08 Aug

BKD Provinsi NTT Berkabung: Catatan Mengenang Kepergian Pak Marten Missa

www.bkd.nttprov.go.id - Ya, kematian itu. Misteri. Datang seperti mimpi. Sekejap pun hilang. Meninggalkan duka, tangis, dan kepedihan yang mendalam. Tak ada yang sanggup membendung kematian bila waktunya tiba. 

Suasana bathin itulah yang kami alami sesaat setelah menerima kabar kepergian Om Marthen dari rahim pertiwi ini. Karena sehari sebelumnya ia tampak sehat, bercanda dan menjalani rutinitas kantor.

Mendengar kabar itu, Ibu Delys (Kasubid Jabatan Fungsional) tak percaya. Memarahi. Siapa lagi yang membuat canda gila di group whatsapp (Group Pengembangan), akuinya setiba di kantor. Ternyata benar adanya, Om Marthen telah wafat dini hari tadi, Kamis (22/08/2019).

Sebelum kematian merenggut Om Marthen, saya ingin menulis banyak hal sejak saya dipercayakan sebagai Kasubid Penilaian Kompetensi dan Kinerja BKD Provinsi NTT. Kita tak bisa mengatakan pernah ada di suatu tempat jika kita tak mengabadikan dalam sebuah tulisan. Kita tak pula mengatakan setiap peristiwa hidup sehari-hari sia-sia. Semuanya selalu bermakna. Pertanyaannya, apakah kita mau mengais makna itu atau tidak? Dan mengabadikanya?

Dalam bathin, nama Om Marthen menjadi target “obyek” penulisan. Tak berlebihan. Bukan karena ada sesuatu yang luar biasa pada dirinya. Sesuatu yang biasa ada padanya dan saya memandangnya dengan cara luar biasa sehingga Om Marthen menjadi sosok yang luar biasa – begitupula setiap pribadi kita.

Sebagai “pemimpin kecil”, saya mengingstilakan untuk diri sendiri, kita perlu banyak belajar dari siapapun – seorang staf sekalipun. Di dalam diri seorang staf memiliki potensi yang luar biasa dan dapat dijadikan referensi kepemimpinan dalam menahkodai organisasi. 

Awal keinginan saya untuk menulis tentang Om Marthen pasca rapat staf Bidang Pengembangan di ruang Kabid Pengembangan kala itu pak Flafianus Dua. Rapat perdana sejak pelantikan pejabat struktural di Lingkup Pemerintah Provinsi NTT 21 Februari 2019. Dampak restrukturisasi organisasi, Bidang Pengembangan terbagi menjadi tiga sub bidang, yakni Sub Bidang Fungsional, Sub Bidang Struktural dan Sub Bidang Penilaian Kompetensi dan Kinerja. Subbidang terakhir adalah sub bidang yang baru, memiliki tanggung jawab dua tugas utama, yakni Penilaian Kompetensi dan Penilaian Kinerja. Sub bidang terakhir paling banyak dibahas sehingga muncul istilah “minlap” dalam diskusi.

Usai rapat, Om Marthen mendatangi saya, “Kaka, Minlap itu apa?”

“Minlap? Yang penting Bu (sapaan itu lak-laki Timor) mahir komputer. Di luar ada banyak komputer, Bu mulai belajar dari sekarang.”

Ya, menjadi Minlap harus memiliki computer skills untuk menunjang pekerjaan administrator dan assessor di lapangan. Saya menantangnya untuk belajar komputer.

Beberapa hari kemudian bila tak ada kesibukan, Om Marthen duduk di Sub Bidang Penilaian Kompetensi dan Kinerja. Saya tidak mengajarkan banyak hal. Hanya mengarahkan menghidupkan dan mematikan komputer serta membuka aplikasi Microsoft Word, selanjutnya ia sendiri latih mengetik. Om Marthen lakukan latihan meskipun ia harus “lari-lari” dengan kesibukan tugas utamanya sebagai agendaris di Sub Jabatan Struktural bahkan Bidang Pengembangan secara keseluruhan.

Awal Agustus lalu, Sub Bidang Penilaian Kompetensi dan Kinerja melaksanakan Kegiatan Uji Kompetensi yang merupakan kegiatan besar di Bidang Pengembangan. Kegiatan terbagi dalam lima kegiatan dan dilaksanakan secara marathon. Tentu saja, semua pimpinan dan staf Bidang Pengembangan dilibatkan dalam kegiatan ini.

Kegiatan dimulai dengan Uji Kompetensi Pejabat Pengawas Tahap I. Hari itu dimulai dengan rapat persiapan di ruang Pejabat Pengawas. Pak Kabid Pengembangan berhalangan hadir, rapat dipimpin secara bergilir oleh saya, pak Guido (Mantan Kasubid Jabatan Struktural) dan ibu Delys. Sesi terakhir, kami mengajukan pertanyaan kepada staf, barangkali ada usul saran yang mau disampaikan.

“Kran” ini dibuka akhirnya memicu keberanian staf untuk berpendapat. Om Marthen, salah satu staf, yang menyampaikan pendapat dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa Indonesia yang baku. Suasana rapat yang hening berubah riuh dan tawa karena Om Marthen berbicara sangat formil. 

Situasi ini menarik karena Om Marthen sangat serius menyampaikan gagasannya dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Saya tak mengira Om Marthen berbicara sebaik ini. Saya pun tak sanggup berbicara runtun, sistimatis dan taat tata bahasa. Tapi Om Marthen melakukannya dengan baik. Ini menjadi cerminan dalam diri Om Marthen. Hal-hal administrasi di kantor sangat rapih, serapih ia bertutur pada rapat tersebut.

Saya percaya setiap orang memiliki potensi dalam dirinya. Potensi itu akan muncul bila diberi kesempatan. Kesempatan memupuk keberanian. Itu saya lihat dalam diri Om Marten sore itu. 

Atas keputusan bersama, saya,  Pak Flafi, pak Guido dan Ibu Delys memutuskan Om Marthen sebagai Minlap pada Kegiatan Uji Kompetensi Pejabat Pelaksana Tahap III. Om Marthen tampak antusias dan serius mengikuti setiap rangkaian kegiatan mulai hari persiapan, kegiatan berlangsung hingga kegiatan berakhir.

Suatu hari pak Fidie Siokain bertemu saya dan sempat bercanda. Ia berkomentar, “Kami punya Minlap kurang satu sa.”

“Apa itu?”

“Sepotong kayu. Beliau jalan keliling dengan tangan talipat belakang mengawasi peserta ujian.”

Memang itulah kesan Om Marthen menjalankan tugas sebagai seorang Minlap. Ia tak hanya sebagai seorang Minlap juga berperan sebagai pengawas. Terlihat sesi psikotest, om Marthen bergerak mengawasi peserta di ruang test.

Ia sangat tertib administrasi. Tak hanya saat kegiatan. Di kantor sekalipun, bila ada surat yang telah diagendakannya, ia tak sungkan-sungkan menyodorkan buku agenda surat masuk untuk ditandatangani pejabat pengawas. Tak peduli pejabat pengawas tersebut sedang berbicara dengan tamu atau tidak. Kadang terkesan “tak sopan” tetapi itulah Om Marthen ia melakukannya dengan tanggung jawab dan tuntas – tak mau menunda-menunda.

Tanggung jawabnya sebagai Minlap tak hanya urusan administrasi belaka. Sejak ia memiliki HP Android dan ia mulai belajar Whatsapp, menjelang makan siang ia selalu mengirim kabar kepada kami dengan bahasa Indonesia yang sangat formil.

“Pak Kabid, para kasubid dan teman2 semua, kami informasikan bahwa makan siang sudah siap. Tks.”

Suatu hari, saya baru saja tiba di hotel. Selesai makan, saya mengambil segelas es buah. Saya belum sempat minum, Om Marthen langsung menyodorkan absen.

“Bu, tidak bisa begitu. Saya baru mau minum es buah, Bu langsung sodorkan absen. Karamana, nih?” Saya berkelakar.

Om Marthen hanya tersenyum. Seperti biasa. Ia tak banyak berkata-kata. Tak pula dendam. Dia tetap memaku di tempat. Lalu saya melanjutkan dan bercanda, “Saya Kasubid.”

“Bu, Kasubid tetapi kita kawan to,” timpalnya.

Kata-kata saya diatas sekedar bercanda. Saya merasa tak ada batas. Jauh sebelumnya saya kembali ke BKD, saya telah mengenalnya sejak BKD masih berbentuk Biro Kepegawaian. Begitulah Om Marthen. Ia bisa juga bercanda dengan siapa. Sehingga teman-teman di Bidang Pengembangan sering menyaksikan jikalau Om Marthen sering berkelakar dengan saya.

Selain Minlap, pada kesempatan ibu memaparkan Materi bagi peserta Uji Kompetensi Pejabat Pelaksana Tahap III, saya tugaskan lagi Om Marten sebagai asisten sorot (Asrot). Om Marthen melakukan dengan baik, meskipun bagi orang yang familiar dengan komputer menganggapnya mudah. Tapi bagi saya, level seorang Marthen Missa adalah hal yang luar biasa.

Menjelang Kegiatan Pejabat Pengawas dan Administrator, satu tugas yang harus diselesaikan, terkait dengan koordinasi/konsultasi dengan UPT Penilaian Kompetensi BKD Provinsi Jawa Tengah. Om Marten dan saya ditugaskan oleh Kepala BKD Provinsi NTT. 

“Om Marthen siap?”

“Siap kaka.”

“Kapan kita berangkat kaka?”

“Hari Kami sore, bu. Kita tetap masuk pagi tapi tak usah absen.”

Om Marthen melaksanakan sesuai instruksi saya. Kepatuhan dan ketaatan dua hal yang mirip-mirip tetapi berbeda – versi saya. Kepatuhan terhadap regulasi, ketaatan terhadap figur/pribadi misalnya atasan. Om Marthen berada di level ini. Ia tak saja patuh pula taat. 

Saya melihat Om Marthen sangat bahagia dengan perjalanan ke Semarang. Aura wajah bahagianya terpancar sepanjang perjalanan Kupang-Semarang. Pancaran kebahagiaan itu tetap terpancar pula sekembali dari Semarang. 

Saya sempat bercanda, “Uang yang diterima dari perjalanan harus dibawa pulang ke istri o?”

“Ya, kaka. Saya mau pakai untuk memperbaiki kubu bai (kakek) di kampung. Kalau kita sudah omong harus laksanakan, kalau tidak bisa bahaya. Saya mau ajukan cuti minggu depan.”

Kalimat itu yang sering diucapkan kepada saya baik di Semarang maupun setelah tiba di Kupang. Om Marthen telah berjanji untuk memperbaiki kubur kakeknya di kampung halamannya, sayangnya kubur itu belum sempat diperbaiki ia lebih dahulu menyusul kakek/leluhurnya.

Pada kegiatan Uji Kompetensi Pejabat Pengawas dan Administrator, saya memintanya untuk mendokumentasi kegiatan dalam bentuk video. Ia menyanggupinya. Ternyata, ia melakukan tugas itu dengan sempurna.

Dari kisah saya kecil ini, ada pengalaman unik. Pengalaman itu bahwa Om Marthen mampu meng-upgrade dirinya dengan berbagai skills – asalkan kita mau mendorongnya.  Dari yang tidak bisa komputer, ia sudah mulai bisa menghidupkan dan mematikan komputer. Mengetik dan klik sana-sini. 

Dari tidak tahu apa itu “asrot”, ia sudah bisa menjadi “asrot” saat ibu Kepala BKD Henderina S. Laiskodat membawakan materi pada Uji Kompetensi Pejabat Pelaksana Tahap III. 

Dari yang tidak mengenal “selfi” dan mungkin juga “tik-tok”, Om Marthen mulai pandai memainkan kamera. Beberapa foto dan video Kegiatan Uji Kompetensi adalah hasil karyanya. Mungkin inilah yang hendak ditinggalkannya, selain nama dan warisan nilai-nilai hidupnya. 

Om Marthen telah membuktikan diri. Saya bisa! Memampukan dirinya untuk belajar hal-hal baru (skills) meskipun dalam kondisi keterbatasan. Selamat jalan Om Marthen. Terima kasih banyak untuk jasa baikmu bagi kami di Bidang Pengembangan dan Keluarga Besar BKD Provinsi NTT seutuhnya. *

Gergorius Babo, S.Kom
Kasubid Penialain Kompetensi dan Kinerja
BKD Provinsi NTT

0 Comments

You Might Also Like This

Back to top