Saling Mengasihi dan Berpengharapan kepada Kasih Allah

Kota Kupang, BKD.NTTPROV.GO.ID - Badan Kepegawaian Daerah Provinsi NTT menyelenggarakan Pembinaan Rohani Gabungan ASN Anggota KORPRI Lingkup Pemerintah Provinsi NTT, hari Kamis, 28 April 2022 secara virtual dan disiarkan secara live streaming melalui channel Youtube BKD Provinsi NTT. Tema Renungan : "Saling Mengasihi Dan Berpengarapan Kepada Kasih Allah" . Hadir memberikan renungan masing-masing rohaniwan dari agama Islam : Ustad Rasyid Muzhar, S.AG,MH, agama Kristen : Pdt. Leo Lakapu, S.Th, agama Islam : Drs. H. Lukman Sara, M.Pd, agama Katolik : Pater Yulius Yashinto, SVD dan Hindu : I Wayan Wira Susena, SE. Adapun intisari renungan yang disampaikan oleh masing-masing rohaniwan yaitu :

Renungan 1 (Sudut pandang agama Katolik)
Pokok-Pokok Pikiran  Renungan

1. Introduksi:
Apakah tantangan utama kasih antar manusia di era baru ini?  Jawabannya: Perwujudan kasih antara manusia semakin simbolik dan kurang substansial.
Apakah tantangan utama pengharapan seorang manusia di era baru ini? Jawabannya: manusia terlalu berharap pada hal-hal yang membuatnya tetap bergantung dan tidak pernah puas.

2. Luk. 10 : 25 - 37: Siapakah sesamaku?
Menjawab pertanyaan “siapakah sesamaku?”, Yesus mendorong kita untuk bersikap penuh perhatian dan belaskasihan kepada sesama, terutama yang sedang berada dalam kesulitan, sebagai pwewujudan dari cinta kasih.
Ada tiga hal penting yang diberikan oleh Orang Samaria yang Baik Hati:
    1. Perhatian
    2.
Waktu
    3. Bantuan Material.

3. Tantangan kita Saat ini.
- Disrupsi Teknologi dan Pandemi Covid 19 mengubah sendi-sendi utama relasi antar manusia. “Technology Based Communication” menjadi primadona, mengalahkan komunikasi langsung dari muka ke muka. Yang dulunya merupakan sarana pendukung, sekarang justru menjadi yang utama.
Komunikasi terjadi antara alat ke alat, benda mati ke benda mati, sementara kita yang hidup menjadi unsur tambahan yang berada di balik peralatan dan teknologi.
Pandemi Covid 19 menguatkan “pandemic komunikasi” antara manusia, dengan peran teknologi komunikasi dan informasi sekaligus sebagai penyelamat dan penjajah baru. Ada ironi tentang “jauh” dan “dekat”: yang jauh terasa dekat, yang dekat terasa jauh.

Demi protocol kesehatan, banyak aturan dan tata krama dalam relasi social berubah secara mendasar atau harus dimodifikasi.

- Manusia semakin dalam dijajah oleh pola konsumsinya sendiri. Veblen: “Untuk menjadi terkenal, seseorang harus menjadi boros”.
Manusia sekarang dicirikan leh budaya nafsu mengejar kekayaan material dan pola konsumsi yang menyolok, yaitu pengeluaran sia-sia untuk kesenangan semata dan Hasrat untuk meninjolkan prestise/status social.

Akibatnya, pengharapan kita diganti oleh ambisi-ambisi yang merugikan diri sendiri  karena sulit terpenuhi.

4. Lalu apa yang harus kita lakukan?
- Menggunakan prinsip-prinsip moral keagamaan untuk melawan penjajahan teknologi komunikasi dan budaya konsumsi.
- Perlu memupuk sikap bebas, lepas..dan karena itu praktek puasa menjadi penting.
- Membiasakan korban sebagai ciri umum kasih: korban perhatian, waktu, materi, prestasi, gensi.
- Meningkatkan harapan pada kasih Allah.

Renungan 2 (Sudut pandang agama Islam)
Manusia adalah Mahluk sosial tidik bisa hidup sendiri sebatang kara tapi selalu membutuhkan orang lain saling ketergantungan antara satu dengan yang lain seperti orang kaya membutuhkan orang miskin demikian sebaliknya orang miskin membutuhkan orang kaya.

Kita manusia masih berada dikandung mama saja selalu kita membutuhkan makanan yang di makan oleh mama kita ambil sari pati makanan itu lewat Tali Pusat Mama, minumpun demikian mama yang minum kita tinggal ambil lewat saripati mama.

Demikian kehidupan sehari-hari tidak selamanya bahagia dan sukses terus tapi kadang kita menghadapi tantangan dan hambatan dating silih berganti kehidupan ini ibarat seorang nahkoda kapal yang melayar bahteranya di tengah lautan mula-mula air laut mengalun dengan tenang, anginpun menghembus dengan sepoi-sepoi basah namun pelayaran sudah berjalan jauh dari tepi pantai air laut mulai besar angina topanpun semakin kencang, langit pun mendung awan gelap menutupi haluan kapal, badai memporak porandakan kapal semua anak kapal bersama kapten mulai risau, gelisah, penuh ketakutan di situlah kita manusia sangat membutuhkan bantuan dan pertolongan orang lain, maka hidup ini pula membutuhkan cinta kasih sayangsayingyangi harga menghargai.

Tidak pula saling bermusuh-musuhan, saling membenci, saling hujat, dengki, dan iri, lihat saja pengolokan alam ini kadang mematikan manusia dalam sekejab saja seperti :

- Meletusnya gunung berapi ribuan manusia mati sekejab saja. Sawaladang pekarangan dan rumah tinggal hancur musnah.
- Gempa bumi tanah longsor ribuan manusia mati sekejab saja.
- Gempa, Tsunami, air bah sapu bersih manusia mati sekejab saja.
- Peperangan pun menghabiskan ribuan nyawa manusia.

Lantas untuk apa kita manusia saling bermusuhan yang berakibat pada kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan kita ketinggalan, kita mundur kehidupan sosial ekonomi Negara kita menjadi miskin. Daerah kita menjadi miskin bodoh-papah tidak berdaya apa-apa kita ketinggalan dalam semua lini kehidupan baik pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sosial politik.

Lewat forum yang mulia ini kita  sama-sama mohon kepada Allah yang maha kasih dan maha penyayang.

- Ya Allah letakan cinta dan kasih saying itu pada tutur bahasa kami
- Letakan Cinta dan Kasih saying itu pada pikiran dan hati kami
- Agar kami selalu sayang Menyayangi
- Kami selalu harga menghargai
- Kami selalu saling kompak dan bersatu dalam membangun kampong tanah tumpah dara kami flobamorata yang tercinta ini.

Renungan 3 (Sudut Pandang Agama Kristen Protestan)
Pembacaan: Yohanes 15:9-17

Dalam hidup sebagai orang percaya, Tuhan mengajarkan agar hidup ini diisi dengan hal-hal yang berguna dan bermanfaat. Pernah ada lagu yang sangat terkenal yang berjudul “Hidup Ini Adalah Kesempatan”. Maksudnya, setiap waktu dan kesempatan jangan dipakai untuk hal-hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Perintah untuk saling mengasihi adalah perintah yang Tuhan Yesus berikan, yang memang dalam hukum taurat, perintah ini sudah ada. Akan tetapi, sekarang Tuhan Yesus menjadikannya bukan lagi sebagai hukum taurat, tetapi sebagai sebuah perintah langsung, bukan lagi hukum atau aturan. Jadi, kita mengasihi bukan lagi sebagai bentuk taat pada aturan, tetapi kita mengasihi karena taat kepada perintah Tuhan Yesus.

Perenungan yang pertama:

1. Mengapa Tuhan Yesus menyuruh kita untuk saling mengasihi? (ayat 9)
    Contoh lampu bisa pancarkan cahayanya
    Contoh bulan bisa pancarkan/pantulkan 

2. Supaya kita bisa mengasihi, maka kita harus tinggal di dalam kasih-Nya. Menurut saya, tinggal itu berarti kita tetap dan selalu di dalam Tuhan. Sebagai contoh, lampu akan terus bernyala kalau terus terhubung dengan sumber listrik.

(Ayat 10) Satu hal yang diajarkan: tinggal di dalam Tuhan akan mudah saat kita tiap hari tekun berdoa dan baca Alkitab bersama. Itu sama seperti kita mengundang Tuhan masuk dalam hidup kita. Mengapa Alkitab mengajarkan kita demikian? Kaewna kita bodoh. Kita lemah dan kita harus mengandalkan Tuhan. Seorang bapak bertanya kepada pendeta, “Pak, saya terlalu sibuk kerja dari pagi sampai malam. Sering capek dan malam hampir-hampir tidak bisa berdoa. Jadi saya doa sambil baring-baring. Apakah tidak apa-apa, Bapak Pendeta?” 

Ya, bagi Tuhan tidak apa-apa. Tapi bagi saudara yang bisa kenapa-kenapa. Doa sambil baring bisa amin tidak? Jangan sampai aminnya di pagi hari. Doa malam dan doa pagi digabung dengan durasi 8 jam.

3. Kunci/dasarnya ialah: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu...” (ayat 16). Jadi saudara-saudara, urutannya ialah Allah memilih kita, Ia memberikan kasih-Nya pada kita agar kasih itu kita bagikan kepada sesama dan menghasilkan buah.

· Buahnya ada manfaat dan kegunaan
·
Buahnya tetap: kasih. Tidak bisa berubah.

Jadi, hidup kita harus berbuah dan buah itu tetap. Ada contoh sederhana bagimana bagaimana hidup bisa berdampak, yaitu dengan menjalankan tugas kita sebagai garam dan terang dunia.

Tuhan Yesus memberi perintah agar kita saling mengasihi dan untuk saling mengasihi kita mesti berpengharapan pada kasih Allah. Akhirnya, Alkitab juga mengumpamakan wujud kasih itu seperti yang terdapat dalam 1 Korintus 13: Tentang Kasih.

· Kasih itu sabar
· Kasih itu murah hati
· Dst.

Penutup: baca ayat 13

Jadi, maksudnya supaya kita tidak berlalu dalam kesia-siaan dan supaya kita memperoleh kekekalan hidup – melalui 3 hal in. Semua oleh anugerah Kristus Tuhan. Amin.

Renungan 4 (Sudut Pandang Agama Hindu)

Melayani dalam Konsep Hindu

Menggunakan hikmat Tuhan dan tetap setia dalam melayani sesama

‘Na karmanam anarambham,naiskarmyam puruso’snute,na ca samnyasanad eva,siddim samadhigachati’

Tanpa kerja dan pelayanan ,orang-orang tidak akan mencapai kebebasan,demikian juga ia tidak akan bisa mencapai kesempurnaan, karena menghindari kegiatan kerja dan pelayanan pada sesame

Begitu pentingnya melayani antar sesama manusia sehingga para arif bijaksana menyebutkan ‘ Manawa Seva Madawa Seva’, pelayanan kepada sesame adalah juga pelayanan kepada Sang Pencipta. Melayani dalam Hindu adalah sebuah keharusan, karena untuk melaksanakan Karma Yoga dengan baik maka melayani atau seva harus dilaksanakan terlebih dahulu. Barangsiapa tidak mau melayani, janganlah dia mengharapkan mendapatkan pelayanan dari orang lain.Pelayanan / Seva adalah penopang kesempurnaan dari keempat jalan menuju Hyang Widhi yang disebut Catur Marga Yoga yang terdiri dari : Raja Yoga,Karma Yoga, Bhakti Yoga dan juga Jnana Yoga.

Melayani dalam konsep Hindu meliputi  semua jenjang kehidupan dari kelahiran sampai kematian. Bayi baru lahir mendapatkan pelayanan penuh kasih sayang dari Ibu dan seluruh keluarga tanpa harapan untuk mendapatkan balasan. Demikianlah hendaknya pelayanan itu dilakukan berlandaskan cinta kasih seperti kasih Ibu kepada anaknya. Maka setelah kedua orang tuanya berusia lanjut, maka anaknyalah yang berkewajiban untuk melayani kedua orang tuanya. Orang tua sanggup untuk menghidupi serta melayani 10 orang anak anaknya tapi 10 anak belum tentu sanggup untuk melayani dan memperhatikan kedua orang tuanya.

Sarasamuccaya 247 menyatakan : Orang yang ditinggal oleh Ibu atau kedua orang tuanya akibat  bermusuhan, maka dia disebut orang yang miskin rohani dan hina secara jasmani serta akan menerima duka serta nestapa. Karena itu mulailah dari rumah tangga sendiri , layanilah orang tua kita dengan penuh cinta kasih. Pelayanan yang kita berikan kepada sesame harus tepat sasaran kepada orang orang yang sangat memerlukan uluran tangan kasih pelayanan.

Pelayanan yang paling mudah yang bisa kita berikan kepada sesame adalah SENYUM yang muncul dari ketulusan hati. SENYUM ( Selalu Nyaman Untuk Melayani). Senyuman adalah karunia dari Sang Pencipta, yang mempunyai makna mendalam dan orang yang tersenyum tulus menandakan hatinya diliputi kebahagiaan. Dalam bersembahnyangpun kita diwajibkan tersenyum sebagai wujud terimakasih kita atas segala karunia yang telah kita terima. Berikanlah senyummu untuk semua orang, tapi berikanlah cintamu hanya untuk satu orang.

Saat ini dunia masih bergelut dalam menghadapi pandemic yang belum berakhir, banyak saudara saudara kita yang terdampak langsung , ribuan anak sekolah mengalami masalah dalam pembelajaran karena ketiadaan biaya dalam melaksanakan pembelajaran daring dan juga sector ekonomi, pemerintahan juga menerima dampaknya dengan begitu banyaknya dana dana pembangunan yang dipangkas untuk dialihkan ke penanganan  pandemic. Semua hal ini memerlukan perhatian kita Bersama untuk mulai terlibat dalam pelayanan peayanan sederhana sebagai bukti kepedulian kita terhadap sesame. Dalam Canakya Niti Sastra disebutkan :  Paropakaranam Yesam Jagarti Hrdaye Satam,Nasyatam Vipadas Tesam Sampadah Syuh Pade pade ( Dia yang  senantiasa memeikirkan untuk mengupayakan kepentingan dan kebahagiaan orang lain, segala kesedihan akan terhindarkan dan ia akan mendapatkan kebahagiaan, keberuntungan serta kedamaian dalam kehidupannya}.

Jadi jangan pernah ragu untuk menjadi pelayan dalam Dharma, dengan melayani dan mempersembahkan segala pelayanan tulus kita  kepada Hyang Widhi, kita sejatinya telah memberi makna akan keberadaan kita sebagai manusia yang mulia.