Kab. Sikka, BKD.NTTPROV.GO.ID - Hari masih pagi, bahkan mentari pun masih terbalut kabut. Rinai gerimis air dari langit menemani kami dalam perjalanan dari rumah masing-masing menuju ke bandara El Tari Kupang. Hari itu, Kamis 28 Januari 2021, saya bersama pak Eston dan pak Steven ditugaskan oleh Badan Kepegawaian Daerah Provinsi NTT untuk melakukan kegiatan Validasi Kompetensi Manajerial di Unit Pelaksana Teknis Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur di Kabupaten Sikka. Pesawat Wings Air yang kami tumpangi dari Kupang ke Sikka, menetapkan jadwal keberangkatan jam 7 pagi sehingga kami sudah harus tiba di Bandara Eltari Kupang sebelum jam 6 pagi untuk check in.
Sebenarnya penerbangan dari Kupang ke Sikka berlangsung nyaman karena sekalipun hujan di darat dan ada awan tebal di langit namun travel route pesawat yang kami tumpangi mengambil jalur yang nyaman. Suasana ketegangan tidak dapat disembunyikan dari wajah para penumpang ketika sketsa kota Maumere sudah di depan mata dan kami sudah bisa memetakan tempat-tempat di kota itu namun tiba-tiba pilot memutuskan untuk go-around / over shooting karena jarak pandang dari pesawat dan bandara Frans Seda Maumere terhalang kabut yang disebabkan oleh hujan. Go-around atau over shooting adalah sebuah maneuver standar yang dilakukan pesawat terbang pada momen pembatalan proses landing sebagai akibat dari terjadinya sesuatu di luar perencanaan yang dapat mengganggu proses landing bila tetap dilanjutkan.
Setelah beberapa saat berputar-putar di atas cakrawala kota yang pernah diguncang tsunami pada tahun 1992 itu, akhirnya kami bisa landing juga. Tujuan pertama kami adalah Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pendapatan Daerah Wilayah Kabupaten Sikka. Di sana, kami sudah ditunggu Kepala UPTD Pendapatan Daerah Wilayah Kabupaten Sikka Stanilaus K. Jawan, S.Sos, M.Ap. Kami menjelaskan tentang maksud kedatangan serta kegiatan yang akan dilaksanakan pada UPTD Pendapatan Daerah Wilayah Kabupaten Sikka. Tiga orang eselon 4 pada UPTD tersebut dihadirkan bersama masing-masing satu orang stafnya untuk mendapatkan penjelasan. Beberapa tanya jawab sebagai pembuka diskusi, semua informasi terdesiminasi dan para Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berkumpul dalam ruang kepala UPT itu menyatakan “paham” terhadap instruksi, kami mulai menyebarkan questioner dalam bentuk google form kepada setiap peserta untuk diisi menggunakan handphone masing-masing.
Ruangan berukuran 4 x 4 meter itu hening seketika. Semua sibuk memperhatikan handphone masing-masing. Beberapa pertanyaan masih terlontar namun kembali hening. Kami menyediakan dua bentuk questioner yang berbeda. Kepala UPTD diminta untuk menilai kompetensi tiga orang pejabat pengawasnya, sedangkan para pejabat pengawas dan pelaksana diminta untuk memberikan penilaian tentang unit kerjanya secara keseluruhan. Pertanyaan-pertanyaan disajikan dalam bentuk pertanyaan tertutup, sehingga para peserta hanya memilih option yang tersedia dalam pilihan jawaban. Namun jika option tersebut tidak sesuai dengan apa yang ingin disampaikan maka tersedia kolom lain yang dapat digunakan untuk menyampaikan penilaian secara naratif.
Tiga puluh menit berlalu, satu per satu peserta melaporkan telah selesai mengisi questioner. Suasana ruangan kembali riuh dengan canda tawa dan komentar-komentar lepas tentang hal-hal yang urgen diperlukan untuk segera dibenahi pada unit kerja tersebut. Hal urgen paling mengemuka adalah persoalan kreativitas dan inovasi dalam menciptakan terobosan-terobosan program yang menjawab tuntutan perubahan. Ketika waktu terus berjalan dan pembicaraan mulai melebar, diskusi tentang Penilaian Prestasi Kerja Online (PPK Online), Pandemi Covid-19, hingga cuaca di kota Maumere yang terus diguyur hujan, menjadi topik tukar pikiran kami sembari cangkir hangat kopi hitam di meja bersama pisang goreng panas itu tergilas pelan-pelan. Memang kopi panas dan pisang goreng menjadi hidangan paling pas ketika hujan terus mengguyur di luar gedung kantor.
Tanpa terasa hampir dua jam kami berada di UPT Pendapatan Daerah Provinsi NTT Wilayah Kabupaten Sikka. Saatnya kami pamit. Tujuan berikutnya adalah UPTD KPH Wilayah Kabupaten Sikka. Di sana kami diterima oleh Kepala UPTD KPH Wilayah Kabupaten Sikka, Bapak B. Herry Siswadi, S.Hut. Setelah melapor diri dan menjelaskan maksud kedatangan, kami mulai membagikan questioner dalam bentuk google form untuk diisi oleh Kepala UPT KPH beserta seluruh pejabat pengawas dan perwakilan staf dari masing-masing sub bagian / bidang. Beberapa orang masih salah menginput alamat unit kerja dan nama jabatannya, namun perbaikan langsung dilakukan karena admin kegiatan ini yaitu Pak Luis Aman, tetap stand by di kantor BKD Provinsi untuk melakukan review terhadap kegiatan penginputan questioner validasi kompetensi. Setelah selesai kegiatan pengambilan data di UPTD KPH Wilayah Kabupaten Sikka, barulah kami melanjutkan perjalanan ke Hotel El Tari Indah untuk melakukan Cek-In dan makan siang.
Pada hari kedua, kami melanjutkan kegiatan validasi kompetensi manajerial pada UPTD Pengelola Prasarana Teknis Perhubungan Wilayah Kabupaten Lembata, Flores Timur, Sikka, Ende dan Nagekeo di Sikka. Kami bertemu kepala UPTD Pengelola Prasarana Teknis Perhubungan Wilayah Kabupaten Lembata, Flores Timur, Sikka, Ende dan Nagekeo (Maria Wilfrida Basilika, SE) dan menjelaskan tentang maksud kegiatan dan tujuan kegiatan. Penjelasan teknis pengisian questioner diberikan kepada Kepala UPT bersama seluruh pejabat eselon 4 (3 orang) dan satu orang perwakilan dari masing-masing sub bagian / bidang. Kepada kepala UPTD diberikan form evaluasi terhadap para pejabat pengawas dan kepada pejabat pengawas dan pelaksana, diminta untuk menilai unit kerja secara keseluruhan. Secara umum, persoalan terbesar yang sempat mengemuka adalah kekurangan tenaga pegawai, khususnya yang bertugas di terminal-terminal antara kabupaten yang menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi. “Di terminal Oka, yang merupakan terminal antar kabupaten Sikka dan Flores Timur kami hanya memiliki dua orang pegawai. Mereka ini harus bertanggungjawab untuk menarik retribusi bagi setiap kendaraan yang masuk terminal tersebut, bertanggungjawab terhadap kebersihan dan keamanan terminal dan tugas-tugas administratif lainnya yang harus dikerjakan” tutur Maria Basilika sesaat setelah selesai mengisi questioner. Tantangan lainnya adalah belum semua terminal antar kabupaten dialihstatuskan pengelolaannya dari kabupaten tersebut ke Pemerintah Provinsi NTT. “Kami masih terus melakukan pendekatan dengan pemerintah daerah agar terminal-terminal tersebut segera dialihstatuskan ke Pemerintah Provinsi sesuai dengan regulasi dan ketentuan yang ada. Kami juga memohon dukungan Pemerintah Provinsi agar melalui berbagai jalur komunikasi yang ada, bisa meminta Pemerintah Kabupaten untuk segera menyerahkan terminal-terminal yang menjadi kewenangan provinsi untuk dialihstatuskan pengelolaannya” tutur Basilika.
Setelah selesai pengambilan datan dan pengisian questioner di UPTD Pengelola Prasarana Teknis Perhubungan Wilayah Kabupaten Lembata, Flores Timur, Sikka, Ende dan Nagekeo di Sikka, kegiatan kami selanjutnya adalah menganalisis data hasil pengisian questioner tersebut dan mengklasifikasikannya ke dalam format-format laporan. Kegiatan ini berlangsung hingga hari ketiga tugas kami di Kabupaten Sikka.
Tanpa terasa kami tiba di hari ke-empat. Inilah hari untuk cek-out dari hotel dan perjalanan pulang kembali ke Kupang. Doa kami di pagi itu adalah supaya kami diberikan cuaca yang baik, pesawat yang baik, pilot dan semua petugas dalam pesawat yang baik agar perjalanan kembali ke Kupang bisa berlangsung dengan baik dan lancar.
Penulis : Unun Fernandez Akoli