06 Jun

Pembinaan Rohani Gabungan, “Memberi Hidup Untuk Kebahagiaan Orang-Orang Yang Dilayani”

Kupang- bkd.nttprov.go.id –Bertempat di Aula Eltari,  Para ASN lingkup Pemerintah Provinsi NTT hadir dalam kegiatan pembinaan rohani gabungan. Secara rutin disetiap bulannya kegiatan ini digelar bagi anggota KORPRI dengan menghadirkan tokoh-tokoh agama. Pada pembinaan yang digelar Jumat, 24/05/2019, Badan Kepegawaian Daerah sebagai penangungjawab kegiatan mengundang beberapa narasumber yakni dari Tokoh Agama Islam, Agama Katholik, Agama Kristen Protestan dan Agama Hindu.

Kegiatan ini mengangkat tema umum yakni “Memberi Hidup Untuk Kebahagiaan Orang-Orang Yang Dilayani Adalah Hakekat Tugas Aparatur Sipil Negara”. Mengacu pada tema tersebut masing-masing rohaniwan yang menjadi pembicara menyampaikan renungan yang menggugah para ASN Provinsi NTT untuk melaksanakan tugas-tugasnya dengan lebih bertanggungjawab.

Rohaniwan Islam, Drs. H. Hudayanur, menyampaikan renungannya sesuai keyakinan Islam bahwa Jika kita memberi hidup untuk kebahagiaan orang-orang yang dilayani, pada hakekatnya adalah, kita memberikan hidup untuk kebahagiaan diri sendiri, sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan atau sebaliknya sekecil apapun kejahatan yang kita lakukan pada hakekatnya akan kembali kepada kita. Perbanyak berbuat kebaikan yang memberi manfaat terhadap orang banyak.  

Dalam renungannya juga dikatakan bahwa Bukankah Alla SWT itu Maha Rahman dan Maha Rahim terhadap makhlukNya, Maha Pengasih dan Maha Penyayang dengan kasih sayangNya, marilah juga kita berkasih sayang terhadap sesama, atas berkat rahmat Allah kita telah diangkat menjadi ASN, oleh sebab itu marilah kita wujudkan rasa syukur itu dengan memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya untuk kebahagiaan orang-orang yang dilayani. Sebagai seorang muslim paling sedikit 17 kali membaca surah Al Fatihah yang merupakan rukun dalam salat.  Dalam surah Al Fatihah Kalimat “Ar Rahman dan Ar Rahim” masing-masing dua kali. Mari kita taburi Ar Rahman dan Ar Rahim ini, setelah kita nyatakan dan kita memahaminya mari kita amalkan, praktekan dalam kehidupan kita, seperti memberi hidup untuk kebahagiaan orang-orang yang dilayani. Pada akhir renungannya, Drs. H. Hudayanur mengatakan bahwa : Kasih sayang Tuhan terwujud dalam amal ibadah kita yang beriman kepada Allah sehingga kita harus memuliakan serta memberikan manfaat bagi orang-orang yang datang untuk dilayani.

Rohaniwan Katholik, Romo Mikhael Valens Boy, PR, menyampaikan renungannya bahwa prinsip injil yang dapat menjadi landasan kekaryaan seorang ASN demi membahagiakan sesamanya melalui kerja dan tugasnya, yaitu prinsip dan hakekat dari Tuhannya sendiri. Seorang ASN Kristiani pertama-tama mesti mengidentikkan diri dengan Tuhannya, Yesus Kristus : bekerja dalam nafas dan kebenaran. “gembala yang baik”; itu ramah, bersahabat, terbuka, jujur dan rendah hati. ”Memberikan nyawanya”; lebih diartikan bagi ASN untuk bekerja dengan penuh tanggungjawab, berkomitmen pada tugas,  berkorban waktu dan tenaga, punya mental mengabdi dan bukan saja untuk mencari untung.  “Memberikan nyawanya”; bekerja dengan jiwa dan mengabdi dengan hati. 

Pada akhir renungannya, Romo Mikhael Valens Boy, PR mengatakan bahwa : Injil merupakan pegangan bagi setiap ASN dalam bekerja dengan jiwa, melayani dengan hati yang tulus untuk membahagiakan orang lain serta mempunyai jiwa mempersatukan diri dengan orang yang dilayani.

Rohaniwan Hindu, Drs. I Gusti Made Putra Kusuma, M.Si, menyampaikan bahwa untuk bisa memberi hidup bagi kebahagiaan orang yang dilayani, kita harus menumbuhkembangkan kasih sayang Ilahi karena sesungguhnya Tuhan Yang Maha Kasih mencintai semua mahluk ciptaanNya. Di dalam Bagawadgita, Tuhan bersabda, “Mamivamso Jeevaloke Jeevabhutha Sanathana (Atman/Roh yang kekal abadi yang bersetana dalam semua mahluk hidup adalah bagian diri_ku). Oleh karena itu seperti Ia mencintai dirimu, maka hendaknya engkau mencintai semuanya dan bahagiakan pula semuanya. Kasih Sayang Ilahi tidak mengharapkan apapun sebagai imbalan, akan tetapi manusia harus memiliki keyakinan bahwa dia adalah tebaran cahaya Ilahi dan manusia hendaknya memahami bahwasanya Tuhan yang sama bersetana dalam diri setiap mahluk.

Memberikan tubuh untuk kebahagiaan orang yang dilayani yang maknanya lebih tepat dengan pelayanan prima dan tuntas serta tulus tanpa mengharapkan imbalan.  Dalam pelayanan untuk kebahagiaan orang-orang yang dilayani perlu mengembangkan nilai-nilai dasar kemanusiaan, kebenaran, cinta kasih, tanpa kekerasan dan damai.  Pada zaman dahulu kala Prajapati, sang pencipta telah menciptakan alam semesta beserta mahluknya melalui persembahan suci yajna, dan bersabda, “sejahterakanlah semuanya melalui perbuatan suci ini.  Lakukanlah perbuatan-perbuatan seperti yang telah ditetapkan di dalam kitab-kitab suci, karena sesungguhnya adalah lebih baik melakukan perbuatan dari pada tidak berbuat apa-apa.
Puaskanlah para malaikat melalui perbuatan-perbuatan dalam persembahan suci ini, maka Tuhan akan menganugerahkan segala kesejahteraan kepadamu. Dengan memberi kepuasan satu sama lain maka engkau akan mencapai kemuliaan paling utama. Pada akhir renungannya, Drs. I Gusti Made Putra Kusuma, M.Si, mengatakan bahwa : Cintailah pekerjaanmu dan melayanilah dengan sungguh-sungguh karena Tuhan mencatat semua yang kita lakukan, termasuk pelayanan kita bagi sesama.

Rohaniwan Kristen Protestan, Pendeta Yandi Manobe, S.Th, menyampaikan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang diciptakan sebagai makhluk yang memiliki akal pikiran dan kemampuan berinteraksi secara personal maupun sosial. Karena manusia adalah makhluk sosial maka manusia pada dasarnya tidak mampu hidup sendiri di dalam dunia ini baik sendir dalam konteks fisik maupun dalam konteks sosial budaya. Dalam konteks sosial budaya, manusia membutuhkan manusia lain untuk saling berkolaborasi dalam pemenuhan kebutuhan fungsi-fungsi sosial satu dengan lainnya, karena pada dasarnya suatu fungsi yang dimiliki oleh manusia satu akan sangat berguna dan bermanfaat bagi manusia lainnya.

Semua manusia dengan akal pikirannya mampu mengembangkan kemampuan tertingginya sebagai makhluk ciptaan Tuhan, sehingga manusia di sampaing sebagai mahkluk individual, mahkluk social, juga sebagai mahkluk spiritual. Karena fungsi-fungsi sosial yang diciptakan oleh manusia ditujukan untuk saling berkolaborasi dengan sesama fungsi sosial manusia lainnya, dengan kata lain, manusia menjadi sangat bermartabat apabila bermanfaat bagi manusia lainnya.

Pada akhir renungannya, Pendeta Yandi Manobe, S.Th mengatakan bahwa : pada hakekatnya manusia diciptakan untuk kepentingan orang lain, oleh sebab itu berilah hidup kepada Tuhan selama kita masih hidup dan melayanilah sesama selama mereka masih hidup dan membutuhkan pelayanan kita. Memberi hidup dengan apa yang ada pada kita merupakan kewajiban dari Iman setiap orang dalam melayani sesama.   

Penulis: Welem Chris Henukh
 

0 Comments

You Might Also Like This

Back to top