07 Jul

Pembinaan Rohani Gabungan, “Bahagia Yang Datang Dari Allah Milik Semua Orang”

Kupang- bkd.nttprov.go.id -Bertempat di Aula Eltari,  Para ASN lingkup Pemerintah Provinsi NTT hadir dalam kegiatan pembinaan rohani gabungan. Secara rutin disetiap bulannya kegiatan ini digelar bagi anggota KORPRI dengan menghadirkan tokoh-tokoh agama. Pada pembinaan yang digelar Jumat, 28/06/2019, Badan Kepegawaian Daerah sebagai penangungjawab kegiatan mengundang beberapa narasumber yakni dari Tokoh Agama Islam, Agama Katholik, Agama Kristen Protestan dan Agama Hindu.

Kegiatan ini mengangkat tema umum yakni “Bahagia Yang Datang Dari Allah Milik Semua Orang”.  Mengacu pada tema tersebut masing-masing rohaniwan yang menjadi pembicara menyampaikan renungan yang menggugah para ASN Provinsi NTT untuk melaksanakan tugas-tugasnya dengan lebih bertanggungjawab.

Rohaniwan Islam Drs. H. Bisman, menyampaikan renungannya sesuai keyakinan Islam mengatakan bahwa manusia yang dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia dan pekerjaan yang paling dicintai Allah adalah menggembirakan seorang muslim, atau menjauhkan kesusahan darinya atau membayarkan hutangnya, atau menghilangkan laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri “ktikaf di masjid (masjid nabawi) selama sebulan.
 
Allahu Akbar, luar biasa amalan yang tidak kita sangka besarnya bahkan lebih besar daripada berdiam diri di masjid selama satu bulan untuk beribadah (i’tikaf) di Masjid Nabawai. Beliau katakan bahwa amalan menemani seorang muslim untuk ia tunaikan kebutuhannya adalah amalan yang besar dan agung karena menolong orang lain menghilangkan rasa laparnya, mengatasi kesulitannya adalah amalan yang sangat dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan amalan tersebut akan memberikan rasa kebahagiaan kepada para pelakunya.

Ada seorang sahabat yang menemui Nabi shallallahu alaihi wa sallam ia mengeluhkan kekerasan dan kekakuan di dalam hatinya ia tidak merasakan kebahagiaan. Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda “jika engkau ingin agar hatimu menjadi lunak, maka berilah makan kepada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.
Ingatlah wahai bapak ibu, di dalam agama islam ada sebuah prinsip yang agung, jika seorang hamba berusaha menyenangkan hati orang lain, memikirkan kesulitan yang dihadapi orang lain, maka Allah juga akan menyenangkan hatinya. 

Pada akhir renungannya, Drs. H. Bisman mengatakan bahwa : Manusia yang paling berbahagia di muka bumi ini adalah Nabi shallallahu alaihi wa sallam karena beliau adalah orang yang paling memikirkan bagaimana caranya membahagiakan orang lain.

Rohaniwan Katolik Romo Mikhael Valens Boy, PR, menyampaikan renungannya sesuai keyakinan katholik mengataka bahwa kita berada dalam suatu dunia yang kuat memperjuangkan kemajuan dan kesejahteraan, berada dalam satu dunia yang semakin bebas dan cenderung liberal, namun kita pun sedang berada dalam satu dunia yang semakin “mendewakan” kesenangan, kemakmuran, kekayaan, kekuasaan, kemewahan, harta dan uang. Bumi ini seperti “surga”, ada prinsip dari kebanyakan orang “genggamlah hari ini” : kalau bukan sekarang kapan ? kalau bukan saya siapa? bumi semakin “anthroposentrik” dan manusia semakin egosentris.

Dalam ucapan bahagia dari Yesus dikatakan bahwa: Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya kerajaan surga. Berbahagialah orang yang lemah lembut karena meraka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran karena meraka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya karena meraka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai karena meraka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran karena merekalah yang empunya kerajaan surga. 

Ucapan Yesus ini memesankan bahwa kebahagiaan manusia selalu berhubungan erat dengan keterarahan manusia kepada nilai-nilai yang luhur dan abadi : miskin di hadapan Allah = ”rendah hati”, yakni menempatkan diri pada kehendak Tuhan; lemah-lembut; cinta kebenaran; murah hati= tulus dan jujur; membawa damai; berdukacita dan menderita karena kebenaran; dan bahkan ditolak karena iman akan Yesus sebagai Tuhan dan penyelamat.
Pada akhir renungannya, Romo Mikhael Valens Boy, PR mengatakan bahwa : Kebahagian itu prinsipnya adalah hadiah dari Allah bagi manusia yang mengasihi Tuhan dan sesama. 

Pendeta Jahja A. Millu,SP, S.Th, menyampaikan renungannya sesuai keyakinan Kristen Protestan mengatakan bahwa manusia tidak perlu diajar utuk mencari kebahagiaan karena manusia secara alami, secara naluriah, pra kognitif ingin bahagia. 

Tanpa kecuali kita semua merindukan kebahagiaan, kita semua ingin bahagia hanya mungkin mencarinya dengan cara yang berbeda dan berusaha sekeras mungkin untuk mencapai tujuan yang sama yaitu bahagia. Pencarian kebahagiaan menyebabkan agama dan budaya telah bergerak berlawanan arah mengenai kebahagiaan, agama melihat kebahagiaan dengan kecurangan, sementara budaya menyembah di kakinya.
Dalam budaya ada 3 filsafat utama tentang kebahagiaan yaitu : 
Hedonisme: kesenangan sebagai tujuan hidup, hindari penderitaan, capai kesenangan meskipun orang lain menderita, hidup untuk mencari kenikmatan bukan untuk menikmati hidup.
Eudaimonisme : fokus pada makna hidup, bagaimana manusia berguna bagi orang lain, hidup dengan tindakan yang memiliki makna dan nilai, tetap bahagia meski sumber kebahagiaan telah hilang.
Epicurianisme : menunjuk pada jalan kebahagiaan, mengenali musuh kebahagiaan yaitu takdir, dewa dan takut mati.

Ketiga filsafat pengejaran kebahagiaan tersebut, lebih banyak berkaitan dengan nafsu tubuh.
Dalam Mazmur 1 :1-2 dikatakan bahwa berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Tuhan dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Dalam Mazmur 128 :1 dikatakan bahwa berbahagialah setiap orang yang takut akan Tuhan yang hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya. Firman Tuhan tersebut menujukkan bahwa Allah ingin kita bahagia melalui kekudusan.
Pada akhir renungannya, Pendeta Jahja A. Millu,SP, S.Th mengatakan bahwa : penyaliban tidak membawa kebahagiaan bagi Yesus, namun ketaatan pada Bapa membawa sukacita yang tak terbatas.

Penulis: Welem Chris Henukh

0 Comments

You Might Also Like This

Back to top