07 Jul

Sebuah Catatan Pinggir Acara Pelepasan Pak Maxi Djehadun: Ruang Apresiasi dan Budaya Organisasi

www.bkd.nttprov.go.id -Tentang Pak Maxi Djehadun, ternyata saya tak sendirian berpendapat hal yang sama. Hal ini terungkap pada acara pelepasan purna bhakti om Maxi, Jumat (27/06/219). Pak Guido Joachim Laga Uran, Kasubid Jabatan Struktural, begitu pula ibu Henderina S. Lasikodat, Plt. Kepala BKD, mengungkapkan hal yang sama.

Saya pun memiliki perasaan yang sama persis atau lebih tepat “prasangka” tentang om Maxi. Hal ini terjadi dua minggu yang lalu. 

Awalnya, Senin (17/06/2019), saya mengunjungi tempat kerja lama saya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Di sana, saya bertemu dengan mantan atasan saya, pak John Hani, Kasubag PDE. Terjadi dialog antara kami berdua.

“Pak Goris, ada pegawai BKD yang pensiun ya?”

“Tidak ada bapak.”

“Ada. Orang Manggarai, yang nama Je…” jawabnya tanpa melanjutkan.

“Akh, tidak ada bapak.”

“Tadi namanya dibacakan saat apel kesadaran”, timpalnya.

“Akh, tidak ada orang Manggarai di sana.”

Saya menjawab beliau, tapi pikiran saya kontan menyisir seluruh PNS di lingkup BKD. Saya memang menemukan nama-nama PNS asal Manggarai tetapi menurut saya mereka belum memasuki usia pensiun.

Selain itu, saya berusaha untuk mengingat PNS BKD yang terbilang lebih tua tapi tak satu pun yang kutemukan. Dalam benak saya, usia pensiun PNS di BKD masih lama. Mantan atasan saya menyebut PNS BKD asal Manggarai yang akan pensiun semakin membingungkan saya.

Pak John tak bersoal jawab lagi. Lalu kami beralih ke diskusi yang lain. Sore harinya saya membaca reportase apel kesadaran di Gedung Sasando melalui website BKD. Dua orang perwakilan PNS yang akan menjalani masa purna bhakti menjadi “featured picture” berita tersebut. Salah satunya Om Maxi Djehadun. 

Dua reaksi saya kala membaca berita tersebut. Pertama, pertanyaan mantan atasan saya terjawab. Ternyata, om Maxi Djehadun yang dimaksudkannya. Tetapi saya sedikit sangsi lagi, apa benar Om Maxi berasal dari Manggarai. Sejak om Maxi dan kawan-kawan dari KORPRI bergabung di BKD, saya tak pernah menanyakan asal usulnya. 

Reaksi kedua, saya seolah tak percaya bahwa om Maxi akan pensiun bulan Juli ini. Karena dari penampakan fisiknya atau meminjam istilah pak Guido, casing om Maxi (maaf ya om Maxi, hehe), tak tampak “usia pensiunan”. Di balik rahasia ini, kemudian menginspirasikan kami semua untuk merawat diri agar segar hingga masa purna bhakti setelah om Maxi berbagi tips hidup sehat.

Jumat (27/06/2019), pagi sebelum apel, saya sempat menyalami dan menyapa om Maxi.

“Om mau pensiun, ya?”

“Ya, bulan Juli ini.”

“Saya dua tahun lagi pensiun”, sahut om Blasius Nou, Kasubid Mutasi dan Pensiun Pegawai yang kebetulan berdiri di samping kami.

Jujur, dalam bathin, saya mengatakan seharusnya om Blasius harus lebih dulu pensiun daripada om Maxi (maaf ya om Blas hehe).

Kemudian, seperti biasa sebelum apel, kami berdiri di meja belakang Sekretariat. Saya melihat om Maxi mengenakan sarung yang sangat menyolok warnanya.

“Om Maxi, hebatnya ibu-ibu di kampung bisa menenun kain seperti itu. Daya imaginasi mereka luar biasa sehingga mereka bisa menghasilkan komposisi warna yang indah dipandang mata.”

“Ya, ini tenun asli dari TTU. Ini hanya ada di kampung kami.”

Saya pun semakin bingung dengan kisah dua minggu lalu saat bertemu dengan mantan atasan saya yang mengatakan om Maxi dari Manggarai.

“Om Maxi ini sebenarnya orang mana? Manggarai atau Kefa?” saya membathin.

Pertanyaan itu saya biarkan berlalu dan pula tak bermaksud mencari jawabannya. Waktu jualah yang akan menjawabnya.

Dari kisah ini, menggambarkan diri kita yang cenderung menilai, mengukur dan menginteprestasi dari hal-hal visual atau yang dilihat dengan kasat mata. Kita tak mengira om Maxi yang terlihat segar ternyata sebentar lagi memasuki masa pensiun. Usia biologisnya jauh lebih muda daripada usia kronologis (kelahirannya). 

Dari acara ramah tamah sederhana ini atau meminjam ungkapan ibu Henderina, tak ada emas dan perak yang kami miliki selain acara sederhana ini. Apapun kesederhanaan acara tersebut sebenarnya meninggalkan pesan dan makna yang positif, yakni Keluarga Besar BKD telah dan sedang membangun “budaya organisasi” dalam lingkungannya. Budaya organisasi tak semata-mata soal sistem, tata kerja atau singkatnya rutinitas pekerjaan kantor, melainkan hal-hal positif seperti acara pelepasan PNS purna bhakti, ucapan selamat ulang tahun dan sebagainya. Kebiasaan-kebiasan positif seperti ini terus ditumbuhkembangkan dan dirawat atau diwariskan akan menjadi  bagian dari “budaya organisasi”. 

Maka saya sepakat dengan apa yang disampaikan ibu Maria Ondok, Kabid Disiplin dan Korpri,  pada apel pagi, Jumat (27/06/2019), yang mengingatkan kembali kita semua tentang ucapan ulang tahun pada saat apel pagi. Sesuatu yang positif. Saya sendiri memiliki pengalaman dan menyaksikan tradisi serupa ketika tiap kali menghadiri misa di Holy Spirit Parish Townsville, Australia. Setiap minggu, sebelum perayaan komuni (perjamuan), sang pastor akan memanggil umat yang merayakan ulang tahun dalam sepekan itu untuk tampil di altar kemudian ia memberikan kartu (entah kartu ucapan atau kartu doa) kepada setiap “yubilaris”, setelah itu umat menyanyikan lagu Happy Birthday.

“Budaya organisasi” lain yang coba dibangun, Kabid Pengembangan Pegawai, pak Flafianus Dua, secara spontan meminta Maria Y. Kiak, staf pada Bidang Perencanaan, untuk berbicara dalam bahasa Inggris dalam tempo 2 menit pada kesempatan yang pertama. Minggu berikutnya, pada hari yang sama, ia memberikan kesempatan kepada ibu Delys Abineno, Kasubid Jabatan Fungsional berbicara dalam bahasa Inggris. Hal-hal sederhana tetapi mengena dengan konteks, yakni “English Day” pada setiap hari Rabu. Kemampuan berbicara itu harus ada keberanian. Keberanian itu muncul bila ada kesempatan. Ini permulaan yang baik.

Apa yang dilakukan di atas merupakan bagian dari “tradisi organisasi” dan menjadi “budaya organisasi” jika terus dipertahankan dan dirawat serta diwarisi dari generasi ke generasi. Apa sebab? Hal-hal tersebut di atas adalah contoh-contoh upaya untuk “mengembangkan diri dan orang lain” yang mana  merupakan salah satu kompetensi manajerial (Baca: Permenpan No.38 Tahun 2017).

Akhir kata, tak ada manusia yang sempurna. Setiap manusia adalah sisi baik dan sisi buruknya. Kita dapat belajar dari setiap pribadi apapun kekurangannya karena di dalam kekurangannya ada kelebihan lain yang mungkin kita tak miliki. 

Acara pelepasan PNS purna bhakti tak hanya seremonial melainkan juga merupakan ruang apresiasi bagi mereka yang telah berbakti. Dan, setahu pengalaman dan pertualangan saya ke beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) hingga kembali ke BKD yang ketiga kalinya ini, BKD-lah yang memiliki budaya ini dan konsisten melaksanakan tradisi sebagai sesuatu yang tanpa sadar kita menyebutnya  “budaya organisasi”. 

Ini hanya sebuah catatan pinggir yang kebetulan tak diungkapkan pada acara pelepasan Om Maxi Djehadun, Jumat yang lalu (27/06/2019). Untuk om Maxi, saya mengucapkan selamat memasuki “dunia baru” serta terimakasih atas jasa pengabdian dan kebersamaan kita di BKD. 

Penulis : Gergorius Babo, S.Kom – Kasubid Penilaian Kompetensi dan Kinerja.

0 Comments

You Might Also Like This

Back to top