12 Aug 21

Meriahkan peringatan HUT RI: BKD NTT Promosikan Ja’i

Bkd.nttprov.go.id Sabtu, 7 Agustus 2021 bertempat di halaman kantor Gubernur NTT dalam rangka memperingati HUT RI ke 76 pada 17 Agustus 2021, semua Aparatur Sipil Negara pada Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur mendemonstrasikan tarian Ja’I yang dipadukan dengan busana adat Ngadha (Bajawa).

Henderina S. Lasikodat, SP.M.Si dalam arahan terkait tarian / ja’I yang dibawakan oleh seluruh ASN BKD Provinsi NTT menegaskan bahwa Covid-19 tidak dapat dihindari oleh siapapun tetapi mengenang perjuangan para pahlawan yang memerdekakan bangsa adalah sesuatu yang berbeda. Oleh karena itu, jauh hari dalam upaya untuk mengadakan momen ja’I bersama, ia mengingatkan pentingnya protocol kesehatan diterapkan dimanapun serta pentingnya menjaga imun tubuh.

“Virus ini ada dimana-mana, kita tak perlu takut tapi harus waspada. Untuk menghindarinya kita tidak saja harus melaksanakan protocol kesehatan tetapi juga menjaga imun tubuh kita. Makanya saya mewajibkan kita berolahraga tiap hari Selasa dan Jumad, yang didalamnya kita latihan Ja’I”

Lebih lanjut, beliau mengatakan bahwa dengan membawakan tarian Ja’I  dan kemudian menyebarkannya melalu media sosial adalah upaya melakukan promosi. Promosi yang dimaksudkan adalah bagian dari upaya mendukung NTT sebagai daerah tujuan wisata super premium serta juga untuk membantu meningkatkan pendapatan para penenun. Didalam upaya promosi tersebut ASN BKD sebagai warga Negara Indonesia, mensyukuri jasa para pahlawan yang memerdekaan bangsa ini. Sebab baginya para pahlawan telah berjuang dengan alat seadanya (bambu runcing), dan kita sekarang hanya perlu mengisinya sesuai dengan kondisi saat ini. Pandemi tidak harus mengakhiri upaya memperingati tetapi tetap menggaungkan perjuangan para pahlawan bangsa.

Pernyataan Kepala BKD Provinsi ini, diamini oleh Agnes Ina Odjan, Kabid Mutasi Pegawai yang menyampaikan bahwa dirinya membeli satu set pakaian adat Ngadha secara lengkap. “Dahulu saya memikirkan kalau saya membeli secara lengkap, saya tidak tahu bagaimana cara memakainya. Kini dengan kesempatan ini, saya tidak sekedar tahu cara memakainya tapi juga tahu apa nama dari tiap jenis dari satu set perlengkapan pakaian adat Ngadha baik untuk laki-laki maupun perempuan”. Lebih lanjut ia mengatakan dengan membeli ia turut membantu penenun dalam masa pandemi saat ini, juga merupakan upaya promosi pariwisata.

Sekilas tentang Ja’I

Tari Ja’i adalah tarian tradisional yang ditarikan oleh masyarakat pada suku-suku di Kabupaten Ngada dan Nagekeo di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) secara khusus suku Ngadha. Tarian ini adalah tarian masal yang merupakan ungkapan rasa syukur dan kegembiraan. Tari ini sering ditampilkan dalam berbagai acara seperti perayaan, upacara adat dan menyambut tamu kehormatan. Pada masyarakat suku Ngadha, tarian ini sering ditampilkan dalam ritus Sa’o Ngaza. Biasanya tarian dilakukan secara masal dan semakin banyak yang mengikuti tarian tersebut maka akan semakin hikmat. Bagi masyarakat Ngada, selain sebagai ungkapan rasa syukur, Tari Ja’i juga memiliki nilai-nilai kehidupan masyarakat yang sangat penting didalamnya.

Selain sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan mereka, Tari Ja’i memiliki nilai-nilai penting untuk kehidupan, baik dalam bersosial dan bermasyarakat. Dalam tarian ini kita bisa melihat bagaimana semangat kebersamaan yang dijalin. Berikutnya, tarian ini biasa ditampilkan di tengah kampung; lokasi yang disakralkan sebagai tempat pemujaan. Tarian Ja'i memiliki karakteristik gerak dan penggunaan ruang yang sedikit dalam bentuk barisan dan dilakukan secara berulang-ulang. Sebagai tarian massal atau tarian komunal, keindahan dan daya pikat Ja'i terletak pada keseragaman, dan energi dari para penari.

Tari Ja’i ini merupakan tarian tradisional yang dilakukan secara masal dan dapat dilakukan oleh penari pria maupun wanita. Dalam pertunjukannya para penari berbaris dan bergerak secara bersamaan dengan gerakan khas Tari Ja’I mengikuti alunan irama dari musik pengiring. Gerakan Tari Ja’i ini cukup sederhana dan dilakukan secara berulang-ulang. Namun karena dilakukan bersama-sama maka tarian ini terasa meriah dan menyenangkan.

Dalam pertunjukannya, para penari diiringi oleh irama musik gong dan gendang yang disebut dengan Laba go. Laba go ini terdiri dari dhera, wela-wela, uto-uto, meru dan laba. Kelima alat musik tersebut dimainkan dengan padu dan menghasilkan irama musik jai yang khas. dalam pertunjukan Tari Ja’i, biasanya gerakan tari harus disesuaikan dengan iringan musik Laba go tersebut. Namun demikian seiring dengan pengaruh alat music modern para seniman lokal mengubah Ja’I menjadi tarian yang termodifikasi sehingga menjadikannya semakin oleh masyarakat lainnya.

Pada tataran asli atau nuansa resmi, busana yang digunakan oleh para penari saat acara adat atau penjemputan tamu kehormatan harus menggunakan pakaian adat lengkap. Dimana untuk kaum lelaki, pakaian adata yang digunakan terdiri dari  boku, mara ngia, sapu, lu’e, keru, legajara, dhegho dan sau. Sedangkan untuk perempuan terdiri dari luamanu, lawo, mara ngia, dhegho, lega jara, kasa sese, keru, dan butu.

Dengan semakin meluasnya tari Ja’I dikenal, kini Tari Ja’i tidak hanya ditampilkan untuk acara adat tertentu saja, tarian ini juga sering ditampilkan di berbagai acara budaya, baik di tingkat daerah, nasional, bahkan internasional. Selainitu berbagai variasi dan modifikasi juga sering dilakukan dalam pertunjukannya, agar terlihat lebih menarik dan tidak kaku, namun tidak meninggalkan bentuk aslinya. Hal ini dilakukan sebagai bentuk usaha melestarikan tradisi dan budaya, agar tidak punah dan tetap hidup seiring dengan perkembangan zaman.

Penulis : JB Avodius Kapa

0 Comments

You Might Also Like This

Back to top