Kupang- bkd.nttprov.go.id – Badan Kepegawaian Daerah Provinsi NTT (BKD Provinsi NTT) menggelar kegiatan Pembinaan Rohani Gabungan anggota KORPRI Lingkup Pemerintah Provinsi NTT pada hari Jumat, 23/10/2020, bertempat di ruang Sekretariat Kantor BKD Provinsi NTT. Kegiatan Pembinaan Rohani Gabungan ini merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap bulan dengan menghadirkan tokoh-tokoh agama sebagai narasumber baik dari Agama Islam, Agama Katholik, Agama Kristen Protestan maupun Agama Hindu. Sejak masa Pandemi Virus Corona, oleh Badan Kepegawaian Daerah Provinsi NTT kegiatan ini terhitung sudah 3 kali diselenggarakan secara virtual melalui aplikasi Zoom Meeting dan disiarkan livestreaming melalui kanal youtube Badan Kepegawaian Daerah Provinsi NTT. Namun, baru untuk yang pertama kalinya di bulan oktober ini, kegiatan Pembinaan Rohani secara virtual ini diselenggarakan langsung dari kantor BKD Provinsi NTT dengan melibatkan tim media BKD Provinsi NTT.
Kegiatan ini mengangkat tema umum yakni “Mari Menjadikan Sesama ASN Sebagai Teman Yang Baik Dan Nyaman Dalam Berkarya”. Mengacu pada tema tersebut masing-masing rohaniwan yang menjadi pembicara menyampaikan renungan dengan inti renungan sebagai berikut :
Rohaniwan Islam: Drs. H. Masdriyansyah
Pepatah mengatakan : “Seribu teman terasa sedikit, sedangkan satu musuh terlalu banyak.” Orang bijak berkata kepada anaknya: “whai anakku, apabila engkau memasuki suatu daerah, maka carilah teman yang banyak, maka musuh tidaklah akan terlintas dalam pikiran yang menggelisahkanmu.” Seorang penyair juga mengatakan: “Tiada guna bagimu, mendengki atau memusuhi, maka carilah teman sebanyak kau bisa.” Ada pula yang mengatakan: “Pastikan teman sebelum melakukan perjalanan.”
Kalimat-kalimat tersebut adalah ajakan, himbauan, atau seruan untuk memperbanyak teman, sahabat, atau kawan, dan bukan lawan. Seruan-seruan itu menunjukkan bahwa teman, kawan, atau sahabat mempunyai makna dan posisi yang sangat penting bagi setiap orang. Dengan banyak teman di sekeliling kita, sekurang-kurangnya, kita merasa tidak sendirian. Semakin bayak teman, semakin kita merasa tidak sendirian, kesepian, dan terasing. Dengan merasa tidak sendirian dan kesepian, beban kita akan menjadi lebih ringan ketika kita sedang mengalami kesulitan. Memang ada pula orang yang hidup ditengah keramaian banyak orang orang, akan tetapi dia merasa sendirian dan kesepian. Itu karena dia menganggap orang-orang di sekitarnya bukan sebagai teman.
Teman yang dimaksud di sini bukan sekedar orang yang bersama-sama kita atau yang ada di sekeliling kita. Di dalam suatu perjalanan dengan menggunakan kendaraan umum, melaui darat, laut, atau udara, tentu kita tidak sendirian, melainkan bersama-sama dengan orang lain. Mereka adalah teman seperjalanan, tetapi belum tentu kita kenal mereka, siapa nama, berasal dari mana, bekerja di bidang apa, di mana, dan sebagainya, bahkan meskipun terhadap orang yang satu tempat duduk dengan kita. Ketika kita tinggal di suatu tempat, misalnya di suatu desa atau kelurahan, atau RT, tentu kita tinggal bersama-sama orang lain yang menjadi penduduk tempat itu; mereka adalah teman sedesa, sekelurahan, atau se RT, tetapi belum tentu kita kenal satu-persatu dari mereka secara baik. Ketika kita bekerja di suatu tempat, misalkan sebagai ASN di suatu instansi, kita tentu bersama-sama dengan ASN-ASN yang lain di instansi itu, mereka adalah teman-teman sekerja, tetapi belum tentu mereka semua kita kenal satu persatu secara baik. Mereka semua adalah teman, dalam pengertian orang-orang yang bersama-sama kita dalam perjalanan, satu daerah, atau dalam satu pekerjaan. Bukanlah teman dalam pengertia itu dimaksudkan, melankan teman yang baik.
Teman yang baik adalah orang yang kita kenal secara pribadi, bukan hanya dari segi profesi atau posisi. Ada beberapa ciri untuk disebut sebagainteman yang baik. Di dalam sebuah hadits yang diceritakan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Huzaimah, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban, Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Sebaik-baik teman adalah orang yang paling baik kepada temannya.
Di dalam hadits lain Nabi s.a.w. membuat perumpamaan mengenai teman yang baik. Beliau bersabda:
“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalau pun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalau pun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Alqomah al-’Athoridiy, seorang ‘ulama dari kalangan tabi’in menasehati anaknya:
Wahai anakku, sekiranya engkau merasa perlu untuk bersahabat dengan seseorang, maka pilihlah orang yang sifatnya seperti berikut:
- Suka melindungi sahabatnya, dia adalah hiasan diri kita dan jika kita dalam kekurangan nafkah, dia suka mencukupi keperluan.
- Apabila engkau menghulurkan tangan untuk memberikan jasa baik atau bantuanmu, ia suka menerima dengan rasa terharu dan dianggap sangat berguna.
- Jikalau ia melihat kebaikan yang ada pada dirimu, ia suka menyebutnya, dan jika ia mengetahui keburukan dirimu ia suka menutupinya.
- Jika engkau meminta sesuatu, pasti ia beri,
- jika engkau diam, dia mulai menyapamu dulu,
- jika ada kesulitan dan kesedihan yang menimpa dirimu, dia suka membantu dan meringankanmu serta menghiburmu.
- Jika engkau berkata, ia suka memperbaiki ucapanmu dan bukan hanya mempercayainya saja.
- Jika engkau mengemukakan suatu persoalan yang berat dia suka mengusahakannya.
- Jika engkau berselisih dengannya, dia suka mengalah untuk kepentinganmu.
- Bersahabat dengan orang yang budi dan imannya lebih rendah sangat berbahaya, sebab persahabatan itu saling pengaruh-mempengaruhi.
Ibnu ‘Athoillah as-Sakandariy seorang sufi terkenal mengatakan: “Janganlah bersahabat dengan orang yang perilakunya dan kata-katanya tidak membangkitkanmu untuk menuju kepada jalan Tuhan, Allah SWT.”
Bagaimana menciptakan teman yang baik?
- Kenalilah seseorang secara pribadi, bukan hanya kedudukannya, pekerjaannya, atau profesinya.
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (al-Hujurat ayat 13).
- Berbuat baiklah kepadanya
- Kalau dia mengalami kesulitan, bantulah untuk mendapatkan kemudahan selama engkau mampu
Allah berfirman: “Dan tolong – menolonglah kalian pada kebajikandan ketaqwaan , dan jangan lah kalian tolong – menolong pada perbuatan dosa danpelanggaran , dan bertaqwa-lah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah amatberat siksaannya ( Al maidah ,5 : 2 )
- Hati-hati dalam berbuat maupun berkata-kata, agar tidak menyinggung perasaannya
Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Barangsiapa mengaku beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah ia berkata-kata yang baik, atau (kalau tidak bisa berkata-kata baik, maka) diamlah.”
- Hendaklah senantiasa berbaik sangka (husnuzh-zhon) kepada orang lain
- Lakukan klrifikasi manakala ada kesalah-fahaman.
Dalam hadits lain, beliau bersabda: “Yang dinamakan seorang muslim adalah apabila manusia di sekitrnya merasa aman dari gangguan tangan maupun lidahnya.”
Segeralah minta maaf dengan tulus manakala ada kesalahan yang anda lakukan, dan maafkanlah juga secara tulus manakala dia melakukan kesalahan kepada anda
Apabila telah terjadi hubungan pertemanan atau persahabatan, maka kewajiban selanjutnya adalah menjaga kelestarian pertemanan yang baik itu.
Dengan terjadinya perteman yang baik di antara ASN maka insyaallah suasana kerja terrasa nyaman, pekerjaan akan berjalan lebih baik, lebih mudah dilaksanakan, karena terjadi suasana saling membantu, dan tujuan serta keberhasilan akan dapat dicapai dengan sebaik-baiknya.
Rohaniwan Hindu: Prof. Dr. I Gusti Bagus Arjana, M.S.
Kodrat manusia individual sekaligus komunal, komunitas, masyarakat, bersuku/beretnik, berras. Kodrat manusia juga berktifitas berpolitik, berekonomi, bersosialisasi, berbudaya, kodrat manusia memiliki pekerjaan, berpendidikan, beragama. Kodrat itu menjadi ciri yang harus dijaga bersama melalui persahabatan. Dalam bidang ekonomi bentuknya adalah pekerjaan: petani/ peladang/nelayan. pekerja/buruh, pedagang, penjual jasa, pekerja sosial, guru, TNI, Polri, pegawai swasta, pegawai pemerintah: PNS/ASN. Banyak kegiatan, pekerjaan, aktivitas tidak bisa diselesaikan sendiri, namun harus bersama-sama dengan teman, kelompok, dalam tim, atau bergotong royong, berkerumun. Contoh aktual sekarang adalah bagimana secara bersama-sama menghadapi pandemi Covid-19.
Seorang ASN agar dapat berkarir dengan baik, dituntut disiplin, trampil, mampu berkomunukasi yang baik, berprestai sehingga dapat dipromosikan untuk menduduki jenjang tertentu. Karakter yang tidak menunjang dan menghambat dalam berprestai adalah: jiwa yang individual, tidak disiplin, egois, sombong, angkuh, melecehkan orang lain, kurang bisa berkomunikasi, kurang bergaul, kurang bersosialisasi, fanatik dalam beragama, dampak dari berkarakter seperti itu adalah tidak bisa menjaga pertemanan, persahabatn tidak bisa mewujudkan kondisi kondusif atau nyaman dalam lingkungan kerja.
A. Membangun Persahabatan/ Yang Baik dan Nyaman
Instrumen dan asesoris untuk menjaga kodrat dan atribut sebagai manusia adalah memiliki pengetahuan, wawasan, bersikap dan bertindak yang dilandasi mentalitas pribadi yang berkarakter baik. Di antara banyak rambu-rambu mental, rohani, rambu-rambu sosial, rambu-rambu hokum, tradisi, adat, yang bersifat mutlak, absolut adalah rambu-rambu rohani atau agama/keyakinan.
Dalam perspektif agama Hindu ada beberapa rambu-rambu rohani untuk dapat mewujudkan persahabatan kondisi yang nyaman dalam lingkungan kerja maupun lingkungan masyarakat yang lebih luas. Untuk itu dikenal tujuan agama Hindu: “Moksartham Jagadhita Ya Ca iti Dharma” (Dharma atau agama bertujuan mencapai kedamaian rohani yang abadi dan kesejahteraan seluruh mahluk. (Parisadha Hindu Dharma, 1967 ). Tujuan ini dapat dicapai melalui kemampuan mewujudkan kehidupan yang santhi lan jagadhita, damai dan sejahtera.
Di samping itu dikenal juga filsafat hidup Hindu yakni “Tat twam asi” (Candogya Upanishad) artinya aku adalah engkau, ini berarti diri pribadi aku sama dengan engkau berada dalam ikatan spiritual yang sublim. Merendahkan orang lain atau engkau, sama dengan merendahkan diri sendiri, menyusahkan orang lain, engkau berarti menyusahkan diri sendiri. Filsafat ini merupakan ajaran yang sangat mendasar untuk memperkuat persaudaraan yang sejati karena semua manusia/mahluk sesungguhnya bersumber dari sumber yang sama yakni Tuhan Maha Pencipta, Juga diperkuat lagi dengan filsafat hidup yang yang hakiki dan universal dalam ajaran Hindu adalah Vasu Dewa Kutumbhakam, artinya: Semua manusia di dunia adalah bersaudara.
Filsafat hidup universal sebagai manusia yang harus dapat menjaga keharmonisan dan sujud bhakti kepada Tuhan, kepada sesama, siapapun dia, dan kepada lingkungan sebagai tempat mengambil berbagai sumberdaya untuk menunjang kehidupan dan sebagai tempat menyelenggarakan kehidupan, ini dikenal sebagai Tri Hita Karana: tri = tiga, hita = kebahagiaan dan karana adalah penyebab. Jadi artinya “Tiga Penyebab Kebahagiaan”. Tiga unsur hakiki ini membentuk segitiga kehidupan sebagai the golden triangle, Tiga unsur tersebut adalah:
1. Parahyangan adalah hubungan manusia dengan Tuhan sebagai Pencipta,
2. Pawongan adalah hubungan manusia dengan sesamanya dan
3. Palemahan adalah hubungan manusia dengan lingkungan alamnya.
Pertemanan dan persahabatan yang baik sesama ASN bukanlah pembauran total kehidupan, laksana “kopi dan susu” lebur menjadi satu, menjadi minuman lezat secangkir kopi susu, tetapi biarlah hidup untuk berteman, bersahabat ini laksana “minyak dan air”, sulit menjadi satu tapi dapat bersanding, berdampingan secara damai, untuk bersama-sama sebagai ASN dapat mewujudkan pengabdian yang tulus kepada masyarakat, daerah, kepada nusa dan bangsa.
B. Berkarya Bersama Untuk Negeri
Pengabdian bersama ASN untuk daerah NTT dan dalam lingkup lebih luas, untuk nusa dan bangsa harus disyukuri dan dijalani dengan tulus dalam situasi yang kondusif dan damai. Jadilah ASN yang aktif, kreatif, produktif, inovatif dan kompetitif (lima tif). Untuk memperkuat kebersamaan dalam meningkatkan pengabdian. Renungkanlah beberapa baris pantun yang bersifat edukatif, berikut ini berjudul: PERCUMA.
PERCUMA
Percuma berteman jika terus merasa tidak nyaman
Percuma berteman baik, jika masih ada perasaan tercabik-cabik
Percuma berkawan, jika masih menganggap sebagai lawan
Percuma bersahabat, jika masih ada pikiran untuk saling babat
Percuma saling menghargai, jika masih ada saling mencurigai
Percuma bertoleransi, jika masih dibelenggu ambisi
Percuma jadi ASN ingin berkarya, jika yang dipikir hanya untuk kaya raya.
Percuma jadi ASN ingin berkarir, jika tidak bisa ikut mikir, dan sering telat mikir
Percuma jadi ASN ingin berprestasi, tapi tidak memiliki kompetensi
Percuma jadi ASN produktif kalau tidak dilandasi ide kreatif dan inovatif
Percuma jadi ASN bilang ayo bangkit, kalau pikiran masih sakit-sakit
Percuma jadi ASN bilang ayo wujudkan sejahtera, kalau kerjanya hanya pura-pura
Percuma jadi ASN berkinerja seperti orang sakit, tentu tidak bisa
bersama mewujudkan NTT bangkit
Percuma jadi ASN jika hidup diselimuti duka lara, tentu tidak bisa
berersama mewujudkan NTT sejahtera
Sesama ASN adalah teman, sahabat, saudara seperjuangan, seprofesi, hindari rasa dengki, iri hati, syakwasangka, cemburu, bekerjalah dan berjalan bersama secara solid dan sinergis untuk meningkatkan pengabdian, agar dapat bersama-sama mewujudkan visi pembangunan Gubernur/Wakil Gubernur, NTT bangkit menuju NTT sejahtera.
Rohaniwan Khatolik : Romo Longginus Bone, Pr
(Lukas 10:25-37)
Dalam enseklik Fratelli tutti, yang baru-baru ini dikeluarkan oleh paus Fransiskus ketika ia mengunjungi Basilika Santu Fransiskus Asisi, Santu Bapak mengatakan bahwa "persaudaraan dan persahabatan sosial adalah jalan untuk membangun dunia yang lebih baik, adil dan damai, dengan kontribusi semua orang dan pihak. Sehingga ia mendeskribsikannya (fratelli tutti) sebagai “Ensiklik Sosial”.
“Tanda-tanda zaman menunjukkan dengan jelas bahwa persaudaraan manusia dan pemeliharaan ciptaan merupakan satu-satunya jalan menuju pembangunan integral dan perdamaian,” lanjut Paus.
Paus mengatakan bahwa kata “Fratelli tutti” terinspirasi dari judul “Nasihat” Santo Fransiskus dari Assisi.
“Santo Fransiskus dari Assisi, yang menggunakan kata-kata ini untuk menyapa saudara-saudaranya dan para suster dan mengusulkan kepada mereka suatu cara hidup yang ditandai dengan cita rasa Injil. Sang pendahulunya ini tidak mengobarkan perang kata-kata yang bertujuan memaksakan doktrin; ia hanya menyebarkan kasih Tuhan,” jelas Paus.
Adapun tujuan dari Ensiklik ini adalah untuk mempromosikan aspirasi universal menuju persaudaraan dan persahabatan sosial.Berawal dengan keanggotaan bersama dalam keluarga manusia, dari pengakuan bahwa kita adalah saudara dan saudari karena anak dari satu Pencipta.
“Semua dalam perahu yang sama, dan karenanya kita perlu menyadari bahwa di dunia yang terglobalisasi dan saling berhubungan, hanya dengan bersama-samalah kita dapat diselamatkan.” kata Paus.
Cinta itu ibarat cincin yang tidak memiliki tepi, demikian persahabatan pun tak boleh bertepi.Tetapi persahabatan harus menjangkau setiap manusia dan membawa manusia kembali bererat hubungan setelah didapatinya berada di tepian jurang kejatuhan. Ke mana saja kita berlangkah, tapak-tapak kaki kita akan selalu tertuju kepada sesama. Maka untuk sebuah persaudaraan kita perlu melangkah mendekat, mencari yang tercerai dan menyatukan yang terpisah dalam satu nada bersatu. Dan demi kebersamaan sebagai satu Keluarga Umat Allah, pada kesempatan ini, kita berada di tempat ini, maupun yang ikut lewat virtual untuk mengikuti Pembinaan Rohani yang terjadi sebulan sekali. Kebersamaan, persaudaraan, kekeluargaan sebagai satu umat Allah yang percaya kepada Allah dalam nuansa seperti ini menjadi lukisan yang memperlihatkan bagi kita betapa indahnya persahabatan, betapa indahnya sebuah persaudaraan sebagai insan-insan Pelayan.Keindahan persahabatan itulah yang harus dirayakan. Pembinaan Rohani bersama pada kesempatan ini merupakan sebuah pesta bagi persaudaraan, bagi kekeluargaan di antara kita Para ASN Prov. NTT.
Persahabatan ASN harus menjadi aklamasi-seruan bersama. Tanpa persahabatan, tiada ada kerja sama. Tanpa persahabatan tidak ada kemenangan. Tanpa persahabatan kita akan sendiri. Dengan persahabatan, keberbedaan menjadi seni hidup bersama yang mesti dijaga dalam satuan kerja sama ASN prop NTT.
Dalam ceritera Injil Lukas yang baru saja kita dengar tadi, Yesus menjawab pertanyaan seorang ahli Taurat Yahudi tentang kasih terhadap "sesama".Yesus memberikan (dengan bercerita) suatu perumpamaan tentang seorang Samaria yang baik hati.Dalam masyarakat Yahudi waktu itu ada perbedaan pendapat mengenai siapakah sebenarnya dapat disebut sesama sebagai warga Israel. Pada umumnya orang yang dianggap sebagai "sesama" ialah warga Yahudi setanah air, atau seorang warga negara lain namun sudah menjadi warga Yahudi. Tetapi bagi Yesus kategori "sesama" bersifat universal, bukan khusus, partikulir atau bersyarat. Pandangan tentang sesama bukan dilihat dari segi hubungan keluarga, etnis, suku, agama, melainkan dari segi humanitas atau kemanusiaan bahkan musuh atau lawan kita pun adalah sesama kita juga! Tetapi dalam kenyataannya orang-orang Yahudi "tidak bergaul dengan orang Samaria" (Yoh 4:9).Orang Samaria adalah penduduk pendatang dari luar negeri, bukanlah orang Yahudi.
Dalam perumpamaan itu Yesus mengajarkan kepada kita, bahwa kasih yang universal itu harus nyata dihayati secara kongkret.Konkretisasi kasih adalah kemestian bukan sebuah probabilitas.Bagaimana perilaku orang Samaria dalam perumpamaan itu?Ia sedang menunjukkan kemestian kasih. Seandainya ia acuh tak acuh dan melewatinya saja, bukankah sikapnya itu sangat memalukan? Tetapi bukan demikianlah sikap orang Samaria itu.Ia justru langsung menolong dan berusaha menyelamatkan si korban, membawanya ke tempat di mana ia dapat dilayani. Bahkan ia bersedia akan membayarnya lagi apabila ada kelebihan biaya yang harus dilunasi.Samarian yang kafir, tetapi hatinya yang penuh kasih.Samarian yang asing tetapi tak asing dengan kepedulian.Samarian yang dibenci tetapi penuh cinta.Samarian yang dijauhi tetapi yang mendekati yang menderita. Samarian yang tak boleh menjadi sahabat justru ia yang melakukan tindakan persahabatan kepada orang yang menderita di jalan ke Yerikho.
Saudara/i ASN, kalau yang asing dan kafir, yang tak berTuhan saja tahu melakukan kasih, lantas kita yang tiap hari doa penuh mulut, bicara sedikit sebut nama Tuhan, janji sedikit bawa nana Tuhan, tiap hari bersama dengan alkitab, rosario, mada bakti, puji syukur dong tu…...malah menghindari sesama yang menderita dan tertekan karena diomelin, dijelekkan, diberi surat peringatan, kita gosip, lengkaplah penderitaan teman kerja kita. Jika demikian, kita adalah farisi-imam, kaum lewi yang hanya lihat tapi melewati orang itu.Kita dekat dengan Tuhan tetapi jauh dari sahabat dan menjauhkan diri dari kebersamaan. Ini bukan cara Kristen, bukan cara katolik, tapi ini cara orang licik, yang mau enak di mana lingkar di situ. Orang beriman tak boleh kalah kasih, tak boleh kalah sahabat dengan yang tak beriman. Remmeber it!!!
Yesus menyampaikan kepada kita suatu pelajaran baru, pandangan baru tentang sesama, bukan bertentangan dengannya melainkan untuk melengkapinya: Janganlah kita menunggu dahulu sampai sesama kita yang menderita itu menjumpai kita, atau mungkin kebetulan berjumpa. Kita harus selalu siap mengenal atau mencari "sesama" kita itu! Kita semua terpanggil menjadi sesama dan berbuat bagi sesama. Bukan hanya menunggu! Apalagi acuh tak acuh terhadap keadaan sesama! Kita harus menjemput mereka dengan kasih, melawat mereka dengan cinta, merawat mereka dengan hati. Menasehati mereka dengan kata motivasi dan menyanjung mereka dengan hormat agar teman yang memiliki masalah tak merasa sendirian tetapi selalu merasakan bahwa ia tak pernah sendirian. ASN HARUS MELAKUKAN ITU. Ikut cara hidup Yesus yang tak pernah berpikir tuk dirinya tetapi selalu berpikir tentang keselamatan kita.
Bagi kita semua, perumpamaan ini dapat kita pakai juga untuk secara tulus dan jujur melihat keadaan bangsa kita sekarang ini.Pertanyaan kepada kita sebagai umat kristiani "Siapakah sesamaku?" Apabila pertanyaan itu disampaikan kepada Yesus, kiranya Yesus akan menjawab : "Sesamamu bukan hanya keluargamu sendiri, bukan hanya sesama umat kristiani, baik Katolik maupun Protestan, maupun kaum Muslim, Budha atau Hindu, tetapi juga orang-orang yang kaya maupun yang miskin".
Inilah pengertian kasih univesal kristiani yang benar.Namun demi keutuhan pelaksanaannya, kita masih harus menambahkan pengertian iniyaitu yang paling penting bukanlah mengetahui siapakah sesamaku, melainkan mengetahui dan menyadari siapakah aku ini, di sini dan sekarang ini?Aku ini sesama dari siapa, sehingga aku dapat menjadi orang Samaria yang baik.
Pesan :
1. Jangan ada sianida diantara kita.
Kita berasal dari tempat yang berbeda-beda tapi kita punya Tuhan yang sama. Kita punya tujuan yang sama yakni menghadirkan Kristus di tengah dunia dan dalam pekerjaan kita. Bukan menjelekkan nama sesama yang tak sehebat kita. Jangan memberi kata-kata beracun sianida enak engkau katakan tapi pahit yang kurasakan.Kata amin di akhir doa selalu memberi jaminan kalau kita ini sama di mata sang Pencipta.
2. Kita adalah tim work.
Orang hebat adalah orang yang mampu bekerjasama dengan orang lain dan yang mampu membuat orang lain untuk selalu merasa nyaman di dekatnya dan mampu membntu sesama.
3. Setia pada tugas yang diberikan.
Rasa bosan, jenuh dengan hidup akan hadir, tapi sebisa mungkin menanggulanginya.
4. Jangan lupa untuk kembali pada keluarga.
Kembali pada keluarga itu seperti kita cas hp. Saat pekerjaan menumpuk, stress mengikuti dan stroke menunggu, kita harus kembali membuat tubuh ini bergembira. Cara ampuh adalah kembali pada keluarga.Keluarga itu kekuatan yang sebenarnya.
Hadir tak harus hilang, walaupun kehadiran menghadirkan butiran penyesalan.Kita memang terbatas, namun tidak lantas hilang saat tantangan mencoba bercumbuh.
Terkadang merasa malu dengan kekurangan kita.Tapi yakinlah selalu ada pelangi sehabis hujan, selalu ada titik kebahagiaan ketika tangga kehidupan coba kita naiki.
SEKALI TUHAN SAYANG IA TETAP SAYANG. TETAP JAGA JARAK, PAKAI MASKER. CUCI TANGAN TETAPI JUGA JANGAN LUPA CUCI HATI.
Rohaniwan Kristen Protestan: Pdt. Flora F. Welvart-Manafe,S.Th.
(Yohanes 21: 20-23)
Tema “menjadikan ASN sebagai teman yang baik dalam berkarya” saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan bagaimana hubungan yang seharusnya dibangun antara dua orang atau lebih yang sama-sama mendapat kasih karunia dan kehormatan dari Tuhan melalui pemerintah untuk melakukan pekerjaan Allah dalam pengabdiannya kepada bangsa dan negara? Haruskah mereka melihat penugasan khusus ini sebagai kesempatan untuk membangun kemitraan yang saling mendukung, menguatkan dan mendoakan atau kah justru dijadikan sebagai pentas menonjolkan diri, menjelek-jelekkan dan saling menjatuhkan sesama rekan kerja dalam tugas kerasulan? Pertanyaan ini termasuk masalah yang hangat dan seringkali dianggap hal yang wajar karena itu bisa saja terjadi relasi yang tidak sehat antara sesama sebagai rekan sekerja. Pengalaman menunjukkan sering kali terjadi pergesekan yang kuat dan tidak dikelola dengan baik sehingga terjadi stagnasi bahkan juga terjadi adu kekuatan yang menguras energi. Para pejabat yang menjalankan tugas bukan lagi bersinergi menjalankan pekerjaannya.Inilah yang mengemukadalam bacaan kita saat ini Yohanes 21: 20-23.
Teks ini disebut sisipan. Sessungguhnya injil Yohanes sudah berakhir pada pasal 20, tetapi sisipan ini dipahami sebagai sesuatu yang berguna, menunjukkan pemulihan Petrus ke dalam satu jabatan kerasulan oleh Yesus setelah ia menyangkal. Tetapi teks sisipan ini justru dimaksudkan Yesus tentang bagaimana relasi diantara para rasul yang dipercayakan tugas pelayanan dan pemeliharaan domba-domba Tuhan. Ada hal yang menarik disini yang pertama ada perbedaan usia antara Petrus dan Yohanes. Petrus adalah murid yang tertua sedangkan Yohanes adalah yang termuda. Jadi kita bisa menjadikan relasi Petrus dan Yohanes sebagai bingkai untuk memahami hubungan senior dan yunior dalam pelayanan, yang kedua Petrus dan Yohanes sama-sama merupakan murid yang mendapat tempat khusus di hati Yesus, boleh dibilang keduanya adalah murid yang mendapat kasih yang istimewa dari Yesus. Lalu haruskah orang-orang yang dikasihi Yesus saling bersaing atau saling mendukung? Apakah pendapat Yesus tentang hubungan yang seharusnya dibangun dalam kerja sama yang baik dalam berkarya sebagai ASN? Yohanes 21: 20-23 memberi jawaban atas pertanyaan ini. Yang pertama Yesus tentu saja mengasihi Petrus sama seperti ia mengasihi Yohanes. Petrus pernah gagal menjaga kasih Yesus karena ia menyangkal Yesus. Yohanes digambarkan sebagai figur rasul yang menjaga komitmen kuat untuk mengasihi Yesus.Yesus mencari dan menemukannya di Tiberias, Yesus lalu memulihkan Petrus untuk tugas kerasulan, betapapun Petrus mengaku bahwa ia tidak layak untuk tugas besar itu. Namun Petrus menyambutnya sebagai sebuah karunia yang indah, laluia serta merta ingat sahabatnya Yohanes sang Yunior yang tidak bercacat. Kalau Yesus memberi dia tanggung jawab yang besar dan mulia padahal dia penuh dengan kelemahan pernah ternoda oleh penyangkalan bagaimana dengan Yohanes yang tidak bercacat dalam kasihnya kepada Yesus? Jadi Petrus meminta Yesus untuk tidak memberi keistimewaan baginya, sesuatu yang sesungguhnya lebih pas untuk diberikan Yesus kepada Yohanes. Arti pertama dari pertanyaan Yesus menunjukan kerendahan dan perubahan radikal yang telah terjadi dalam diri Petrus. Ketika Petrus memberi hati kepada Yesus, ia dipulihkan, diubahkan untuk tidak lagi menonjolkan diri mengingat sekarang ada 2 orang yang mendapat kasih karunia dari Yesus. Siapakah diantara mereka yang harus menduduki kursi nomor satu? Dan menjadi terdepan dalam barisan para pejabat rasuli? Jawaban Yesus menolong kita memahami.
Tema kita saat ini yakni bagaimana seharusnya ASN menempatkan diri dalam barisan para pejabat rasuli yang diberikan kepercayaan oleh Tuhan melalui pemerintah Provinsi untuk menata dan memelihara relasi bersama sebagai teman kerja yang baik. Sebab kepada tiap-tiap orang Yesus mempercayakan kapasitas dan tanggungjawab khusus tetapi dengan tujuan dan visi yang sama yakni NTT bangkit NTT sejahtera dan disiplin sebagai kunci utama.
Sebagaimana Yesus menghendaki agar Petrus berkonsentrasi pada tanggung jawab yang diterima sambil memberdayakan kapasitas yang ada padanya untuk menjalankan tanggung jawab, tidaklah pada tempatnya bagi Petrus untuk membanding bandingkan diri dengan teman sekerjanya. Harapan bersama Yohanes mereka harus saling memperhatikan, menyemangati dan memotivasi dalam profesi dan tanggungjawab mereka, maka sebagai ASN saudara-saudara dipanggil untuk menciptakan suasana nyaman dan penuh kasih sebagai pengurus kerajaan Allah dalam dunia pekerjaan dan tangungjawab masing-masing. Allah memanggil dan mempercayakan kita dalam tugas sebagai ASN selalu siap menolong kita untuk terus memperbaharui energi spiritual dalam pelayanan dan pengabdian kita kepada pemerintah yang adalah wakil Allah.
Penulis : Florina Selfiana Mandala