Kota Kupang, BKD.NTTPROV.GO.ID - Badan Kepegawaian Daerah Provinsi NTT menyelenggarakan Pembinaan Rohani Gabungan ASN Anggota KORPRI Lingkup Pemerintah Provinsi NTT, pada hari Jumat, 28 Januari 2022 secara virtual dan disiarkan secara live streaming melalui channel Youtube BKD Provinsi NTT. Tema Renungan : "PERWUJUDAN NILAI-NILAI DIRI DALAM MENJALANKAN TUGAS DAN TANGGUNGJAWAB SEBAGAI ASN". Hadir memberikan renungan masing-masing rohaniwan dari agama Islam : Ustad Rasyid Muzhar, S.AG,MH, agama Hindu : Bpk. Anak Agung Semara Putra, S.Ag., agama Kristen : Pdt. Ita .W. Tassi-Adoe, S.Th. dan agama Katolik : Romo Oktovianus Naif Pr. Adapun intisari renungan yang disampaikan oleh masing-masing rohaniwan yaitu :
Renungan 1
Inspirasi Suci : “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Galatia 5:22-23)
1. Nilai Diri
Nilai bukanlah segalanya namun segala sesuatu membutuhkan nilai. Self value ataunilai diri berkaitan dengan sifat-sifat dan sikap-sikap istimewa dan unggul dalam diri yang menjadi kompas bagi lisan dan laku dalam hidup dan karya setiap hari.
2. Formasi Dan Transmisi Nilai
Tak seorangpun lahir dengan membawa nilai-nilai (values). Nilai-nilai diri diperoleh dan berkembang melalui informasi dan formasi sepanjang perjalanan hidupnya. Nilai-nilai diri diperoleh dengan berbagai cara antara lain:
- Modeling – model atau contoh
Di sekitar kita ada beberapa figur yang hidupnya menawan: pikirannya, ucapannya dan perbuatannya adequate. Di tengah kita hadir pula sejumlah besar orang yang hidupnya memusingkan: lain di muka, lain di belakang... muka belakang.
Individu belajar tentang nilai-nilai diri yang baik atau buruk melalui observasi perilaku keluarga, sahabat, teman sejawat dan masyarakat lingkungannya dimana dia bergaul
- Moralizing – pembentukan moralitas
Hidup ini sesungguhnya sebuah proses formasi moral: di satu pihak kita diajak: pikirkanlah dan lakukanlah kebaikan dan cintailah kebaikan dan di lain pihak, kita diingatkan: hindarilah kata-kata dan perbuatan kotor-sadis yang mendukakan sesama dan bencilah keburukan.
Moralitas ini diperoleh dari keluarga, ajaran agama, sekolah, dan institusi tempat kita bekerja. Spasi-spasi formasi moral ini berperan penting dalam mebentuk nilai-nilai diri kita. “Dengan siapa anda bergaul, begitulah nilai diri kita.”
- Laissez-Faire – biarisme – sesuka hati
Selalu saja ada orang yang hidup menurut suka dan senangnya (mis: masuk keluar kantor sesuka hatinya). Orang seperti ini mengembangkan dan membangun sistem nilai menurut kemauannya sendiri. Nilai diri orang ini adalah suka-suka... orang jenis ini merusak suasana disiplin di mana-mana...orang ini menderita konflik internal secara akut.
- Responsible – tanggungjawab
Tanggungjawab adalah kesadaran seseorang untuk menjalankan sesuatu yang bersinggungan langsung dengan hidupnya baik dalam ranah privat maupun publik dan siap sedia menanggung segala resiko yang muncul dari sebab dan akibat. Tanggungjawab adalah penjelmaan dari nilai-nilai moral dan susila.
Orang yang bertanggungjawab biasanya: melakukan apa yang diucapkan dan mengucapkan apa yang sudah dilakukan; memiliki jiwa melayani dengan sepenuh hati; menghormati dan menghargai segala aturan; tahu dan patuh pada etika berkomunikasi; berani meminta maaf dan siap menanggung beban batin atas kesalahan yang dilakukan....
- Reward and Punishment
Penghargaan bagi mereka yang lisan dan lakunya baik dan benar; penghargaan bagi mereka yang berdedikasi tinggi dalam karya dan kerja...Sanksi bagi bagi yan berperilaku buruk, kerja ugal-ugalan, indisipliner....
3. Contoh Nilai-Nilai Diri Yang DiDambakan Semua Manusia
4. Nilai-Nilai Dasar Yang Menjadi Acuan Pelaksanaan Tugas dan Tanggungjawabz
- Akuntabilitas: perbuatan yang patut dipertanggungjawabkan
- Nasionalitas: cinta tanah air (NKRI harga mati), menghormati dan menghargai perbedaan
- Etika publik: patuh pada norma-norma baik, benar dan adil. Hindarilah keburukan
- Komitmen mutu: efektivitas, efisiensi, inovasi...kinerja tanpa cacat dan tanpa pemborosan
- Anti korupsi: anti curi, anti markup, anti amplop, anti lampiran, anti suap... A N E K A
5. Silahkan Terapkan...
6. Contoh Penerapan Nilai-Nilai Diri Dalam Hidup Pribadi
- Tetap jaga ekspektasi (asa/harapan) meski orang lain meragukannya
Sampai kapan pun, kita tak bisa meyakinkan semua orang sesuai harapan kita. Akan selalu ada yang ragu, memandang sebelah mata bahkan terang-terangan mencemooh. Kita sendiri yang rugi kalau kehilangan harapan atau ekspektasi. Sebab pemenang adalah mereka yang tetap mampu menghidupkan ekspektasi tanpa terganggu oleh pandangan negatif orang lain.
- Prioritaskan Diri Bila Tidak Merugikan Sesama
Memiliki tangan terbuka buat siapa pun yang butuh pertolongan, memang mulia. Kita mempunyai prioritas dan kewajiban pribadi yang harus tuntas dikerjakan. Kalau tidak ada yang dirugikan, tidak perlu ada penyesalan karena sudah memprioritaskan diri.
- Tetap tulus meski kita tak tahu siapa yang hanya memanfaatkan diri kita
Capek rasanya kalau kita harus mengukur ketulusan orang lain yang sebenarnya tak bisa diukur. Berilah tanpa ingin imbalan. Bersikap tuluslah tanpa butuh pujian. Orang lain ingin membalas atau tidak, biarlah jadi urusan mereka yang tak perlu dipikirkan.
- Orang lain bebas menilai diri kita, yang penting kita tak jatuh karena pandangan itu
Menetapkan hati untuk terus berdiri, hanya mampu dilakukan mereka yang punya visi kuat, jiwa matang. Selama kita yakin apa yang dilakukan benar dan baik secara moral dan susila, komentar negatif orang lain seharusnya tidak bikin kita gentar. Orang boleh berbicara tentang kekurangan kita, tetapi yakinlah kalau kita sebenarnya juga punya keistimewaan. Jangan fokus pada penilaian dari luar, tetapi fokuslah memperindah value dalam diri sendiri.“Kita memang memiliki banyak keterbatasan namun setiap kita adalah edisi terbatas.”
Inspirasi Suci : “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Galatia 5:22-23)
Renungan 2
Keadaan pandemi saat ini yang sudah memasuki tahun kedua di tahun 2022 membuat perubahan besar dalam kehidupan kita semua.
Pendapatan menurun, usaha bisnis sepi, dan juga banyak hal mengenai kesejahteraan hidup kita yang mengalami penurunan, hal-hal tersebut diatas sering membuat orang menjadi minde, rasa percaya diri hilang dan semangat hidup redup, rasa pesimis semakin meluas
Rasa minder maupun / over confidance terjadi karena salah menilai diri, sering nilai diri dikaitkan dengan sesuatu yang ada diluar diri seperti : materi, harta, jabatan , status sosial dan popularitas.
Diri dianggap berhasil kalau memiliki banyak materi, karir sukses, sebaliknya diri dianggap tidak berhasil karena materi sedikit/ gagal. Materi, kesuksesan dan popularitas berkaitan dengan eksistensi diri tetapi nilai diri yang sesungguhnya bukanlah disitu. Orang-orang bisa saja mengatakan kita sukses atau gagal karena ada fakta-fakta kesuksesan/ kegagalan tetapi penilaian manusia tidak akurat. Seperti kata para filsafat: Indra Penglihatan bisa saja tertipu, manusia tidak selalu dapat menilai diri dengan benar
Penilaian diri tidak berdasarkan pada materi, harta, jabatan, status sosial/ gelar. Segala sesuatu yang ada diluar diri merupakan hasil pekerjaan seseorang itu ada karena ia rajin, memiliki keahlian, ilmu tinggi/ lihai menangkap kesempatan, sehingga ia mendapatkan pekerjaan kompensasi besar.
Nilai diri melebihi materi, harta kekayaan, jabatan atau popularitas. Dalam diri ada kekekalan ini bisa dianologikan dengan bilangan tak terhingga. Bila bilangan tak terhingga ditambah dengan angka berapa saja, tetap saja nilainya tak terhingga, Bila bilangan tak terhingga dikurangi dengan angka berapa saja, tetap saja nilainya tak terhingga,
Apakah harta bertambah/ berkurang nilai diri tetap tak ternilai?
Tuhan menempatkan kekekalan dalam diri kita masing-masing. Ia memberikan jiwa sebagai bagian dari eksistensi kita.
Sisa potensi yang tak ternilai tersimpan, bakat/ talenta, kemauan, perasaan mencintai dan keberanian dan kekuatan-kekuatan lainnya.
Harta yang terpendam itu harus digali, dikembangkan dan diasah agar berguna bagi orang lain, bila didiamkan begitu saja, diri kita tidak banyak berarti bagi orang lain. Apapun pekerjaan anda, itu semua mulia adanya kecuali pekerjaan-pekerjaan yang immoral sepert: pelacur dan pengacau.
Bila anda melakukan pekerjaan dengan baik dan benar dan mengikuti hukum-hukum yang berlaku termasuk hukum universal, anda sudah mendekati eksistensi anda yang ideal. Jangan pernah mengangap diri rendah karena gagal tidak punya penghasilan besar, sebaiknya hindari sikap over confidence.
Apa arti semua ini? Jangan pernah mengangap diri rendah karena gagal tidak punya penghasilan besar, tidak punya harta banyak, tidak punya gelar, tidak popular tidak perlu gelisah , mider/ mengangap diri kurang berarti, sekalipun kondisi belum membaik, sebaiknya hindari bersikap over confidence, agar kita tidak menjadi orang yang sombong dan angkuh
Harga diri kita tak ternilai dan tidak dilahirkan oleh manusia tetapi oleh Tuhan.
Renungan 3
Marilah kita bersama memanjatkan syukur kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia dan nikmat dengan selalu mengucapkan “Alhamdulillah”, yang diikuti kesadaran bahwasanya semua anugerah itu berasal darinya dan memanfaatkan segala karunia tersebut pada urusan-urusan yang dikehendakinya.
Sholawat dan Taslim Kita kirim kepada Junjungan kita Nabi Muhammad saw. Serta para sahabat dan keluarga.
Bapak ibu Hadirin dan pemirsa yang berbahagia…
Renungan kita pagi ini bertemakan “Perwujudan Nilai-Nilai Diri Dalam Menjalankan Tugas dan Tanggung Jawab Sebagai ASN”
Ada sesuatu yang sangat didambakan oleh setiap orang ketika dia bersosialisasi dalam masyarakatnya. Sesuatu yang didambakan itu adalah dia“ingin dianggap sebagai orang baik”. Dianggap sebagai orang baik tidak datang tiba-tiba, dia haruslah menjadi orang baik terlebih dahulu, barulah orang lain menganggap dia orang baik…
Pertanyaannya adalah, apa sih standar orang baik itu ?
Standar orang baik itu banyak, namun dalam kesempatan ini saya akan memberikan gambaran orang baik itu sebagaimana sifat yang disematkan kepada Raslullah Saw. Apa sifat-sifat yang disematkan kepada Rasulullah ?
Sifat-sifat itu adalah :
- Siddiq (benar)
- Amanah (bisa dipercaya)
- Tabligh (menyampaikan apa yang harus disampaikan)
- Fathonah (Cerdas)
Siddiq : dia harus berkata dan berperilaku benar, sesuai ketentuan yang ada. ASN ada rambu rambu yang harus dia pedomani dalam menjalankan tugas sebagai ASN
Amanah : Ketika dia berbicara dia tidak bohong, ketika dia diberi kepercayaan dia tidak khianat, ketika dia berjanji, dia tepati janjinya
Tabligh : Apa yang harus disampaikan dia sampaikan, baik itu mengenakkan atau tidak mengenakkan
Fathonah : ASN yang dipercaya sebagai pimpinan harus memiliki kecerdasan, kalau tidak cerdas bagaimana menjadi pemimpin yang baik, yang mampu mengatasi masalah-masalah orang yang dipimipinnya.
Pertanyaan kedua, bagaimana cara kita menumbuhkan sifat, siddiq amanah, tabligh dan Fathonah itu ?
Untuk menjawabnya mari kita perhatikan salah hadits beliau, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ، وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا، وَأَجْمِعِ اليَأسَ مِمَّا فِي يَدَيِ النَّاسِ
“Jika kamu hendak melaksanakan shalat, maka shalatlah seperti shalat orang yang berpamitan dan janganlah mengatakan sesuatu yang akan membuatmu beralasan darinya dan berputus asa lah terhadap apa yang ada di tangan manusia.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Pesan penting dari hadits tersebut adalah :
Pertama : pesan untuk mendirikan shalat, memperhatikan dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya
Kedua : Pesanuntuk senantiasa menjaga dan menahan lisan
Ketiga : Ajakan memiliki sifat qonaah (cukup dengan yang kita miliki) dan hati berharap hanya pada Allah Azza wa Jalla.
Dengan ibadah yang disyari’atkan itu, maka diharapkan setiap manusia melakukan internalisasi nilai-nilai yang terkanung dalam ibadah itu, sehinga tumbuh dalam dirinya siddiq, amanah, tabligh dan fathonah.
Jika dalam diri setiap ASN telah muncul sifat-sifat itu, maka diharapkan pemerintahan akan terkelola seperti diharapkan, yang berujung kepada kedamaian dan kemakmuran seluruh rakyat Indonesi.
Renungan 4
