Kota Kupang, BKD.NTTPROV.GO.ID – Dalam rangka pengembangan kapasitas penilaian kompetensi, pada hari Sabtu, 1 Mei 2021 beberapa Asesor SDM Aparatur pada Badan Kepegawaian Daerah Provinsi NTT mengikuti Webinar yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni UGM atau yang lebih dikenal dengan KAGAMA. “Kompetensi SDM di era 4.0” selain menjadi judul webinar, juga merupakan judul buku karangan A.M Lilik Agung yang dibedah pada kesempatan webinar tersebut.
Selain menghadirkan penulis buku, webinar yang berlangsung lebih dari dua jam tersebut menghadirkan dua pembicara hebat, antara lain Prof. Rhenald Kasali, PhD (Founder Rumah Perubahan) dan Wikan Sakarinto, M,Sc, PhD (Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud). Webinar dibuka dengan pengantar singkat oleh Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah yang sekaligus menjadi Ketua Umum KAGAMA).
Dalam pemaparannya, Lilik Agung menyampaikan bahwa kompetensi SDM yang diperlukan di era 4.0 antara lain: kompetensi mengelola manusia, keterampilan berkomunikasi, kreativitas dan inovasi, berpikir kritis dan problem solving, pelayanan prima, dan kolaborasi.
“Semua yang disampaikan Mas Lilik itu soft skills”, kata Wikan membenarkan. Menurutnya, apa yang dikatakan Lilik sejalan dengan keluhan dunia industri terhadap lulusan Perguruan Tinggi yang umumnya kurang tahan menghadapi tekanan, kurang dapat bekerja sama, kurang mampu berkomunikasi, mudah bosan dan kurang inisiatif.
Karena menilai kurikulum lama terlalu hard skills, Wikan lantas membahas konsep perbaikan dan pengembangan kurikulum dengan konsep ‘merdeka belajar’ dan penekanan pada project-based learning yang lebih berorientasi pada soft skills. Namun di atas semuanya itu, Wikan menggarisbawahi perlunya perubahan mindset semua stakeholders pendidikan dan industri.
“Kompetensi erat kaitannya dengan kompetisi. Kalau kita berkompetisi in the past, kita butuh the past competencies, tapi kalau kita berkompetetisi for the future, maka kita butuh kompetensi yang berbeda, rumah/wadah yang berbeda, dan business process yang berbeda pula”, demikian Rhenald Kasali menjelaskan.
“Sebagai contoh, sejak 15 tahun lalu mengetik sudah jadi keterampilan yang obsolete (usang). Sertifikat mengetik tidak bisa dipakai lagi untuk mencari kerja. Begitu pula dengan beberapa pekerjaan lain”, kata Rhenald mencontohkan. Jadi akan ada banyak generasi yang akan disebut ‘useless generation’ bila tidak dibekali kemampuan-kemampuan untuk mengadaptasi perubahan.
Karena itu, untuk menghadapi tuntutan perubahan di era 4.0 yang sebentar lagi akan tergantikan oleh 5.0, diperlukan beberapa kecerdasan/kemampuan (kompetensi) baru seperti: kemampuan eksploratif (lifelong learning), kemampuan membaca konteks, kemampuan memerikasa/memvalidasi kebenaran, dan kemampuan menciptakan transformasi dan kendaran baru (new vehicles) untuk perubahan.
Sekitar 3000 peserta yang hadir dalam webinar tampak antusias mengajukan pertanyaan melalui kolom chat pada aplikasi Zoom Meeting. Dua pertanyaan besar yang disampaikan antara lain terkait robotisasi pekerjaan dan bagaimana mengukur kompetensi.
Menanggapi kegelisahan peserta tentang kemungkinan tergantikannya peran manusia oleh mesin, Prof Rhenald menjelaskan bahwa setiap beberap tahun, job akan useless, tapi work tetap ada. “Dunia tetap perlu operator mesin, namun mesinnya saja yang berbeda. Dunia tetap perlu foto, namun kamera dan tujuan penggunaannya saja yang berbeda”, demikian kata Rhenald.
Wikan menambahkan bahwa ada pekerjaan yang obsolete, namun ada juga yang emerge (baru muncul). Yang lebih cepat obsolete adalah yang hard skills. Karena itu, penekanan perlu kita berikan pada pengembangan soft skills.
Terkait pengukuran kompetensi, baik Rhenald maupun Wikan sama-sama memberi catatan kritis. Menurut Rhenald, pengukuran penting untuk melakukan standardisasi, namun bukan untuk membanding-bandingkan. Standardisasi adalah karakter 3.0, sedangkan karakter 4.0 justru memberi ruang bagi karakter individu dengan segala keunikan yang tidak bisa distandardisasi.
Merespon pertanyaan peserta, Wikan menyebut sejumlah alat ukur kompetensi. Namun bagi Wikan yang penting bukan pengukurannya, tetapi bagaimana evaluasi dan feedback membuat kita mau berubah. Karena itu, kata Wikan, kurikulum kita harus agile, lincah, dan adaptif terhadap perubahan.
Penulis: Wilfrid K. Nono