03 Mar

Festival Sarung Tenun Ikat Menjadi Momentum Melestarikan Budaya dan Tradisi Kepemimpinan NTT

BKD.NTTPROV.GO.ID – Sarung atau sarong merupakan busana khas masyarakat Indonesia. Tatkala Belanda memijakan kaki di Nusantara, busana seperti celana panjang, rok dan sebagainya mulai diperkenalkan meskipun masih untuk kalangan terbatas. Sesunggugnya, sarung memiliki sejarah yang panjang sebelum menjadi busana masyarakat Indonesia.  Sarung berasal dari negeri Yaman dan masuk ke Indonesia melalui para pedagang Arab dan India sekitar pada abad 14. Di negeri asalnya, sarung disebut  futah.

Seturut perkembangan waktu,  sarung melekat dengan  budaya Muslim. Selain sebagai identitas Muslim, sarung menjadi buasana harian sebelum gaya busana barat yang dibawa masuk oleh Pemerintah Kolonial Belanda.  

Kita tak dapat mengabaikan bahwa para pedagang Arab yang beragama Islam yang memperkenalkan sarung di Indonesia, namun sebenarnya pemakaian sarung tak merujuk pada identitas agama tertentu. Karena sarung juga dikenakan oleh berbagai kalangan di berbagai suku dan agama yang ada di Indonesia sebagai busana kehormatan yang memiliki derajat kesopanan yang tinggi. Hal ini dapat kita jumpai, sarung menjadi busana masyarakat lokal dalam berbagai ritual adat.  

Meskipun sejarahnya berasal dari Yaman, kita tak dapat menyepelekan  imajinasi, inovasi dan kreativitas leluhur bangsa Indonesia yang menghasilkan sarung yang beragam ciri atau motif, bahan dan pengerjaannya.  Seperti kita ketahui,  sarung Indonesia terbuat dari bahan kain tenun, songket, dan tapis. Setiap sarung yang diproduksi dari setiap wilayah etnis memiliki motif dan makna falsafati yang merupakan representasi penghayatan para leluhur yang nilainya aktual hingga saat ini. Umumnya kain berbahan tenun berasal dari Indonesia Bagian Timur  seperti NTT, NTB, Sulawesi, dan Bali. Sedangkan songket merupakan identitas dan  ciri khas adat istiadat masyarakat Minangkabau dan Palembang. Sementara tapis, bahan tenun khas yang dipakai masyarakat Lampung.

Lalu, bagaimana dengan sarung atau kain tenun dalam konteks NTT? Sarung sangat beragam. Keberagaman itu baik ditinjau dari motif dan teknik pewarnaan – mulai dari pemilihan bahan pewarna, teknik meracik hingga mewarnainya. Sedangkan pembuatannya hampir sama, yakni menggunakan alat tenun tradisional.  

Corak atau motif menunjukkan identitas, keunikan, filosofi dan asal. Perbedaan motif tenun ikat antara satu daerah dengan daerah yang lain sangat mencolok.  Keberagaman sarung tenun ikat dan motifnya membuktikan daya imaginasi para leluhur sangat luar biasa. Pernyataan ini disampaikan oleh  Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat pada acara Wisuda Undana, Kamis (28/02/2019). 

“Contoh sederhana adalah sarung tenun motif yang saya dan kita pakai hari ini. Ini adalah hasil karya imajinasi nenek moyang yang luar biasa. Mereka bukan sarjana, juga tidak banyak membaca buku. Tetapi, mereka membuat karya yang kita pakai dengan sangat bangga.”

Hal serupa disampaikan lagi oleh Gubernur NTT pada Festival Sarung Tenun NTT, Sabtu (02/03/2019). Menurutnya, sarung tenun ikat lebih dari sekedar kerajinan tangan, pula  merupakan hasil karya intelektualitas para leluhur.

“Sarung tenun NTT lebih dari sekadar kerajinan tangan. Ini merupakan suatu karya intelektual yang hebat dari para leluhur dan nenek moyang kita. Mereka belum kenal budaya literasi, tapi mereka menciptakan suatu kreasi hebat yang wajib kita lestarikan serta perkenalkan kepada Indonesia dan dunia,” tegas Gubernur Laiskodat.

Pernyataan Gubernur NTT menegaskan  pengetahuan itu ada sejak manusia ada. Dengan kata lain, manusia memiliki pengetahuan sejak kelahirannya. Karena Tuhan mengaruniakan  akal untuk berpikir atau bernalar. Sejak adanya manusia, sejak itu pula manusia berpikir. Dengan kemampuan berpikir tanpa  didukungi teknologi apalagi teknologi komputer, para leluhur atau nenek moyang  mampu menghasilkan sesuatu yang  luar biasa. 

Pencapaian para leluhur membanggakan generasi berikutnya – generasi kini dan yang akan datang.  Karena karya tenun  yang dihasilkan melalui proses imajinasi dan berpikir. Rasa bangga itu harus ditumbuhkembangkan dan dipupuk agar bertumbuh subur. Namun, kebanggaan saja tak cukup, kita harus mengapresiasinya dengan memiliki dan mengenakan serta mencintainya.

Wujud apresiasi atau penghargaan pemerintah NTT terhadap sarung tenun ikat sudah lama dicetuskan, yakni pemberlakuan seragam motif bagi PNS di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur pada setiap hari Kamis. Generasi sekarang mungkin tak banyak tahu kisah dan sosok dibalik seragam motif tersebut.  Adalah Mayjen (Purn) Herman Musakabe, Gubernur NTT,  periode 1993-1998, yang pada masa kepemimpinannya,  dikenal dengan Tujuh Program Strategis, yaitu Pengembangan Sumber Daya Manusia, Penanggulangan Kemiskinan, Pembangunan Ekonomi, Pengembangan dan Pemanfaatan IPTEK Penataan Ruang, Pengembangan Sistem Perhubungan, dan Pengembangan Kepariwisataan. Salah satu wujud dari program kerja Pembangunan Ekonomi, ia menggagas gagasan seragam tenun ikat bagi PNS di lingkup pemerintah provinsi dan kabupaten se-Nusa Tenggara Timur selain  seragam  kekhi dan linmas. Gagasan ini dibilang sangat strategis karena dapat mendorong dan meningkatkan income pelaku ekonomi kreatif khususnya ibu-ibu pengrajin tenun. 

Gagasan brilian Musakabe dapat merubah cara pandang masyarakat yang melihat sarung tenun hanya identik dengan urusan adat istiadat, kemudian sarung tenun ikat menjadi bahan  busana yang fashionable di lingkup pemerintahan kemudian merambat ke  bahan gaun pesta, busana gereja, dan berbagai event atau acara dengan berbagai modifikasi yang kreatif.

Warisan Musakabe dilestarikan oleh pemimpin berikutnya, Piet A. Tallo, Frans Lebu Raya hingga Viktor Bungtilu Laiskodat. Pada era  Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josef A. Nae, upaya mempromosikan sarung tenun ikat semakin masif, salah satunya melalui event akbar Festival Sarung Tenun Ikat yang digelar di Jalan El Tari (Sabtu, 02/03/2019). Kegiatan ini merupakan inisiatif dan gagasan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekrasnada) Provinsi NTT yang didukung penuh oleh Pemerintah Provinsi NTT. Festival ini bertujuan untuk memperkenalkan sarung tenun ikat ke seluruh penjuru dunia sekaligus melestarikan karya intelektual para leluhur.  

“Jadi, kami berupaya melestarikan budaya dan promosi sarung tenun ikat, warisan budaya NTT di kancah nasional dan internasional. Karena itu kami melaksanakan festival sarung tenun ikat yang akan dikolabrasikan dengan festival musik tradisional tahun 2019,” ujar Julie seperti dilansir dari Tempo.Co,  Senin (25/02).

Dekranasda NTT menyadari bahwa  sarung tenun NTT memiliki keunikan, kekayaan intelektual dan orsinalitas yang tiada duanya di Indonesia bahkan di dunia.  Sarung tenun ikat  memiliki  nilai estetika, bobot intelektualitas dan nilai-nilai kearifan lokal atau falsafah hidup.

Apa yang dilakukan Julie Laiskodat dan timnya dari Dekrenasda NTT menunjukkan kepedulian, kecintaan dan kebanggaan akan sarung tenun ikat NTT. Festival ini baru merupakan permulaan dalam rangka mempromosikan sarung tenun NTT ke dunia internasional.  

“Ini titik awal ajang promosi sarung tenun ikat. Mungkin ada wisatawan asing yang kebetulan ada di Kupang ikut serta dalam festival ini. Tetapi untuk tahun depan pasti kami akan promosikan ke luar negeri,” kata Julie seperti dilansir Tempo.Co, Senin (25/02).

Meskipun festival ini baru sebuah permulaan, setidak-tidak penulis mencatat empat hal penting dari peristiwa ini. Pertama, festival sebagai momentum promosi sarung tenun ikat yang masif dan meluas. Bicara promosi, festival ini bukanlah satu-satunya. Jauh sebelum itu, promosi sudah digalakan. Musakabe mewajibkan PNS mengenakan baju motif pada salah satu hari kerja. Alfonsa Dua Horeng melalui Sanggar Lopo Lorung terus bergerilya di dalam dan luar negeri untuk memperkenalkan dan melestarikan sarung tenun ikat Sikka. Begitu pula Julie Soetrisno Laiskodat melalui butik LeViCo terus memperkenalkan sarung tenun kepada dunia luar melalui acara pameran busana di dalam dan luar negeri. Bupati Malaka mewajibkan pegawai (PNS/kontrak) mengenakan salendang khas Malaka pada setiap hari rabu. Begitu pula Bupati Flores Timur yang mewajibkan seluruh pegawai (PNS/kontrak) lingkup Pemerintah Kabupaten Flores Timur mengenakan sarung khas Flores Timur pada salah satu hari kerja. Masih banyak lagi upaya orang per orang dan atau berkelompok yang secara aktif mempopulerkan sarung tenun ikat NTT. Tapi, festival ini sebagai aksi yang paling masif dan meluas karena melibatkan massa dalam jumlah yang besar.

Kedua, festival ini merupakan momentum melestarikan kepemimpinan NTT. Seperti disinggung di bagian tulisan terdahulu, Musakabe adalah mantan gubernur NTT yang mempopulerkan tenun ikat dengan memprogramkan seragam motif bagi PNS Pemda provinsi dan kabupaten/kota. Program tersebut bertahan hingga saat ini. Bila pemimpin NTT saat ini menyelenggarakan festival sarung tenun ikat merupakan bentuk kegiatan yang mempromosikan karya peradaban ini secara masif maka secara tak langsung dan pula tak disadari, peristiwa apa yang terjadi hari ini (festival) mengingatkan kita akan gagasan pemimpin terdahulu (Musakabe) yang mengangkat pamor tenun ikat NTT. Maka festival ini merupakan momentum melestarikan kepemimpinan (kebijakan dan kebajikan) terdahulu. 

Ketiga, festival ini membangkitkan semangat toleransi dalam nuansa keberagaman yang harmonis. Keberagaman NTT itu tampak dalam pelbagai motif sarung tenun ikat, warna dan falsafah yang harmonis. Ini pula menjadi gambaran nyata NTT sebagai miniatur Indonesia – berbeda-beda tetap satu jua. Ini hanya di NTT dan tiada duanya di Indonesia bahkan dunia.

Keempat, festival yang dimotori Dekranasda NTT dan Pemerintah Provinsi NTT ini menjadi sumber inspirasi bagi pemerintah kabupaten/kota se-NTT untuk melakukan gerakan bersama dalam rangka melestarikan sarung tenun ikat sekaligus mempromosikan pariwisata NTT sebagai penggerak utama pembangunan menuju NTT Bangkit NTT sejahtera.

Meskipun Ketua Dekranasda NTT mengakui Festival Sarung Tenun Ikat NTT merupakan langkah permulaan, festival ini dinilai sukses karena berhasil menyedot perhatian dan meningkatkan partisipasi masyarakat NTT untuk ambil bagian dalam momentum tersebut. Festival ini pula mampu  menyatukan masyarakat NTT  dalam keberagaman (perbedaan) seperti halnya keberagaman sarung tenun ikat; motif, warna dan falsafahnya, namun tetap menampilkan corak yang indah. Seindah alam NTT yang menjelma menjadi New Tourism Territory dan Nusa Terindah Toleransi atau Nusa Toleransi Terindah. 

Maka dari itu, jika Gubernur NTT mewajibkan PNS mengenakan sarung tenun ikat pada hari kerja tak berlebihan karena memang seharus demikian. Siapa lagi yang dapat mendukung para pengrajin tenun ikat kalau tak dimulai dari rumah kita sendiri. Pula sarung tenun ikat menunjukkan siapa diri kita. Sarung tenun ikat NTT adalah identitas kita. NTT bisa.*

(Gergorius Babo, S.Kom - Kasubid Penilaian Kompetensi dan Kinerja Pegawai, Bidang Pengembangan, BKD Provinsi NTT.   Foto: Biro Humas Prov NTT)

0 Comments

You Might Also Like This

Back to top