BKD.NTTPROV.GO.ID - Seperti pada pertemuan terdahulu, pada tahun 2019 ketika Tim Assessment Center Provinsi NTT melaksanakan Penilaian Kompetensi pada kegiatan Job Fit JPTP, Bupati Don berbicara lepas dan apa adanya. Kali ini kami bertemunya lagi dalam rangkaian kegiatan Seleksi Terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP), Jumat (16/10/2020). Poin-poin pikirannya padat dan berorientasi jauh kedepan.
Masyarakat Nagekeo sangat mengenalnya. Selain sebagai bupati, juga pikiran, pandangan, tindakan dan daya juangnya menjadi orang nomor satu. Hemat saya, dr. Don adalah sosok visioner. Itu terbaca dari pikiran-pikirannya pada setiap pertemuan dengannya di ruang kerjanya.
Pikiran atau pandangannya ‘genuine’ dan kaya ide. Tidak ada pandangan yang direpetisi atau didaur ulang pada setiap perjumpaan. Selalu muncul ide-ide baru yang menyegarkan.
Pemimpin yang visioning (mampu melihat jauh kedepan), pemimpin yang berani keluar dari mainstream (anti kemapanan). Pemimpin yang berpikir dan berani bertindak out of the box.
Karakter kepemimpinan terbaca dari harapannya kepada para assessor SDM Aparatur Provinsi NTT untuk benar-benar memotret calon pejabat yang bukan kelompok penikmat jabatan.
Menurut dokter Don, pemimpin yang penikmat jabatan adalah mereka yang memiliki mobil tetapi sangat bergantung pada orang lain. Mereka yang suka dibantu orang lain untuk menenteng map, pegang kacamata dan lain sebagainya. Pendek kata, segala sesuatu urusan pejabat harus dilayani dan terlayani.
Ia tegaskan bahwa di masa kepemimpinannya, ia tidak membutuhkan calon pemimpin seperti itu. Ia mengimpikan calon pejabat yang mandiri dalam arti sesekali bisa setir mobil sendiri, pegang map sendiri, tenteng kacamata sendiri dan seterusnya. Itu salah satu contoh sederhana.
Mentalitas pemimpin penikmat jabatan akan tergambar dalam keseharian kepemimpinannya. Padahal memimpin (leading) itu sebuah ketrampilan. Begitu pula mengatur (managing). Sebagai sebuah ketrampilan (skills), keduanya melalui proses baik melalui pendidikan dan pelatihan, pengalaman maupun bawaan lahir.
Ada pemimpin yang lahir melalui proses pendidikan, ada pemimpin yang lahir dari proses penempaan di lapangan, ada pula pemimpin yang memang terlahir sebagai pemimpin. Tipe pemimpin yang terakhir tidak banyak, tetapi sebagai besar pemimpin lahir melalui proses pendidikan dan penggemblengan pengalaman.
Apa yang diharapkan Dokter Don? Calon pemimpin yang memiliki leading and managing skills. Pemimpin yang tidak hanya mampu memimpin juga pemimpin yang mampu mengatur. Dengan adanya penilaian kompetensi manajerial ini, ia berharap banyak dapat menemukan calon pemimpin yang diimpikannya, calon pemimpin yang mempunyai leading and managing skills.
Seorang yang memimpin (leading) semestinya bisa mengatur (managing). Tetapi seseorang yang bisa mengatur tak selamanya seorang pemimpin dalam jabatan tertentu. Tapi, seseorang yang memimpin mutlak harus bisa mengatur.
Lanjut dokter Don, selain itu kemampuan leading dan managing, seorang pemimpin harus memiliki kemampuan menyerap ilmu pengetahuan dan ketrampilan baru. Ia menganalogikan calon pemimpin dengan gelatin versus spons.
Karakteristik gelatin adalah bening, transparan, tak berwarna, rapuh jikalau kering, tak berasa serta tak mampu menyerap. Lain gelatin, lain spons. Spons memiliki kemampuan menyerap. Analogi spons ini digunakan dokter Don untuk menggambarkan calon pemimpin yang dicarinya. Pemimpin yang mampu menyerap sebanyak-banyaknya pengetahuan dan ketrampilan baru.
Alasannya tidak tertarik dengan calon pemimpin penikmat jabatan karena ia sendiri memiliki karakter kepemimpinan yang mobile yang beroerintasi pada akselerasi pembangunan. Tak heran, kita jarang menemukannya di ruang kerjanya. Selalu ada pergerakan. Entah itu kunjungan kerja, peresmian proyek pemerintah, atau kerja bakti.
Karena itu ia terus bergerak. Sasaran tembaknya adalah sektor pariwisata sinergis dengan program unggulan Pemerintah Provinsi NTT. Kita harus akui sejauh ini, potensi pariwisata Nagekeo tidak sebanyak Manggarai Barat atau kabupaten tetangganya, Ngada. Dan, berbicara pariwisata, layak diakui, Ngada 1 atau mungkin 2 langkah di depan Nagekeo. Baik infrastruktur jalan raya maupun penataannya.
Kuantitas bukan soal. Keterlambatan bukan dijadikan alasan. Bupati Don terus menggenjot sektor pariwisata. Tak heran bermunculan kampung-kampung wisata seperti Kampung Pajo Reja dan Kampung Kawa. Potensi-potensi lain sedang diidentifikasi dan digiatkan untuk mempercepat ketertinggalan sektor ini.
Sejalan dengan itu, ia mulai melihat peluang penetapan Labuanbajo Flores sebagai kawasan wisata. Menyongsong sidang G-20, Bupati Don mendorong jajarannya untuk melakukan travelling ke Labuanbajo guna mengidentifikasi kebutuhan logistik para buruh yang bekerja sektor infrastruktur dan pariwisata. Harapannya, Nagekeo dapat menjadi salah satu pemasok logisitik kesana. Dan, ia mengharapkan calon pemimpin yang mampu melihat dan menangkap peluang ini.
Disela-sela dialog, ia tak sungkan-sungkan memperkenalkan produk masyarakat Nagekeo seperti minyak kelapa Maunori, coklat Kobar, kain tenun dan VCO. Menurutnya, ini caranya mendukung masyarakatnya. Tagline “Bela Beli Nagekeo” harus dijewantahkan. Ia mengajak kami sebagai ASN untuk berbisnis. Ya, memasarkan dan menjual produk masyarakat tidak ada yang salah. Yang penting halal.
Pada pertemuan terdahulu, pada kegiatan pemetaan JPTP 2019, dokter Don menempuh strategi meningkatkan ekonomi kerakyatan. Nagekeo memiliki potensi sektor usaha dan memerlukan penguatan modal. Untuk itu, ia mengajak salah satu koperasi di Kupang untuk ‘berinvestasi’ dengan cara memberikan modal kepada para ibu. Sedangkan sektor tenun ikat, ia meminta rumah tenun Ina Ndao Kupang untuk memberikan pelatihan dan pendampingan kaum ibu yang bergiat tenun.
“Selandang yang bapak ibu kenakan berasal dari Rendu. Selendang yang berwarna hitam dan kuning itu masih asli, sedangkan yang satu (sambil menunjuk seledang yang dikenakan teman-teman wanita) berasal dari Rendu. Mereka dilatih secara khusus oleh ibu Dorce dari Ina Ndao”, ucap Bupati Don.
“Para ibu memiliki kemampuan tenun seadanya, tetapi mereka perlu diajarkan dengan sentuhan yang sedikit bervariasi.”
Karena itu dokter Don bekerja sama dengan Ina Ndao untuk melatih para penenun tentang teknik tenun dan penggunaan warna asli.
“Tenunan yang menggunakan warna asli berwarna biru dongkel, sedangkan bukan pewarna asli berwarna hitam,” paparnya.
Ucapan dan tindakan Bupati Nagekeo sejalan. Kaki dan kepala seirama. Ia mungkin lupa setahun lalu pernah berujar di hadapan saya dan saya mencatatnya secara baik. Ucapan setahun lalu itu dibuktikannya dengan hasil hari ini, selendang Rendu yang berkeliau keemasan tanpa meninggalkan nuansa telepoi-nya.
Karena waktu jualah, kami harus mengakhiri pertemuan. Bupati harus melakukan ‘kunker’ ke Raja, sedangkan para assessor harus melanjutkan tahapan assessment. Banyak hal yang ditimba dari pertemuan ini terutama tentang kepemimpinan (leadership).
Tentang kepemimpinan kita dapat belajar dari siapa saja. Tak selamanya harus membuka dan membaca buku berhalaman-halaman. Kita bisa belajar dari orang terdekat. Orang-orang di sekitar kita. Dari para pemimpin – pandangan, sikap dan perilakunya. Ya, dari pengalaman praktis mereka. Siapapun mereka. Jika ada yang dapat diteladani, mengapa tidak?
Bupati Nagekeo telah memberikan teori praktis kepemimpinan kepada kami. Semoga peta kompetensi hasil penilaian kompetensi manajerial yang dihasilkan para psikolog dan assessor dapat memenuhi harapan Bupati Don untuk menemukan calon pemimpin yang tidak sekedar sebagai kepala tetapi kepala yang berjiwa pemimpin.*
Ditulis: Gergorius Babo, S.Kom (Kasubid Penilaain Kompetensi dan Kinerja)
Foto: Novitasari Simanjuntak, SSTP