Kota Kupang, BKD.NTTPROV.GO.ID – Di sela-sela rapat bulanan anggota yang bertempat di Ruang Rapat BKD Provinsi NTT pada Jumad, 11 September 2020, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Badan Kepegawaian Daerah Provinsi NTT, dr. Maya Angi Manubulu, Sp.A, M.Kes mengatakan, “Dia bisa, katong (kita) juga harus bisa”. Kata-kata motivasi untuk para anggota DWP tersebut disampaiakannya sesaat sebelum pegawai Bank NTT mempresentasikan sebuah produk baru bernama ‘Di@ BISA’.
Seperti diketahui, Dharma Wanita adalah oganisasi wanita terbesar di tanah air yang didirikan tahun 1974 dan kemudian mereformasi diri menjadi Dharma Wanita Persatuan pada tahun 1999 (mengikuti nama Kabinet Indonesia Bersatu pada masa pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid). Organisasi ini terdiri atas istri para ASN yang bekerja di instansi pemerintah dengan cita-cita awal mendukung tugas suami sebagai aparatur negara dan abdi masyarakat.
Dengan beranggotakan 38 orang, DWP BKD adalah salah satu unit yang cukup aktif dan secara berkala menggelar rapat bulanan dengan para anggotanya. Selain melakukan arisan, ibu-ibu Dharma Wanita juga dibekali informasi dari para narasumber yang kompeten di bidangnya dalam rangka membina dan meningkatkan kesejahteraan para anggotanya.
“Bak gayung bersambut, bulan ini kami menghadirkan narasumber dari Bank NTT yang kebetulan punya kebutuhan untuk mensosialisasikan sebuah produk jasa terbaru bernama Di@ BISA,“ demikian disampaikan Ny. Luh Putu Megasari selaku Bendahara merangkap sekretaris DWP BKD. Narasumber yang hadir adalah Tim Marketing Funding Cabang Khusus yang beranggotakan Marthen L. Ninu, Wening A. Ruchiyat, dan Monna E. R Huma.
Seperti dijelaskan Mona, salah satu representasi Bank NTT, Di@ BISA (Digital Agen Bank NTT) adalah sebuah produk unggulan Bank NTT yang dimaksudkan untuk mendukung kegiatan bisnis online payment seperti Pembelian Pulsa Telepon dan Token Listrik, Pembayaran TV Berlangganan, Iuran BPJS Kesehatan, Pajak kendaraan bermotor melalui menu Samsat Online, Pajak Bumi dan Bangunan dengan menu e-PBB P2, Tagihan Air PDAM, bahkan ada juga menu Registrasi Keuangan bagi para Mahasiswa (Saat ini sudah tersedia untuk Universitas Citra Bangsa).
Yang menarik dari produk ini, untuk setiap transaksi pemilik rekening akan mendapatkan sharing fee dari tiap transaksinya. Selain itu, tidak ada biaya administrasi bulanan seperti rekening yang selama ini sudah dimiliki oleh ASN di Lingkup Pemerintah Provinsi NTT.
“Sebagai contoh, untuk transaksi pembelian pulsa listrik dengan rekening biasa, kita dikenai biaya admin Rp. 3.000, tapi khusus untuk Member Di@ BISA akan mendapat sharing fee dari biaya admin tersebut sebesar Rp. 1.800 per transaksi di luar keuntungan langsung yang diterima oleh member,” demikian Monna menjelaskan.
Namun untuk bisa memiliki produk ini, nasabah (Member) harus memiliki HP android dan setoran awal minimal Rp. 500.000. Selain itu, Member juga harus menginstal aplikasi NTT Pay dan Menu Di@ BISA akan diaktifkan secara langsung oleh petugas Bank.
Penjelasan Tim Marketing Bank NTT Cabang Khusus ini disambut banyak pertanyaan dan saran, di antaranya dari Sekretaris BKD, Octa Grandi Floris Angi, SH, yang juga hadir pada kesempatan tersebut. Secara umum, pertanyaan maupun saran terkait kepraktisan produk tersebut.
“Kami para ASN sudah memiliki rekening Bank NTT, bahkan ada yang lebih dari satu rekening. Apakah bisa jika produk ini diintegrasikan ke dalam rekening dan aplikasi yang sudah ada?” kata salah seorang penanya. “Sebelum berbisnis kami harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit unutk membeli HP, bagaimana jika Bank NTT bisa mengaturnya supaya kami cukup menggunakan satu HP saja?” tanya peserta yang lain.
Pertanyaan peserta lantas memancing naluri marketing Monna. Ia menjelaskan, jika tidak mau mengeluarkan biaya untuk membeli HP, Bank NTT juga menyediakan produk Tabungan Cashback.
“Hampir mirip dengan Deposito, bapak/ibu menyimpan uang dalam jangka waktu tertentu. Bedanya, pada produk ini, selain menerima kembali uang beserta bunganya di akhir masa blokir, nasabah juga bisa mendapatkan barang di awal pada saat penempatan dana. Jenis barang yang akan diterima juga disesuaikan dengan besar dan lamanya jangka waktu yang di pilih oleh nasabah,” demikian Monna menjelaskan.
“Barang yang bisa diterima bermacam-macam, mulai dari HP hingga mobil. Contohnya, dengan dana yang di blokir Rp.10.000.000 selama 5 tahun, nasabah bisa memiliki HP Android yang baru secara langsung. Ketimbang nasabah membelinya di toko dan uangnya habis hanya untuk membeli HP baru, sebaiknya uang tersebut diinvestasikan,” kata Monna mencontohkan.
Ini adalah opsi-opsi yang ditawarkan kepada para anggota DWP BKD untuk menunjang kesejahteraan keluarga. Apakah ada yang mau menggunakan produk tersebut, kembali kepada masing-masing keluarga. DWP sudah memfasilitasi dengan menghadirkan narasumbernya.
Terlepas dari apakah ada yang akan menggunakan produk tersebut, yang pasti Di@ BISA sudah memantik semangat ibu-ibu untuk harus bisa mengelola keuangan rumah tangga dengan bijaksana demi mendukung kinerja para suami. DWP BKD bisa….!
Penulis: Wilfridus M. K. Nono