Pesona Baru di Pulau Semau Buat Kaki Enggan Beranjak

Kupang, BKDNTTPROV.GO.ID - Sabtu, 5 September 2020 adalah hari yang kami nanti-nantikan. Bersama dengan tim media BKD Provinsi NTT, kami diberi kesempatan oleh Kepala Badan Kepegawaian Daerah NTT Henderina S. Laiskodat untuk melakukan perjalanan ke Pulau Semau sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Bimtek Penerapan Teknologi Informasi bagi Tim Media lingkup BKD Provinsi NTT. 

Sehari sebelumnya kami dibekali dengan teori tentang penulisan berita, pembuatan video jurnalis, dan teknik komunikasi yang efektif. Tiba waktunya kami diwajibkan untuk mempraktekkan ilmu yang diperoleh tersebut melalui  perjalanan kami ke Pulau Semau. Dari 16 orang peserta Bimtek, kami dibagi dalam 4 kelompok yang diberi tugas membuat berita dan video liputan perjalanan.

Oh ya, Pulau Semau terletak di Kabupaten Kupang, tepatnya di perairan Laut Sawu. Pulau ini berada di seberang dari Kota Kupang. Untuk menggapai pulau ini hanya bisa menggunakan kapal ferry atau perahu motor. Waktu tempuh berkisar 20-30 menit. Pulau ini memiliki luas 143,42 kilometer persegi. Jumlah penduduk berkisar 8.097 jiwa. Tak banyak orang banyak yang tahu bahwa pulau ini memendam pesona yang mengagumkan.

Kembali tentang perjalanan ke Semau. Ada rasa bahagia dan antusias yang besar dalam diri kami. Karena sebagian besar dari peserta baru pertama kali mengunjungi pulau ini. Beratnya medan yang harus kami tempuh menuju ke tempat-tempat yang ditentukan membuat kami cukup lelah. Banyak  ruas jalan yang belum diaspal apalagi di-hotmix.  Namun itu semua tidak sedikitpun mengurangi semangat kami untuk menelusuri perjalanan dengan sabar sampai Pantai Liman, sebuah pesona baru di Semau Selatan.

Jika rute yang kami tempuh dari dermaga langsung menuju pantai Liman, maka perjalanan hanya memakan waktu sekitar 1.5 jam menggunakan kendaraan bermotor. Tetapi, karena kami harus berkunjung terlebih dahulu ke SMAN 1 Semau Selatan, maka perjalanan kami menjadi sedikit lebih banyak menelan waktu. 

Untuk masuk ke tempat wisata Pantai Liman, kami diharuskan membayar bea masuk. Tarif perorang hanya dikenakan RP. 3.000,-/orang, untuk setiap kendaraan roda 4 dikenakan Rp. 25.000,-,  sedangkan kendaraan roda 2 dikenai tarif Rp. 10.000,-. Harga yang cukup terjangkau. 

Dari pintu masuk sudah terlihat keindahan pantainya. Daya tarik dari pantai ini adalah hamparan pasir putih yang luas dan lautnya yang jernih berwarna biru kehijauan, sehingga menarik minat para pengunjung pantai. 

Rasa lelah dalam perjalanan terbayar ketika memandang keindahan pantai yang luar biasa ini. Pertama kali kami disuguhi pemandangan unik berupa deretan batu karang coklat kehitaman yang berbaris di pinggiran pantai. Tentu saja, kami tak ketinggalan momen untuk mengabadikannya.

Tak lama setelah berfoto ria kami menikmati makan siang di lopo-lopo depan cottage. Menikmatinya dengan lahap sesekali memandang ke arah laut. Selama makan siang, para penjaja kuliner menawari kelapa muda. Perpaduan yang pas, makan siang sambil minum kelapa muda dihiasi pemandangan Pantai Liman yang menawan. 

Obyek wisata ini juga menyiapkan cottage atau penginapan dengan tarif Rp. 500.000/malam, dengan fasilitas yang lengkap seperti tempat tidur dan AC, sehingga memudahkan pengunjung jika ingin bermalam di pantai ini. Sayangnya jumlah kamar yang disediakan hanya 4 buah saja, jadi tidak cukup menampung kami satu tim (panitia dan peserta) yang berjumlah 25 orang.

Ada sebuah spot istimewa yang sangat sayang untuk dilewatkan selain pemandangan Pantai Liman itu sendiri, ya, puncak Bukit Liman. Ini adalah spot paling wajib untuk dikunjungi. Namanya juga bukit, jadi pegunjung harus sedikit berjerih payah untuk mendaki bukit eksotis ini. 

Dari ujung Pantai Liman, kami harus berjalan melintasi hamparan pasir putih nan lembut sekitar 20 menit sebelum mencapai Puncak Bukit Liman. Tetapi, lagi-lagi, karena terpukau dengan pemandangan Pantai Liman, selama perjalanan menyisiri pantai menuju puncak bukit, kami tidak menyia-nyiakannya dengan berlama-lama mengambil potret dengan berbagai pose.

Rute dari kaki ke puncak bukit harus kami tempuh dengan mengeluarkan tenaga ekstra. Bukit Liman memang tidak terlalu tinggi, namun nyatanya beberapa teman memilih untuk tidak menuntaskan tantangan ini. Jerih lelah kami sekali lagi terbayar, setibanya di puncak bukit kami tidak membayangkan akan disuguhi pemandangan menakjubkan. Di dalam hati kami tak henti bersyukur dan memuji kebesaran Sang Pencipta yang telah menciptakan alam ini.

Berdiri di atas bukit sambil memandang ke pantai yang luas benar-benar memanjakan mata. Dilihat dari puncak bukit, Pantai Liman ternyata lebih nyata keindahannya. Keindahannya membuat siapa saja betah berlama-lama disini. Pantai yang benar-benar alami ini sangat layak untuk dikunjungi.     
                       
Setelah puas mengambil gambar dari ketinggian, kami kembali menuruni bukit. Selama perjalanan kami kembali menikmati peristiwa tenggelamnya sinar matahari. 

Saat senja, pasir putih itu berubah menjadi kemerahan berpadu dengan air laut yang turut berubah warna menjadi oranye mengiringi matahari yang perlahan-lahan tenggelam di ufuk barat. Matahari seperti enggan meninggalkan garis edarnya, melukiskan keengganan kami beranjak dari Pantai Liman, Pesona Baru di Selatan Semau.Sungguh eksotis!

Penulis : Maria M. I. W. Regi, S.Kom dan Santa Anna Trihastuti, S.Kom., MIS
Foto: Nico Muni

Berikut link video #Part3 Bimtek : Kunjungan Tim Media ke Pantai Liman Pulau Semau NTT | Badan Kepegawaian Daerah Provinsi NTT

#BKDNTT #PROVINSINTT #PANTAILIMAN #TIMMEDIABKDNTT #BIMTEK #PENERAPANTEKNOLOGIINFORMASI #KOTAKUPANG #KABUPATENKUPANG #PANTAILIMAN #PULAUSEMAU