Kursi Panas Otan

Semau, BKD.NTTPROV.GO.ID - Pantai Otan adalah destinasi terakhir. Dua destinasi, SMAN 1 Semau Selatan dan Pantai Liman telah kami lalui. Perjalanan yang harus kami tempuh, meski menyeberangi laut dan melintasi jalan yang tak semulus jalanan di Kota Kupang. Kewajiban kami untuk mempraktekan apa yang kami terima dalam kegiatan Bimbingan Teknis Penerapan Teknologi Informasi Bagi Tim Media lingkup Badan Kepegawaian Daerah Provinsi NTT, Jumat (04/09/2020).

Apabila sehari sebelumnya, ruang rapat BKD adalah ruang kelas tertutup, tempat kami dibekali dengan ilmu jurnalistik, maka Pantai Otan adalah ruang kelas terbuka kami untuk eksplorasi lalu menyajikannya dalam narasi, gambar dan video yang menarik.

Memang melaksanakan kegiatan di dua tempat yang berbeda bukanlah hal yang mudah. Tetapi kami melewatinya dan meninggalkan jejak-jejak begitu indah. Berbagai pengalaman, pemandangan serta rajutan kebersamaan. Ada pilu, kegelisahan, canda dan tawa. Membaur. Menjadi satu rasa. Rasa sebagai petualang. Rasa sebagai keluarga.

Bukan tanpa alasan panitia memilih Pantai Otan. Begitu banyak alasan. Salah satunya, Pantai Otan adalah salah satu destinasi wisata yang memiliki fasilitas lopo dan pendopo serta bentangan pantai yang luas. Maka Otan menjadi destinasi penutup rangkaian perjalanan kami di Pulau Semau.

Semalam kami kami berkumpul di rumah bapak Lazarus, lalu kami berpencar dan menginap di rumah-rumah warga, dan paginya kami menyongsong fajar di pendopo Pantai Otan yang beratapkan ilalang dengan lebih dahulu sarapan pagi di rumah bapak Lazarus.

Kesepakatannya, kami berkumpul di sana jam 6 pagi. Karena kelelahan akibat perjalanan panjang dan beberapa kali ‘tersesat’, mata sulit terbuka dan kepala terasa tertahan di bantal. Akibatnya, perjalanan kami sedikit molor dan tiba di Pantai Otan menjelang pukul delapan pagi.

Panas yang disertai dengan angin kencang seakan menyambut kedatangan kami, namun itu tidak mengurungkan niat kami dalam melakukan acara penutupan dan diakhir dengan permainan yang disiapkan oleh panitia.

Ada begitu banyak permainan atau games yang memacu adrenalin kami seperti voli, sepak bola dan tebak gaya. Namun ada satu permainan yang menarik perhatian kami semua terutama saya secara pribadi adalah permainan KURSI PANAS yang mana media digunakan adalah kuris plastik berjumlah 11 buah sedangkan peserta lomba sebanyak 12 orang, secara logika jumlah kursi dan peserta tentunya tidak seimbang dong.

Kursi plastik yang berjumlah 11 buah disusun membentuk sebuah lingkaran utuh dan nantinya peserta lomba akan berjalan mengelilingi kursi-kursi yang ada diiringi alunan musik merdu yang sedikit mengganggu pikiran dan konsentrasi para peserta.

Nah, tentunya disini dibutuhkan konsentrasi lebih dari peserta lomba untuk tetap bertahan. Menjadi pertanyaan bagi kami semua peserta lomba bagaimana caranya atau strategi apa yang harus digunakan untuk tetap bertahan dalam permainan ini? Masing-masing kita tentunya punya jurus ampuh untuk melumpuhkan lawan-lawan kami demi mempertahankan posisi agar tidak tereleminasi.

Permainan pun dimulai. Kami mulai berjalan mengelilingi lingkaran kursi yang ada diiringi alunan musik yang sangat merdu sekali, waktu terus berputar kurang lebih 2 menit kami berjalan mengelilingi lingkaran kursi yang ada sentak suara musik pun dimatikan oleh panitia sebagai tanda bahwa kami harus mencari kursi untuk duduk, suasana pun menjadi sangat hiruk pikuk, sangat gaduh dan kami kelihatan sangat kebingungan dalam merebut kursi antar sesama peserta lomba, canda tawa pun meledak saat itu seakan menggambarkan bahwa kami melepaskan semua beban dan penat yang ada dari kehidupan ini.

Peserta yang tidak mendapatkan kursi berarti dengan sendirinya tereleminasi dari perlombaan ini.

Permainan dilanjutkan kembali dan terus berjalan sesuai dengan rencana, satu persatu peserta mulai berguguran sehingga menyisahkan dua orang peserta untuk merebut satu kursi.

Dalam permainan itu, peserta yang tersisa adalah Yap Waangsir dan saya. Mimpi untuk meraih kemenangan tentunya sangat dilematis bagi saya, namun saya tidak putus asa. Saya pun mulai berpikir keras untuk selangkah lebih cepat dari Yap yang merupakan saingan terberat saya dalam memenangkan permainan kursi panas ini.

Semua cara pun saya gunakan namun tetap menjaga keselamatan dan keamanan. Cara yang saya gunakan untuk mengalahkan Yap dan memenangkan permainan ini adalah dengan cara CURANG (Cara Unik Raih kemenANGan) cara unik seperti apa yang saya pakai?

Saya sedikit membuat lelucon untuk mengacaukan konsentrasi Yap namun saya tetap hati-hati, fokus, Lebih sigap dan tentunya tetap berkonsentrasi pada kursi sebagai tujuan akhir. Akhirnya, dewi fortuna berpihak kepada saya dan kemenangan pun diraih.

Apa rahasia dibalik pencapaian ini? Rahasianya sonde ada. Kecuali yakin sama kekuatan dahsyat yang ada pada kita sendiri dan percaya bahwa hasilnya nanti adalah yang terbaik buat kita. Nothing to lose, istilahnya.”

Apa makna dari permainan ini? Tentu setiap permainan apapun itu menyelipkan makna. Makna itu relatif bagi setiap pribadi yang memaknainya. Setidaknya, makna permainan kursi panas ini menuntut kita untuk tetap fokus pada tujuan serta mengeliminir segala pesimisme karena untuk mencapai suatu tujuan itu butuh proses bukan sesuatu yang instan.

Hawa semakin panas searah matahari berarak. Hempasan angin kencang menyeka peluh yang luruh. Permainan kursi panas usai, irama ja’i, menyapa. Kaki tak mampu lagi terbendung. Mengayung tubuh di atas lantai lopo yang berbahan kayu. Tarian ja’i ucapan sayonara, lepas pisah dengan Otan yang eksotik.

 

Penulis : Esthon Yohanis Koehua, SH