08 Aug

Talent Pool Nasional BKN: Profesionalitas Itu Adalah “Bertolak Lebih ke Dalam”

Surabaya - bkd.nttprov.go.id - Senin, 8 Juli 2019, saya dan rekan saya Unun Fernandez berangkat menuju Surabaya. Kami terlibat sebagai asesor dalam kegiatan talent pool nasional yang diselenggarakan oleh BKN di Kantor Regional II BKN Surabaya. Talent Pool merupakan program nasional untuk mendata dan menyiapkan profil SDM Birokrasi yang berkompeten untuk kepentingan pengambilan keputusan strategis tingkat nasional. Demikian kira-kira penjelasan dalam laman resmi BKN http://www.bkn.go.id/produk/assessment-center.

Supranowo Yusuf, SH, MPA, Sekretaris Utama (Sesma) Badan Kepegawaian Negara, dalam sambutannya ketika membuka kegiatan, mengatakan bahwa program Talent Pool BKN semakin mendapat tempat karena relevansinya dengan program strategis nasional Pembangunan SDM yang menjadi salah satu prioritas Presiden Joko Widodo pada periode kedua kepempinannya. Adapun salah satu poin penting dalam Pidato Jokowi adalah rencana mendirikan lembaga khusus untuk menangani manajemen talenta di tingkat nasional.

Peserta Talent Pool kali ini berjumlah 139 orang (dari 174 pendaftar) yang terdiri dari PPT Pratama dan Administrator dari Provinsi dan Kabupaten/Kota di wilayah Jawa Timur. Kegiatan ini melibatkan 14 (empat belas) assessor dan seorang tester. Dari jumlah tersebut, 1 (satu) orang berasal dari Pemprov Jawa Timur, 2 (dua) orang dari Pemrov NTT, dan selebihnya berasal dari Badan Kepegawaian Negara.

Kehadiran asesor dari Pemprov NTT dalam kegiatan tersebut mendapat sambutan khusus dari Sesma BKN Supranowo Yusuf, SH, MPA. Ia menghaturkan terima kasih dan penghargaan atas keterlibatan NTT. Menurutnya, ini bentuk komitmen NTT terhadap manajemen SDM kepegawaian berbasis kompetensi.

Sambutan ini bagi saya adalah hal membanggakan sekaligus menantang. Membanggakan karena ada apresiasi, dan menantang karena saya sadar masih begitu banyak pekerjaan rumah terkait asesmen yang harus diselesaikan di Kupang.

Secara substansial metode dan instrumen asesmen yang digunakan dalam kegiatan ini adalah metode dan instrumen terstandar nasional, yang juga digunakan di Pemprov NTT selama ini. Hal itu membuat kami tidak sulit ketika bergabung.  Yang ada mungkin sedikit sindrom kurang percaya diri sebagai ‘orang daerah’ lantaran ‘dikepung’ para asesor ‘orang pusat’. Perkara biasa tentunya.

Kendati demikin, adaptasi cukup serius harus kami lakukan ihwal kamus kompetensi. Adapun kamus yang digunakan adalah kamus komptensi yang bagi saya dan Unun sifatnya baru samasekali, dengan nama-nama, penjelasan dan level kompetensi yang agak asing. Rasanya seperti ketika pertama kali mendengar kata ‘asesor’ 5 tahun silam saat hendak seleksi CPNS.

Akan tetapi setelah ditelusuri ternyata itu adalah kamus lama yang dibuat dan digunakan jauh sebelum adanya kamus kompetensi versi Perka BKN Nomor 7 Tahun 2013 ataupun versi Permenpan RB Nomor 38 Tahun 2017. Maklum kami baru ikut diklat fungsional asesor awal 2017, sementara assessment center (AC) di BKN sudah dirintis sejak akhir dekade pertama era reformasi, Pemprov Jawa Tengah sejak awal reformasi, PT Telkom sejak 1991, atau kalau mau komparasi yang lebih tua, AC itu sudah dipakai tentara Nazi sejak sebelum Perang Dunia II. Poinnya adalah ada terlalu banyak hal yang masih harus kami dalami dalam assesment center.

Kembali ke masalah kamus. Kamus kompetensi lama tersebut masih digunakan karena program talent pool berlangsung sejak 5 tahun lalu yang merupakan bagian dari RPJMN BKN. Oleh karena itu, selama 5 tahun harus menggunakan kamus dan standar yang sama selama program berlangsung hingga akhir 2019. Mau tak mau, kami harus membacanya secara ‘total’ dan sungguh-sungguh. Pengenalan baru terhadap ‘kamus lama’ ini pun memberikan ‘pelajaran moral’ tersendiri bagi saya.

Pertama, tidak ada kamus yang sempurna. Semua kamus kompetensi memiliki sejarah dan paradigmanya sendiri yang dengan demikian memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kamus versi Permenpan RB Nomor 38 Tahun 2017 yang saat ini wajib digunakan oleh seluruh asesor PNS di Indonesia pun bukanlah kamus yang perfek atau semacam “kitab suci” asesmen yang sifatnya sudah final, tetapi hanyalah instrumen yang masih terus dikembangkan dan harus dikembangkan. Sebagai asesor pun kami tidak boleh berpaku pada narasi kamus atau memahami kamus secara literal. Kami harus paham kerangka pikir di balik sebuah kamus dan menyadari sisi plus sekaligus minusnya.

Kedua, menyesuaikan diri dengan sebuah kamus tidaklah menjadi sulit kalau seorang asesor memiliki kemampuan yang cukup untuk ‘menggali data’ dari asesi. Maksud saya, kekuatan asesor sesungguhnya ada pada keterampilan menggali, terutama dalam melakukan wawancara kompetensi. Dengan demikian apapun model kamusnya, berapapun levelnya, haruslah didukung dengan kemampuan penggalian kompetensi yang kuat, agar profil kompetensi asesi bisa didapat.

Itu tentang kamus. Di samping perkara kamus tersebut, saya juga temukan sesuatu yang menarik, yang sebetulnya sudah lama saya sadari. Di lingkungan BKN ternyata ada begitu banyak asesor yang secara usia jauh lebih muda dari saya. Dulu sewaktu diklat sebagai calon asesor pun beberapa diantaranya mengajar di kelas kami. Akan tetapi mereka tampak begitu cakap dan profesional di bidang tugasnya. Ketrampilan teknis mereka sangat diandalkan. Pemahaman tentang distingsi antarkompetensi begitu jelas. Penguasaan kamus sangat terasa. ‘Feeling untuk menilai level dari data dan informasi yang diterima pun sangat mumpuni. Pokoknya sangat otonom dan terpercaya.

Hal ini pun membuat saya sadar bahwa ukuran profesionalitas bukanlah usia dan masa kerja, melaikan kemampuan belajar untuk menjadi lebih baik. Mereka benar-benar menekuni pekerjaannya, memiliki visi sekaligus merancang langkah-langkah riil untuk mencapainya, memahami konsep besar sekaligus menguasai setiap detail kecilnya secara konkret. Itulah yang bagi saya dinamakan profesionalitas.

Saya teringat salah satu kisah dari Alkitab. Ketika Yesus melihat Simon Petrus tidak mendapat tangkapan ikan, ia menyuruh Simon bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jala. Setelah Simon Petrus dan kawan-kawannya bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jala, mereka pun memperoleh tangkapan besar bahkan hingga jala mereka koyak. Pesan cerita ini bagi saya adalah bahwa ‘tangkapan besar’ itu baru bisa didapatkan manakala kita ‘bertolak ke tempat yang dalam’ (duc in altum), bukan menjala di pinggiran. Begitupun dalam menjalani suatu profesi, hasil yang maksimal diperoleh ketika orang benar-benar bertolak mendalami relung-relung profesi itu secara tekun dengan bersikap profesional. Singkat kata, dari Talent Pool di Kanreg II BKN Surabaya saya sedikit belajar bahwa profesionalitas itu adalah “bertolak lebih ke dalam.”

 

Oleh: Luis Aman (Asessor SDM Aparatur Pertama)

0 Comments

You Might Also Like This

Back to top