01 Jan

PENSIUNNYA SANG ‘AHLI PENSIUN’

BKD.NTTPROV.GO.ID, Setelah 31 Tahun 9 Bulan berkarya dalam urusan kepegawaian di lingkungan pemerintah Provinsi NTT, pengelola pensiun itu pun akhirnya pensiun. Made Budi Utama, kelahiran Singaraja, Bali Tahun 1961. Kami memanggilnya Pak Made. Di BKD dia adalah legenda. Sepanjang menjadi PNS ia hanya bekerja di Biro Kepegawaian yang saat ini sudah berubah nama menjadi Badan Kepegawaian Daerah. 
“Tidak pernah ke tempat lain, Pak Made?,” tanya saya suatu hari terheran-heran. 
“Iya saya hanya di biro UP, sejak diangkat,” jawabnya sambil merapihkan tumpukan berkas usulan pensiun di mejanya.

Di BKD Pak Made identik dengan pensiun. Hampir semua pengelola kepegawaian di Pemprov NTT bahkan tahu dimana posisi duduk Pak Made dan tumpukan berkas apa di atas mejanya. Dia sudah lebih dari 15 tahun menjadi pengelola pensiun.

Kalau soal hitung-hitungan pensiun, Pak Made memang ahlinya. Hitungannya nyaris sempurna, tidak pernah salah. Di atas meja Pak Made selalu terdapat potongan kertas yang sudah dicoret-coret yang dijepitkan pada berkasnya masing-masing. Dia biasanya memotong kertas bekas menggunakan mistar besi menjadi empat bagian. Di atas potongan kertas itulah keahliaan pak Made dituangkan.

“BUP, 02-2015, 11-1979, 3 bln-35 thn MKPns, 0 bln-2 thn PMK, 3 bln-37 thn MKP, 04-2010, 5 bln-24 thn, 9 bln-4 thn, 2 bln-29 thn MKG, 0 bln-11 thn, 2 bln-40 thn, 0 bln-3 thn, 2 bln-37 thn,” demikian salah satu cakaran pada potongan kertas Pak Made yang membuat saya mengerenyitkan dahi. Ketika itu saya baru seminggu pindah ke Bidang Mutasi.

“Apa artinya ini, Pak Made?”
“Nah ini dia diangkat dengan ijasah SMP, makanya masa kerja fiktif 3 tahun, itu kita tidak hitung Dek Luis”
Jelas saya tidak bisa langsung mengerti. Saya hanya mendapat penjelasan sepotong demi sepotong. Pak Made rupayanya tidak pandai untuk menjelaskan secara verbal ‘matematika pensiun’-nya itu kepada saya. 

Akan tetapi ketika kemudian saya mulai paham apa yang ditulisnya, saya makin menyadari bahwa Pak Made itu orangnya sangat tekun dan teliti memperhatikan semua detail berkas. Hitungannya hampir tidak pernah salah. Seorang pengelola pensiun di Kantor Regional X BKN Denpasar pernah mengeluhkan beberapa instansi daerah yang selalu bermasalah dalam menghitung detail masa kerja dan gaji pensiun, tetapi hitungan dari Pemprov NTT, katanya, biasanya tidak perlu dicek lagi. Dalam hati saya bergumam, “Pak Made kok dilawan.” 

Proses tidak pernah mengkianati hasil. Ketekunan dan ketelitian tidak pernah mengkianati kualitas output. Itulah pelajaran moral pertama yang saya peroleh dari Pak Made. Pak Made bekerja dengan rutinitas yang konstan. Setiap hari ia berjalan kaki dari rumahnya di bilangan RSS Liliba sampai ke Bundaran Tirosa. Lebih kurang 1,5 km. Di sana ia naik angkot untuk ke kantor gubernur. Demikianpun sore harinya, ia dengan angkot ke Bundaran Tirosa dan berjalan kaki dari sana kembali ke rumah. Itu dilakukannya setiap hari. Bertahun-tahun. Kalau ditawari naik speda motor, sangat jarang Pak Made mau. Katanya takut kena angin. Pak Made memang terlihat selalu menjaga kesehatan. Namun kadang-kadang kelihatan ia malu kalau selalu diantar. Ia katanya pernah belajar motor tetapi berhenti sejak mengalami kecelakaan. 

Dengan kebiasaan berjalan kaki dan naik angkot ke kantor, sejauh yang saya tahu, Pak Made tidak pernah terlambat. Kalau Pak Made tidak ikut apel pagi, itu artinya dia tidak masuk, entah karena sakit ataupun sedang tugas. Disiplin Pak Made benar-benar menggugat kebanyakan birokrat muda yang masih sering berperkara dengan disiplin padahal punya fasilitas lebih yang bisa menolong. Pak Made memberikan saya pelajaran moral nomor dua, disiplin bukan masalah fasilitas tetapi masalah komitmen dan pembiasaan diri.

Bukan hanya konsisten menjaga disiplin. Dalam bekerja pun Pak Made selalu setia menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawabnya dengan mengerahkan secara maksimal kompetensi dan keahlian yang dimiliki. Ia memverifikasi berkas secara detail dan menuntaskannya selalu tepat waktu. Ia teliti dan tanpa kompromi. Ia tidak pernah mau mentolerir sedikitpun kesalahan dan kekeliruan dalam pemberkasan. Harus sesuai aturan. Sedikit perbedaan, langsung dipulangkan ke unit kerja pengusulnya. Dengan itu Pak Made terhindar dari masalah. Dia memberikan saya pelajaran moral nomor tiga, in principiis unitas, dalam hal-hal prinsip hanya ada satu sikap, tidak boleh ada perlakuan berbeda.

Dalam pertemuan dan kerja bersama Pak Made bukan berarti kami selalu sepikiran. Akan tetapi selalu ada sisi positif yang bisa dipetik dari metode kerjanya. Saya selalu menyadari bahwa perbedaan-perbedaan dalam cara kerja adalah perkara yang wajar. Kami berasal dari dua generasi berbeda, yang dibentuk oleh lingkungan dan zaman yang berlainan. Pak Made dan orang-orang seumurnya bekerja serba manual dengan ulet dan tekun untuk menjawabi tuntutanya zamannya. Saya dan orang-orang segenerasi pun harus menjawabi permintaan zaman yang berbeda yang menuntut serba digital. Pak Made adalah bagian dari pendahulu yang sudah merintis jalan dan memberi pelajaran. Mereka tidak bisa dituntut untuk mengikuti cara yang saat ini kita anggap lebih baik. Kitalah yang mesti belajar dari mereka untuk membuat perubahan dengan cara kita agar masa depan menjadi lebih baik. 

01 Januari 2020 sang ‘ahli pensiun’ itu sudah pensiun. Namun dia meninggalkan pelajaran-pelajaran moral berharga yang tidak akan pernah ‘pensiun’. Profisiat Pak Made dan Selamat Memasuki Purna Bakti!

Penulis : Luis Aman
(Pengelola Pensiun Pegawai)

0 Comments

You Might Also Like This

Back to top