15 Sep 20

“ASN Melayani Dalam Mengisi 75 Tahun Indonesia Merdeka”

Tahun 2020 adalah tahun yang mengejutkan dunia karena tidak ada yang menyangka bahwa wabah covid-19 melumpuhkan hampir seluruh dunia di segala aspek kehidupan, tidak terkecuali Indonesia termasuk Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Perayaan ke 75 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia di tengah wabah Covid-19 membuat kita merefleksikan kembali makna pelayanan kita sebagai ASN provinsi Nusa Tenggara Timur, sebuah provinsi yang sangat indah dan beragam.

Dalam situasi yang tidak menentu ini, dengan kasih Tuhan, ketaatan dan juga disiplin yang benar maka NTT akan menjadi provinsi “TELADAN” yang menunjukkan bahwa kasih dan disiplin dapat berjalan beriringan dan ASN provinsi Nusa Tenggara Timur berkewajiban menjadi teladan utama bagi masyarakat, dalam hal ini tetap menjadi pelayan, menjadi garam dan terang, sehingga walaupun dalam situasi yang tidak menentu karena covid-19 ini, NTT tetap berjalan menuju NTT Maju dan NTT Sejahtera.

Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui kegiatan Pembinaan Rohani Gabungan mengangkat tema : PERAN ASN DALAM MENJALANKAN TUGAS DAN PELAYANAN KEPADA MASYARAKAT UNTUK MENGISI KEMERDEKAAN  yang disampaikan oleh rohaniwan dari 4 agama pada hari Jumat, 28 Agustus 2020 secara virtual sebagai bentuk perwujudan upaya meningkatkan mentalitas spiritualitas ASN dalam melaksanakan tugas pelayanan.

 

ROHANIWAN :

Oleh : Pdt. Jeky Latupeirissa, M.Th

Bacaan Alkitab: Yohanes 5:1-18

Bagaimana dan mengapa Yesus bekerja? Mari kita pelajari bersama.

Tuhan Yang Melayani (Ay. 1-15)

Yesus adalah Tuhan, tetapi Dia melayani meski tidak ada permintaan yang sungguh-sungguh. Yesus tahu, orang lumpuh di kolam Betesda itu, sudah sakit selama 38 tahun.  Yesus juga tahu bahwa orang itu sudah lama disana mengaharpkan kesembuhan. Karena itu yesus bertanya, “Maukah engkau sembuh?” Pertanyaan ini dijawab dengan keluhan. Jawab orang sakit itu, “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku  

Yesus berkata kepadanya, “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” Pada saat itu juga sembuhlah orang itu, lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Yesus adalah Allah yang berkuasa, tetapi Dia merendahkan diri menemui orang lumpuh itu. Bahkan kolam Betesda dan malaikat yang turun membawa kesembuhan hanya menunggu orang yang paling cepat datang. Betapa hebat kuasa dan kerendahan hati Tuhan Yesus.

Tuhan Yesus datang untuk melayani,   Yesus berkuasa, tetapi mau merendah dan memahami sikap orang yang sudah lama menderita. Yesus tidak membatalkan kesembuhan meski orang itu melupakanNya dan bahkan melaporkanNya kepada orang-orang Yahudi. Alkitab mencatat, Yesus hanya menegurnya. Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam bait Allah lalu berkata kepadanya, “Engkau telah sembuh, jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.”

Kadangkala ada orang/masyarakat yang perlu dilayani, tetapi sikapnya kurang baik karena kesusahan yang dialaminya. Adapula yang sudah dilayani, tetapi kemudian memperalat dan mengambil keuntungan dari kita. Yesus pernah mengalami hal seperti ini dan Dia menanggapi dengan kasih serta penguasaan diri. Yesus selalu ingat, bahwa Dia datang untuk bekerja dan melayani. Bagaimana dengan kita?

Bekerja Bagi Bapa Surgawi (Ay. 16-18)

Tuhan Yesus giat bekerja meski tidak ada oarng yang menuntut Dia. Tidak ada gaji atau hadiah jika Dia giat bekerja dan melayani. Tidak ada teguran juga, jika Dia santai dalam bekerja dan pelayanan. Bahkan justru sering muncul masalah karena banyak pelayanan yang dilakukanNya. Ayat 17 memberitahui kita tentang alasan semangat pelayanan Yesus. Ia berkata kepada mereka, “BapaKu bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.” Yesus melayani karena tahu bahwa BapaNya sedang bekerja di dalam dunia. Yesus tidak terpengaruh melihat banyak pemimpin dan guru agama saat itu lebih tertarik pada perdebatan atau banyak bicara, daripada bekerja dan melayani. Mereka lebih suka mencari kesalahan dalam peristiwa kesembuhan orang lumpuh daripada memuji Allah atas pekerjaanNya. Yesus lebih memandang ke surga daripada melihat ke kiri dan ke kananNya untuk mencari pujian dan pembenaran diri.

Saat ini kita mempunyai beberpa alasan untuk bekerja dan melayani. Misalnya karena butuh uang, sebagai kewajiban, kebutuhan hidup atau kebiasaan, dan seterusnya. Tuhan Yesus memberikan alasan yang paling kuat untuk tetap mempunyai semangat dalam bekerja dan melayani, yakni karena Allah Bapa kita sedang bekerja. Yesus bekerja karena BapaNya bekerja. Sebagai orang Kristen, kita bekerja dan melayani karena Allah Bapa dan Putra tunggalNya bekerja. Marilah kita memerikasa lagi alasan utama kita untuk menjadi ASN.   

Yesus memberikan contoh bagi kita yang mau bekerja dan melayani. Yesus yang tanpa cela menerima kritik dan kecaman, apalagi kita yang punya kelemahan. Mari menerima kritik dan ancaman sebagai hal yang wajar dalam kerja dan pelayanan. Sebab tidak mungkin seorang hamba melebihi tuannya.

Hal yang paling penting bagi Yesus adalah bekerja dan melayani bagi kemuliaan Allah BapaNya. Yesus tidak melayani karena perasaan kasihan atau karena permintaan. Yesus mengajak kita mengerjakan pekerjaan Allah selama masih siang, karena akan datang malam dimana tidak ada seorangpun dapat bekerja (Yoh. 9:4). Jika yakin akan kehendak Tuhan, kita mantapkan langkah untuk bekerja sebagai ASN dalam mengisi kemerdekaan Indonesia. Kita tidak perlu akut dengan akibat yang merugikan diri kita. Sebagai ASN, mungkin harus siap menerima kritikan dan keceman karena melakukan hal yang berbeda dari kebiasaan. Marilah kita mengikuti teladan Yesus dengan melayani lebih sungguh kepada masyarakat. Amin.

 

Oleh : Ir. I Wayan Sumartika, M.Si

A. PENDAHULUAN

Dengan telah ditetapkan UU No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) disyahkan oleh Presiden RI. DR. Haji Susilo Bambang Yudoyono pada tanggal 15 Januari 2014, diundangkan di Jakarta oleh MENKUM-HAM Amir Syamsudin dalam lembaran Negara RI. No. 5 Tahun 2014, tentang ASN dalam tambahan Lembaran Negara RI. No. 5494. Mulai berlaku pada tanggal diundangkan, yaitu tanggal 15 Januari 2014.

Bahwa untuk mewujudkan tujuan Nasional dan pelaksana cita-cita bangsa dibutuhkan pegawai ASN diserahi tugas untuk melaksanakan tugas pelayanan publik, tugas perintahan, dan tugas pembangunan tertentu maka perlu dibangun ASN yang memiliki integritas, profesional, netral dan bebas dari intervensi politik, bersih dari praktek Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) dan mampu menjalankan peran sebagai unsur perekat persatuan dan kesatuan bangsa berdasarkan pancasila dan UUD 1945.

Bahwa pelaksanaan manajemen ASN belum berdasarkan perbandingan antara kompetensi dan kualifikasi yang diperlukan oleh jabatan dengan kompetensi dan kualifikasi yang dimiliki oleh calon dalam rekrutmen pengangkatan, penempatan, dan promosi pada jabatan sejalan dengan tata kelola pemerintahan yang baik dan untuk mewujudkan ASN sebagai bagian dari reformasi birokrasi perlu ditetapkan ASN sebagai profesi yang memiliki kewajiban mengelola dan mengembangkan diri dan wajib mempertanggungjawabkan kinerjanya demi menerapkan prinsip merit (patut = pantas) dalam pelaksanaan manajemen ASN.

B. BAGAIMANA PERAN ASN DALAM MENJALANKAN TUGAS PELAYANAN KEPADA MASYARAKAT UNTUK MENGISI KEMERDEKAAN

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai  atas jasa-jasa para pahlawan perang untuk merebut kemerdekaan atas penjajahan sebagai penderitaan yang berkepanjangan ketika itu, Indonesia saat ini sudah merdeka 75 Tahun saat ini, kita juga wajib menghargai atas jasa-jasa pahlawan pembangunan bangsa, dimana mereka berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia disegala lini kehidupan sesuai tugas pokok fungsi aparat baik fungsi sipil maupun militer.

Fungsi Tugas Dan Peran ASN

1. Pegawai ASN berfungsi sebagai :
a. Pelaksana kebijakan publik
b. Pelayanan publik
c. Perekat dan pemersatu bangsa

2. Pegawai ASN Bertugas :
a. Melaksanakan kebijakan public yang dibuat pejabat Pembina kepegawaian sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
b. Memberikan pelayanan public yang professional dan berkualitas.
c. Mempererat persatuan dan kesatuan Negara RI.
d. Peran ASN :

Pegawai ASN berperan sebagai perencanaan, pelaksana, dan pengawas penyelenggaraan tugas umum pemerintahan dan pembangunan Nasional melalui pelaksanaan kebijakan dan pelayanan public yang professional, bebas dan intervensi politik, serta bersih dari praktek-praktek KKN.

C. BAGAIMANA ASN MENURUT PANDANGAN HINDU DALAM PENGABDIANNYA

Menurut Hindu pegawai ASN baik staf maupun pimpinan dalam melaksanakan tugas pengabdian kepada masyarakat sebaiknya mempertimbangkan apa yang dikenal dengan “HASTA BRATA”, Hastra Brata adalah :

1. Matahari (Surya)
Menerangi dengan IPTEK.

2. Bulan (Candra)
Menghibur dikala susah, menyejukan hati, menjadi teman dalam suka duka.

3. Bintang (Kartika)
Menjadi suri teladan, menjadi panutan, dan memberi pedoman.

4. Awan (Akasa/Angkasa)
Adil tidak pilih kasih, mengayomi semua.

5. Api (Dahana)
Berjiwa pemberani, berani mengambil keputusan.

6. Angin (Maruta)
Mengerti kemampuan yang dipimpin.

7. Samudra (Lautan)
Berpandangan luas, berpikir mendalam, berwawasan luas, arif dalam berpikir, dan bersikap.

8. Bumi
Kesentausaan, kejujuran, dan realitas

D. PENUTUP

Berdasarkan fungsi, tugas dan peran ASN tersebut diatas, bahwa ASN sangat memegang peranan penting sebagai perencana, pelaksana, dan pengawas penyelenggaraan tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional dalam rangka mengisi kemerdekaan dengan memperhatikan kepemimpinan Hasta Brata.

 

Oleh : Rasyid Muzhar,S.Ag,MH

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ 

اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

 

Marilah kita sama memanjatkan syukur kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia dan nikmat dengan selalu mengucapkan “Alhamdulillah”, yang diikuti kesadaran bahwasanya semua anugerah itu berasal darinya dan memanfaatkan segala karunia tersebut pada perkara2 yang diperintahkannya.

Shalawt dan Taslim Kita persembahkan kepada Junjungan kita Nabi Muhammad saw. Serta para sahabat dan keluarga.

Telah 75 tahun sudah Indonesia merdeka, tahun ini diwarnai berbagai bencana yang mengakibatkan kerugian harta dan nyawa, mari kita sama-sama evaluasi kenapa hal ini terjadi, apakah ini terjadi karena faktor alam semata, atau ini teguran Allah atas kesalahan yang terus kita lakukan tanpa diikuti oleh keinginan untuk berhenti dan bertaubat.

Para Ulama mengatakan bahwa bencana itu hanya tinggal menunggu waktu, apabila manusia makin tidak perduli, maka akan datang bencana yang sangat mengerikan, bencana yang tidak seorangpun mengetahuinya. Allah SWT. telah menyatakan hal itu dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra’ ayat 16:

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

 “Dan jika Kami hendak menghancurkan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mena’ati Allah) tetapi mereka melakukan kefasikan di dalamnya, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya ketentuan Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”.

Kemerdekaan negeri ini bukanlah hadiah, bukan pula pemberian, akan tetapi buah dari perjuangan yang mengorbankan darah dan nyawa. Berapa banyak putra putri terbaik negeri ini yang menjadi korban memperjuangkan kemerdekaan. Kini telah 75 tahun Indonesia merdeka, mereka telah menyematkan nama mereka dengan tintas emas pada lembar sejarah perjalanan bangsa indonesia sebagai pahlawan, sebagai syuhada bagi negeri ini.

Mewujudkan itu semua, adalah tugas seluruh rakyat Indonesia, akan tetapi (ASN) Aparatur Sipil Negara memiliki peran central untuk mewujudkan cita-cita mulia bangsa indonesia itu.

Kita tidak menafikan apa yang telah diraih oleh ASN. Presiden Republik Indonesia Bapak Ir. H. Joko Widodo ketika memberi amanat dalam peringatan Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) ke 47 yang digelar di Istora Senayan, Jakarta menyampaikan bahwa Korpri beserta seluruh jajaran aparatur sipil negara (ASN) telah memberikan kontribusi besar terhadap masyarakat, bangsa, dan negara. Jajaran ASN juga telah menjadi garda terdepan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dan menjadi motor penting dalam pembangunan nasional.

Kemajuan Indonesia yang telah kita capai sampai hari ini tidak terlepas dari peran serta jajaran aparatur sipil negara yang bekerja di semua sektor, di semua level pemerintahan, di semua wilayah Indonesia, serta perwakilan di luar negeri,”

Dengan apresiasi tersebut Aparatur Sipil Negara tidak lantas puas, masih banyak hal yang masih menjadi tanggung jawab kita untuk kita perjuangkan demi terwujdunya kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Maka, ASN disebutnya harus melayani masyarakat dengan meningkatkan kualitas kerja, tata kelola pemerintahan, dan menjaga akuntabilitas dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi. Karena itu mau tidak mau ASN harus selalu open minded, terus melakukan inovasi, dan menyederhanakan proses kerja. Aparatur Sipil Negara harus memanfaatkan kemajuan teknologi, pengetahuan, serta berkolaborasi dengan pihak-pihak terkait.

Inilah yang harus menjadi cita-cita segenap ASN dalam mengisi kemerdekaan. Sehingga terwujudnya kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia bukan mimpi di siang bolong.

Ir. Soekarno berpesan :

Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya.  Dan berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.”

“Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka."

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri."

“Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah

Moh. Hatta berpesan :

“Pahlawan yang setia itu berkorban, bukan buat dikenal namanya, tetapi semata-mata untuk membela cita-cita."

“Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Jangan mengharapkan bangsa lain respek terhadap bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara sebangsa, merusak dan mencuri kekayaan Ibu Pertiwi.”

 

Oleh : Pater Yulius Yasinto,SVD