Keharuman Cinta [Harus] Melewati Duri Untuk Ardus dan Asumta Pada Hari Pernikahan

ESAI, BKD.NTTPROV.GO.ID – Fajar pagi menyapa kota Ende. Melumuri Gunung Meja. Menyulap penampakan gunung kebanggaan Ende berwarna hijau kekuning-kuningan. Suasana alam yang menyenangkan untuk mengawali sebuah perjalanan hari itu. 

Semalam saya, Anna, Ardy, dan Amfy bersepakat menyewa sebuah mobil untuk melakoni sebuah perjalanan cinta. Ya, perjalanan cinta, saya menyebutnya. Karena tujuannya untuk sebuah perayaan cinta rekan kerja kami, Ardus dan sang istrinya. 

Ardus. Pria yang kami biasa sapa. Perawakan mirip ‘bule’. Tapi dia asli orang Bajawa, mempersunting nona Nagekeo, Maria Asumta. Mereka dipersatukan dalam sakramen suci di Gereja Centrum Danga Mbay, Jumat (25/09/2020). 

Sejak saya bergabung di BKD, Februari 2019, tapi saya belum mengenalnya secara dalam jika dibandingkan dengan teman-teman satu bidang kerjanya. Tapi, yang khas dari sosok ini, ia selalu menyapa, “ka’e” (kakak), setiap kali berpapasan. 

Begitupula Asumta, istrinya. Saya bertemu sekali di ruang kerja Bupati Nagekeo,  November 2019. Kala itu, saya melaksanakan tugas pengawasan Penilaian Kompetensi Manajerial JPTP. Salah seorang assessor memperkenalkannya kepada saya.

Pernikahan suci adalah permulaan jalan Ardus dan Asumta. Jalan menuju mahligai rumah tangga yang dicita-citakan. Seturut harapan semua orang, keluarga, sahabat dan kenalan serta “yang berbahagia” sendiri – Ardus dan Asumpta.

Karena perkawinan adalah permulaan pelayaran biduk rumah tangganya, kami sekeluarga Badan Kepegawaian Daerah Provinsi NTT layak mendukungnya, melepaskan dan mendoakan pelayaran biduk rumah tangga agar berlayar hingga tujuan.

Wujud dukungan dan doa adalah salah satunya kehadiran kami yang mewakili Keluarga Besar BKD Provinsi NTT. Meskipun tak semua hadir, karena jarak, urusan pekerjaan dan sejumlah pertimbangan lainnya, kehadiran kami cukup mewakili pimpinan BKD, jajaran serta seluruh stafnya.

Karena itu, di tengah semakin meningkatnya Covid-19 tak menghalangi niat dan dukungan kami kepada Ardus dan istrinya. Saya, Om Blas, Ardi, Anna, dan Amfy menempuh perjalanan panjang dari Ende. Tekad kami bisa menghadiri misa pemberkatan kudus Ardus dan istrinya.

Kedatangan kami di Gereja Centrum sedikit telat karena jemputan terlambat datang dan area jemputan berbeda-beda. Sehingga kami tidak sempat menyaksikan ritual pemberkatan, pengikraran janji perkawinan dan penyematan cincin. Dari luar gereja, terdengar tepukan tangan riuh. Pertanda ritual pemberkatan telah usai tapi perayaan ekaristi dilanjutkan. 

Kami gegas menyelinap ke dalam gereja bersama dengan undangan lain yang baru tiba. Mengikuti rangkaian ekaristi yang tersisa. Sebelum pemberkatan penutup, perwakilan keluarga memberikan sapaan. Saya sempat mendengar dengan sangat jelas  bahwa perjalanan Ardus dan Asumta dimulai tujuh tahun silam. Mereka melewati berbagai ujian maha berat seperti kecelakaan dan ujian hidup lainnya. 

Usai berkat penutup dan doa penyerahan keluarga baru kepada Bunda Maria, dilanjutkan dengan sesi pemotretan. Sebelum pemotretan, kami menyalami Ardus dan Asumta ala salam Covid. Kami berfoto di depan altar.  Kemudian bergabung dalam rombongan dan beriringan menuju rumah pengantin perempuan. Di sanalah pelaminan dan resepsi dihelat.

Ketika masih di dalam gereja, hawa panas terasa. Bikin[g] keringat meleleh. Saya dan istri beberapa kali pindah tempat duduk. Apalagi keadaan di luar gereja sangat panas. Itulah Mbay. Alamnya tak ‘ramah’ kala itu. Rasa gerah.

Suasana alam tak bersahabat, eforia kebahagiaan tergerus adanya Covid-19 meskipun dentuman musik melampui bubungan. Suasana tak seperti normalnya. Jaga jarak. Komunikasi pun dibatasi. 

Alam dan Covid-19 memang membatasi ruang, jarak dan komunikasi apalagi salam-salaman. Yang bisa dilakukan hanya tersenyum. Melipatkan kedua tangan sembari membungkuk badan. Menyapa tetamu undangan yang lain. Terutama dengan yubilaris, Ardus dan Asumta.

Tiada kata-kata yang ditinggalkan saat berpisah dengan Ardus dan istrinya selain foto bersama, ucapan salam dan menyampaikan dukungan dan iringan doa dari Keluarga Besar BKD. Tiada ‘pesan dan kesan’ serta canda yang terlontar karena  suasana ‘yang mencekam’ – gegara hawa dan Corona.

Aura kebahagian Ardus dan Asumta tak luruh. Mereka terus menyunggingkan senyum. Menyapa semua orang yang datang dan pergi. Pada waktunya cinta diuji. Ditempah ibarat besi. Seberapa kokoh cinta itu?  Seberapa besar tempaan itu! Ya, cinta Ardus dan Asumta diuji badai alam dan Covid.

Tujuh tahun, tiga tahun lagi genap sedekade masa pacaran. Durasi waktu itu bisa menjadi bagian dari penempaan relasi Ardus dan Asumta. Pasti, masa-masa itu tak selalu mulus. Onak duri bertebaran sepanjang perjalanan itu. Ketahanan dan kesetiaan jualah yang memampukan Ardus dan Asumta melewati jalan itu. Buktinya, mereka ikrarkan janji setia di altar Tuhan hari itu. Juga, seperti yang disampaikan bapak yang mewakili keluarga di gereja saat menyampaikan sambutan.

Namun, ketika cinta dalam persepektif [Ke)Tuhan[an], maka waktu menjadi tidak berarti. Karena Tuhan adalah Sang Waktu itu sendiri. Alfa dan Omega. Lama atau singkat adalah bukan ukuran-Nya tetapi keputusan-Nya selalu mutlak dan tepat. 

Di mata Tuhan, lamanya waktu tak bisa menjamin kelanggengan sebuah cinta. Kekuatan cinta (the power of love) itu tidak dikekang oleh waktu. Masa pacaran yang panjang bukan menjadi kunci pelayaran bahterah akan berlabuh pada tujuan. Toh, ada yang melewati masa begitu panjang dan akhirnya berujung pada perpisahan. Dengan kata lain, kualitas kerap tak ditentukan oleh kuantitas, seberapa lama relasi itu dibangun, seberapa cinta itu disemaikan dan ditumbuhkembangkan.

Karena itu, Cinta butuh campur tangan Tuhan. Masa pacaran adalah ‘bumbu-bumbu’ atau seni perjalanan sepasang manusia yang memadu kasih. Permulaan perhentian sebelum pelayaran cinta dimulai. Dan, Sakramen Pernikahan Kudus menggenapi setiap perhentian itu. Memurnikan hakekat cinta sejati. Cinta yang dianugerahkan Tuhan dan Tuhan pula yang memeteraikannya. Dan, Tuhan adalah Cinta itu sendiri.

Tuhan dengan cara-Nya menggenapi cinta Ardus dan Asumta. Tujuh tahun masa pacaran adalah ujian bagi mereka. Mereka telah melampaui ujian itu. Oleh Tuhan digenapi dengan meterai di altar-Nya melalui tumpangan tangan Imam dan disaksikan oleh umat Allah.

Sebelum meninggalkan Mbay dan berhenti sejak di ‘lookout’ Bukit Lape. Memandang jauh hamparan Mbay dan menorehkan puisi meskipun dalam pikiran untuk dua insan yang memadu kasih – Ardus dan Asumta.

Cinta itu pasti terluka
Bukti kita [masih] manusia
Lemah raga
Rapuh jiwa

Amarah koyakkan 
Api cemburu [mungkin] nyaris hanguskan
Lembaran cinta

Segala rasa itu pernah ada
Tumpah ruah sepanjang perjalanan cinta
Hati tersayat sebabkan luka

Tuhan menyembuhkannya
Di mezbah-Nya
Pada waktu-Nya 

Menuju keharuman Cinta
Melewati duri
Ardus dan Asumta berbagi
Kisah cinta suci
Kepada kami

Mbay, 25 September 2020.

 

Penulis: Goris Babo