berbagai karya seni yang tersohor di dunia.
Tenun ikat NTT sudah berada di kelas dunia melalui berbagai peragaan busana/pameran busana pada KTT ASEAN 2023 di Labuan Bajo, para kepala negara ASEAN dan Sekjen ASEAN mengenakan kemeja tenun ikat Flores, selain itu tenun ikat sumba pernah masuk nominasi untuk diajukan ke UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTB).
Tenun ikat NTT memiliki keunikan karena menggunakan pewarna alami dari bahan-bahan sekitar, seperti daun, akar, atau kulit kayu.
Tenun ikat selain dikenal di manca negara juga digunakan di wilayah NTT khususnya di daerah yang memiliki cirikhas motif dipakai oleh setiap orang ketika merayakan acara adat, acara pernikahan, maupun pada acara kedukaan. Tenun ikat juga digunakan sebagai mahar pernikahan pada suku tertentu, tenun ikat juga diberikan kepada tamu kehormatan yang baru datang mengunjungi daerah/wilayah setempat di NTT.
Seiring perkembangan jaman dan tuntutan kebutuhan tenun ikat juga digunakan sebagai sumber ekonomi untuk menambah pendapatan rumahtangga. dimana kaum perempuan menenun dan menjual tenunannya. Usaha tenun ikat memiliki potensi besar memberi keuntungan karena tenun ikat dapat menghasilkan uang dengan harga yang tinggi sesuai rumitnya proses pembuatan motif tenun.
Peluang bagi produk tenun ikat bisa terserap lebih tinggi di pasar melalui berbagai pameran yang diselenggarakan pemerintah daerah hingga pemerintah pusat dalam ajang berkala. Pemerintah Daerah di NTT juga menerapkan pemakaian tenun ikat bagi seluruh pegawai di lingkungan pemerintah pada hari tertentu, pada sekolah-sekolah juga ditentukan untuk menggunakan tenun ikat dalam bentuk rompi yang digunakan pada hari tertentu. Penggunaan busana tenun ikat NTT ini tidak hanya sebagai bentuk apresiasi tertinggi, namun juga untuk menyerap karya intelektual tenun ikat yang luar biasa.
Edwar Burnett Tylor (1832-1917) adalah seorang antropologis Inggris yang mendefinisikan budaya sebagai keseluruhan kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat. Tylor merupakan salah satu tokoh pendiri antropologi budaya. Sebagai tokoh pendiri antropologi budaya salah satu konsepnya ia percaya bahwa budaya merupakan sistem simbolik untuk menyampaikan ide dan keyakinan manusia.
Tenun ikat dengan berbagai motif memiliki makna dan simbol yang kuat bagi daerahnya ini menggambarkan bahwa tenun ikat merupakan simbolik yang berharga dan mempunyai nilai.
Marselina (Kota Kupang) adalah salah seorang penenun dan telah bergelut dalam menjual hasil tenunnannya guna menopang ekonomi keluarga, seiring perkembangan usahanya di bidang tenun dan penjualan serta banyaknya peminat ia mempekerjakan kerabatnya untuk sama-sama menenun yang kemudian hasilnya dijual. Kini usahanya sudah semakin maju sejak tahun 2020 sampa sekarang (2025) sudah semakin banyak hasil tenunan yang ia jual. Sejak awal tenunan yang dihasilkan bermotif Sabu kini dengan modal yang ia miliki dari hasil jual tenun ikat Sabu ia juga melakukan jual beli tenun ikat dari daerah lain seperti tenun ikat dengan motif Rote, Timor, Ende, Nagekeo, Manggarai, Lembata, Alor, Sumba, Maumere sesuai permintaan pasar, seiring berjalannya waktu tenunan-tenunan tersebut ia kembangkan dengan berkolaborasi dengan penjahit sehingga bisa menghasilkan berbagai jenis busana yang etnik, unik dan modis bernuansa motif NTT. Rumah tinggalnya ia jadikan tempat pajangan produk-produknya. Dari usahanya tersebut ia telah menopang ekonomi keluarga, ia juga membuka lapangan kerja dengan menyerap tenaga kerja untuk mendukung usahanya dengan memberikan upah dari hasil jualannya.
Ina Wadu (Kota Kupang) juga mempunyai kemampuan menenun, menjahit dan membuat kerajinan tangan berupa aksesoris bernuansa motif NTT sebagai pelengkap pakaian adat. Ia juga mempekerjakan beberapa orang penenun, dari hasil tenunan ia sendiri yang menjahit busana kantor, busana pesta maupun busana kantor dengan berbagai model yang menarik. Hasil karyanya dijual dan yang lainnya disewakan kepada pelanggan atau konsumen yang membutuhkan.
Usaha tenun yang digeluti oleh kedua perempuan NTT diatas merupakan gambaran yang patut diacungkan jempol sebab mereka mampu menopang ekonomi keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, menyekolahkan anak sampai dibangku kuliah dan memenuhi kebutuhan tambahan lainnya dalam rumah. Produk yang mereka hasilkan mengikuti perkembangan jaman sehingga dapat memenuhi permintaan pasar. Selain menjual tenunan di rumah mereka juga mejual hasil karyanya dengan melalui media sosia seperti Facebook (FB), WhatsApp (WA), Instagram (IG) dan menjual secara langsung pada arena Car Free Day.
Salah satu usaha tenun ikat bisa terserap lebih tinggi di pasar melalui berbagai ajang seperti fashion show bernuansa tenun ikat, penggunaan pakaian seragam baik pegawai maupun pelajar, dan pameran yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah hingga pemerintah pusat yang dilaksanakan secara berkala.
Sekali pembelian tenun ikat bisa memperoleh keuntungan jutaan rupiah bagi penenun sesuai tingkat kerumitan dalam proses menenun sampai dengan dihasilkannya selembar kain, selain itu bahan dasar pembuatan motif dan pewarnaan juga menjadi penentu harga tenunan.
Menenun adalah pekerjaan tanpa mengenal musim, bisa dilakukan setiap waktu dan berkelanjutan sehingga memberikan keuntungan ekonomi, seiring perkembangan jaman dan banyaknya permintaan pasar akan kain tenun ikat maka perlu adanya regenerasi menenun bagi kaum milenial. Beragam dukungan sebagai langkah penting untuk memotivasi para perempuan di NTT agar terus berkarya menghasilkan tenun ikat dan mengandalkannya sebagai bagian dari sumber mata pencaharian.
Biasanya para pengrajin tenun hanya memproduksi tenun dalam bentuk kain saja. Padahal ada beragam produk yang bisa diproduksi dan dikreasikan dengan kain tenun. Pemberdayaan tenun bisa memberikan edukasi pada para pengrajin tenun yang umumnya tinggal di wilayah pedalaman ini.
Melalui pemberdayaan tenun NTT bisa dikreasikan menjadi berbagai produk multiguna, mulai dari tas, topi, dompet, dan produk-produk lainnya. Selain meningkatkan kreativitas para pengrajin tenun, kreasi produk ini juga bisa menambah nilai jual dari kain tenun NTT yang pada akhirnya juga berdampak pada peningkatan ekonomi para penenun.
Dukungan Pemerintah Bagi Penenun
MELKI JONI dalam salah satu program prioritasnya Milenial dan Perempuan Motor Kreatifitas Lokal mengajak pengrajin tenun milenial dan perempuan untuk terus mengembangkan bakat dan kemampuan dalam menenun dengan dukungan dari pemerintah melalui Dinas Koperasi dan UMKM dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan dengan memberikan pelatihan, bantuan modal usaha, dan membantu promosikan produk lokal.
Itulah dampak positif dari hadirnya program prioritas Melki Joni dalam membantu milenial dan perempuan yang menenun untuk meningkatkan ekonomi dan mensejahterakan keluarga dan masyarakat umumnya. Semoga program ini terus berkembang di NTT sehingga para pengrajin tenun bisa terus berdaya dan warisan budaya kain tenun pun tetap terjaga.
“Ayo Bangun NTT”