07 May 21

Pembinaan Rohani "Pertolongan Allah di Tengah Badai adalah Sebuah Anugerah dan Kasih Sayang kepada Umatnya"

Oleh : I Wayan Wira Susana

Dari tema yang akan kita bahas pagi ini yaitu:

Pertolongan Allah/Tuhan/Ida Sahyang Widi was di tengah badai adalah sebuah anugerah dan kasih sayang terhadap umatnya. Bencana demi bencana melanda dunia ini dari covid-19 yang sudah sampai tahun ke-3 dan kapan kira-kira berakhir.........?

Belum berakhir Covid-19 dan juga bertepatan dengan hari suci paskah dan juga umat Hindu merayakan hari raya Galungan dan Kuningan, puncaknya tanggal 04 April sampai pagi kita di NTT dilanda badai puting beliung Seroja dan dibarengi hujan yang terus menerus sampai 4 hari yang mengakibatkan bencana yang cukup luar biasa yang meluluh lantakkan perkotaan yang ada di Kota Kupang, perekonomian dan juga sampai kita semua tidak bisa beraktivitas, listrik padam, pohon-pohon tumbang dan sampah berserakan dimana-mana.

Belum juga habis berduka datang lagi bencana menyelimuti negeri ini tenggelamnya kapal KRI Nanggala 402 dengan awaknya 53 prajurit yang semuanya gugur sebagai pahlawan untuk negeri ini. Kengerian-kengerian terus terjadi kita juga bisa melihat dunia internasional terutama India yang melanda India dengan sebutan tsunami Covid-19 Varian-3. yang kalau kita menonton betapa dahsyatnya bencana terjadi di dunia ini.

Doa:

a. Om sarva papa vinasini, sarva roga vimocane, sarva klesa vinasam, sarva bhogam avanuyat

b. Om srikare sapa hut kare, roga dosa vanasam, logham mahayaste mantra manah papa kelah.

 

artinya:

a. Om sahyang widhi wasa, terimalah segala persembahan kami, Engkau musnahkan segala malapetaka, Engkau bebaskan segala derita, Engkau jauhkan segala penyakit, dan berikanlah kami sarana kehidupan.

b. Om sanghyang widhi wasa, Engkau yang di puji sebagai penguasa alam semesta, Engkau yang menjiwai segala manta,bebaskanlah segala dosa dan derita, serta tuntunlah pikian kami dan kenestapaan kejalan yang benar.

 

kejadian-kejadian di atas saya akan mengaitkan kejadian diatas dengan kitab suci Bhagawad Gita

1. Adiyaya 6 sloka 30

 

yo mam pasyati sarwatra sarvan car mayi pasyati tasyaham na pranasyami sa ca me na paranasyati artinya:

Dia yang melihat aku didalam semuanya,dan melihat semuanya berada didalam diriku,maka aku tidak pernah lenyap baginya. dan diapun tidak pernah lenyap bagiku. 2. Adiyaya 9 sloka 22

ANANYAS CINTA YANTO NIAN

YE JANAH PARYUPASATE

TESAN NITYA BHIYUKTANAM

YOGA –KSENAM VAHANY AHAM

ARTINYA :

Orang-orang yang memujaku dengan selalu memusatkan Pikirannya hanya satu kepadaku, kesadarannya senantiasa lenyap didalam cinta kasih bhakti kepadaku, kepada mereka aku akan bawakan segala yang dibutuhkan dan melindunginya yang mereka miliki.

Kalau kita menghayati sloka tersebut kita yakin bagi orang-orang yang mampu selalu memusatkan pikirannya dan perbuatan nya penuh cinta kasih pasti akan di lindungi, namun kadang-kadang fakta berkata lain kita sebagai manusia terbuai dengan jaman.

Umat Hindu menyikapi sekarang adalah jaman Kaliyoga. Umat Hindu mempercayai adanya 4 jaman yang talah terjadi:

a. 1 : jaman satya yoga

agama dijalankan betul-betul 100 %

orang-orang dilahirkan kedunia ini penuh degan cinta kasih sehingga dunia ini Cuma sebagai persinggahan untuk melaksanakan lila tuhan itu sendiri.

b. jaman terta yoga kemerosotan agama 25 %

yang diperebutkan adalah wanita terjadi kisah ramayana di india

c. jaman dwa pariyoga

kemerosotan agama di jaman ini 50 %

yang diperebutkan adalah tahta terjadinya perang maha bharata

d. jaman dimana didalamnya melaksanakan agamanya

umat cukup berat dan dipengaruhi oleh dunia natural sebesar 75 % dari sekian hanya 25 % yang mampu melaksanakan apalagi sekarang kita seakan jaman yang mempengaruhi oleh harta adalah segalanya.

Dari kejadian-kejadian bencana tersebut saya menilai renungan hari ini Tuhan Allah menolong kita untuk kita selalu bisa dekat dengan beliau, kalau kita sudah bisa dekat dengan beliau inilah sebuah anugerah dan kasih sayangnya Tuhan Allah kepada kita semua.

 

Oleh : Rasyid Muzhar, SAG,MH.

 

Beberapa hari tepatnya dalam kurun waktu tanggal 3 hari sabtu sampai tangal 5 hari Senin, kita masyakat NTT pada umumnya telah dikembalikan Allah ke zaman Prateknologi dengan perantara badai Siklon Tropis Seroja. Kenapa disebut Seroja, karena pusaran angin yang meniup mirip seperti bunga Seroja.

Yang biasa masak pakai listerik, karena listerik padam, memasak pakai tungku kayu bakar, yang biasa tidur ditiup AC, tidur pakai ACC (Angin Cepoi Cepoi), sinyal HP Hilang, Pertamina Tutup, yang bisa memompa air pakai mesin, terpaksa harus menimba dari bak penampungan, lagi-lagi karena listerik mati, dalam beberapa saat kita dikembalikan Allah Swt. ke masa lalu.

Alhamdulillah badai tersebut, rupanya sekedar menegur kita, Allah Tuhan Yang Maha Esa, masih sayang kepada kita. Kenapa ? Tuhan tidak bermaksud membinasakan kita, Tuhan hanya menegur, mungkin selama ini kita terlalu sombong dan angkuh dengan prestasi duniawi yang kita raih sehingga lupa bahwa semua prestasi tersebut sebenarnya adalah anugerah dari Allah, mungkin selama ini kita yang hidup serba bekecukupan lupa kepada mereka yang hidupnya serba kekurangan, sehingga bagi mereka badai siklon seroja justru membawa berkah.

Kenapa berkah ?, saya punya tetangga sebut saja namanya Om Melky, beberapa kali datang minta pekerjaan ke saya, akhirnya saya kasi pekerjaan memperbaiki saluran air di belakang rumah, tetapi kerena terkendala kurangnya sambungan pipa, akhirnya pekerjaan itu tertunda, sampai akhirnya siklon tropis seroja melanda.

Setelah badai berlalu, beberapa kali saya cari Om Melky selalu tidak ada di rumah, isteri Om Melky selalu menjawab, “pak ada kerja, su satu minggu sonde pulang”. Tiga hari kemudian saya datang lagi dan bertemu isteri om Melky, saya bertanya Om Melky ada ko Mama ?, mama Melky menjawab, “kemarin pak ada Pulang, tadi pagi pak su berangkat lai kerja proyek”, akhirnya saluran air saya sampai sekarang belum selesai.

Bapak Ibu, jika Allah hendak membinasakan kita, itu bukan hal yang sulit, Jika Allah hendak menghancurkan kita, dalam satu menit Pulau Timor ini bisa hanya tinggal nama. Akan tetapi Allah hanya menegur sebagai bentuk kasih sayangnya kepada kita agar kita tetap sebagai hambanya yang bersyukur.

Bapak Ibu hadirin dan pemirsa sekalian

Allah sayang kepada mereka yang beriman dan Allah pasti akan menguji iman mereka.

Dalam Surat Al-Baqaroh Allah Swt berfirman :

وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَا لْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَ مْوَا لِ وَا لْاَ نْفُسِ وَا لثَّمَرٰتِۗوَبَشِّرِالصّٰبِرِيْنَ

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.

Siapakah orang-orang yang sabar itu ?, dalam ayat berikutnya Allah Swt berfirman :

الَّذِيْنَ اِذَاۤ اَصَا بَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌۙقَالُوْۤااِنَّالِلّٰهِ وَاِ نَّـاۤ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).

Tidak ada hal terbaik yang dilakukan hamba atas segala musibah, kecuali bersabar dan senantiasa bersyukur atas segala karunia serta pandai mengambil pelajaran dari setiap takdir Allah Swt.

Sebagai bahan renungan, mari kita sikapi kehidupan ini dengan empat sikap.

  1. Menerima potensi yang diberikan Allah pada diri kita apapun bentuknya;

Kegagalan bisa saja terjadi, akan tetapi manusia tidak perlu mengeluh atas potensi yang ada pada dirinya. Alquran mengajarkan ita untuk menysukuri segala karunia, baik karunia itu sedikit atau banyak.

“Ketika manusia bersyukur dalam arti menerima apa yang diberikan seraya memuji kebesaranNya, maka insya Allah karunia Allah akan semakin bertambah kepadanya”

  1. Tindakan nyata untuk meraih yang lebih baik;

 

Kepasrahan kepada takdir, tempatnya adalah setelah manusia melakukan upaya meraih yang lebih baik;

Saat ini kita dihadapkan dengan penyakit yang menghantui seluruh penduduk bumi. Dalam kondisi ini harus bagi kita berusaha menghindari, caranya bagaimana ?, paling tidak kita jaga kebersihan dan menerapkan protokol kesehatan;

 

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ

 

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

  1. Serahkan hasil akhir kepada Allah

Yang sering menjadi masalah dalam kehidupan manusia adalah berbedanya antara harapan dengan kenyataan. Ketika usaha manusia tidak sesuai hasilnya dengan harapan, maka kondisi ini sering membuat orang prustasi, dia lupa bahwa yang menentukan hasil adalah Allah Swt.

 

 Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“…dan barangsiapa bertawakal kepada Allâh, niscaya Allâh akan mencukupkan (keperluan)nya…” [ath-Thalâq/65:2-3]

  1. Terus berusaha dan tidak putus asa.

 

Insyaa Allah, semoga dengan 4 sikap mental ini, mempercepat upaya recovery masyarakat Nusa Tenggara Timur. Terima kasih.

 

Pdt. Robert St. Litelnoni, S.Th

 

 Yesaya 41:10

Saudara-saudaraku yang saya kasihi,

Dalam satu tahun ini kita diperhadapkan dengan dua persoalan yang cukup besar dan berat. Dua persoalan yang saya maksudkan adalah :

Pertama, Pandemi global covid19. Pandemi covid19 ini menjadi masalah bagi seluruh umat manusia di seluruh belahan dunia. Begitu banyak korban nyawa berjatuhan tanpa memandang siapapun dia. Kita sekarang di Kupang masih berada dalam situasi yang sangat menakutkan karena virus ini ibarat musuh, tidak kelihatan tapi ada dan siap menyerang siapa saja.

Kedua, sementara kita masih bergumul menghadapi covid19 yang belum berakhir, tanggal 5 April yang lalu kita di NTT, khususnya di Kota Kupang harus berhadapan dengan badai siklon tropis seroja yang sangat dasyat, mengerikan dan menakutkan. Badai ini memporak-poranda hampir sebagian besar rumah-rumah kita dan dampak dari badai ini telah membawa kerugian besar bagi kita karena rumah tempat kita tinggal ada yang mengalami kerusakan berat, ringan dan sedang.

Badai ini mengerikan karena badai ini mengobok-obok kita kurang lebih 9 jam dan karena itu kita berada dalam ketakutan, kecemasan dalam masa yang cukup lama. Kalau seandainya kita diminta memilih mana yang kita pilih coved 19 atau badai siklon seroja? Tentu pilihan kita tidak salah satu dari keduanya, kita akan lebih memilih tidak untuk kedua-duanya.

Saudara-saudaraku,

Mari kita fokus pada tema kita, yang memberi penekanan tentang badai. Badai ini adalah bencana bagi kita, tetapi dibalik bencana itu ada hikmat buat kita. Apa yang kita buat selama 9 jam ketika badai? Tentu kita hanya di rumah saja bukan? Lalu apa yang dapat kita perbuat? Ada banyak anggota jemaat saya yang mengatakan setelah badai, bahwa mereka berdoa tidak putus- putus ( maksudnya tidak berhenti dan selalu mengucapkan doa selama badai ). Mereka yang tidak atau hampir jarang berdoa maka malam ketika badai menerpa mereka berdoa meminta pertolongan Allah. Sungguh luar biasa bukan? Mudah- mudahan setelah badai berlalu kita tetap dan mau membiasakan diri untuk berdoa. Karena kita sadar bahwa Allah adalah pengendali alam semesta termasuk di dalamnya kita manusia. Ketika badai itu menerpa kita, maka kita ini seperti kecil dan tidak berarti dihadapan badai. Biasanya kita menganggap diri kita paling hebat, paling jago tapi ketika badai itu datang kita menjadi kecil, tidak berdaya, bersembunyi dan tidak dapat melakukan apa-apa. Siapa yang berani keluar malam itu untuk berhadapan dengan badai? Nanti setelah badai, baru kita tunjukan keberanian kita, kehebatan kita, tapi selama badai kita menjadi kecil dan berdoa terus menerus kepada Allah sang khalik karena ketidak berdayaan kita menghadapi badai. Berdoa terus waktu badai tapi setelah badai kita lupa berdoa. Saat kita sulit dan susah menghadapi masalah dalam hidup kita maka kita mencari Allah tapi ketika kita tenang, damai, bahagia dan tidak ada persoalan kita gampang melupakan Allah.

Kita sering kali tidak memiliki integritas sebagai orang beriman. Selalu berubah ubah. Mau mencari Allah kalau kita susah tapi melupakan Tuhan disaat kita aman. Saya mengkisahkan sebuah cerita tentang seorang nelayan yang mencari ikan di laut, semalaman dia mencari ikan tapi tidak mendapatkan apa apa lalu ia berdoa. Ya Allah kalau Engkau memberi saya ikan maka 90% ikan akan saya berikan pada Tuhan dan 10% menjadi milikku. Ketika Allah mengabulkan doanya maka dengan senang hati ia kembali ke darat. Ketika ia sudah melihat pantai ia kemudian melihat ikan itu, ternyata ia berubah pikiran karena merasa rugi memberi banyak kepada Allah sekalipun dimasa susah ia membutuhkan Allah, lalu ia katakan bagaimana kalau kita bagi dua Allah 50% saya 50%. Makin dekat pantai pikirannya berubah lagi karena pikirnya sudah dekat pantai maka aman. Ia tidak iklas memberi 50% untuk Allah. Maka ia katakan bagaimana Allah kita balik sekarang Allah dapat 10% dan saya dapat 90% dari semua ikan yang saya tangkap, tiba-tiba badai datang menerpa perahunya dengan angin kencang. Dalam kecemasan ia bilang dalam doa " Tuhan eeee ko beta baru omong main gila sa Tuhan su emosi sa" beta hanya bercanda.

Saudara-saudaraku.

Sering kali kita seperti itu saat senang kita lupa Tuhan saat susah kita cari Tuhan. Tetapi badai siklon tropis seroja membuktikan kepada kita satu hal, bahwa dihadapan Allah kita terlalu kecil dan tak berdaya. Nabi Yesaya mengingatkan kita bahwa Allah yang kita percaya itu Allah yang menguasai alam semesta termasuk kita manusia. Allah yang setia pada makluk ciptaanNya, ia akan memegang tangan kita, menjaga dan memelihara kita dari berbagai ancaman apapun sekalipun kita selalu tidak setia dan berubah ubah Ia adalah setia. Sebagai Aparatur Sipil Negara mari kita tetapi setia pada tugas panggilan dan pelayanan kita kepada masyarakat, supaya kita tidak gampang berubah ubah, kalau ada atasan kita rajin dan disiplin, kalau atasan kita tidak ada kita menunjukan kinerja yang sebaliknya. Allah telah menolong kita dari badai membuktikan bahwa Ia baik dan setia kepada kita dan sebagai tanda ucapan syukur mari kita membalas kebaikan Tuhan dengan bekerja lebih giat, rajin, disiplin, bertanggungjawab sebagai ASN. Amin.

 

Oleh : Romo Longginus Bone, Pr

 

Tuhan ada Dalam Perahu

            Tidak ada yang menyangka bahwa tahun ini kita dilanda bencana yang  besar. Daerah terindah Toleransi Nusa Tenggara Timur, khususnya Kota Kupang daerah yang biasa disebut daerah yang jauh dari bencana, seperti tsunami, gempa bumi, longsor, banjir dan sebagainya kini harus menerima sebuah kenyataan pahit. Selama Perayaan Paskah di saat kita merenungkan sengasara dan kebangkitan  Yesus Kristus, kita juga seakan turut memikul salib bersama Yesus. Via Dolorosa: Jalan salib bersama Yesus sungguh kita alami dalam tahun ini, lewat siklon tropis serojayang menghantam ganas kota ini. Banyak kisah yang berseliweran tentang badai ini, namun yang pasti ada korban, ada duka yang kini hadir di depan kita. Ada sebuah cobaan besar yang menghantam daerah kita. Ada saudara/i kita  yang hari ini masih berpikir di mana mereka akan menaruh kepala mereka, ada yang masih harus membangun kembali reruntuhan rumah yang diterjang siklon seroja, ada juga yang  bingung hendak mulai dari mana dan akan kemana. Seroja ditambah banjir besar di beberapa tempat di NTT membuat kita seolah tersadar bahwa sampai kapanpun kita manusia bukanlah penguasa tunggal jagat ini.Kita adalah bagian dari semesta, kita adalah bagian dari makrokosmos, alam yang luas ini.

          Ketakutan, gelisah, putus asa adalah sesuatu yang muncul dalam kondisi ini. Kita menjadi takut, kita menjadi gelisah, bahkan kita  juga bisa menjadi putus asa. Menyaksikan guncangan hebat pohon-pohon yang siap menghantam kita, atau atap rumah yang siap  terlepas, belum lagi isu tsunami dan sebagianya. Kehancuran seolah berada di depan kita. Bagaimana dengan Istri, anak, orang tua, siapa yang harus diselamatkan. Kalaupun kita bersyukur karena tidk ada korban jiwa, hati kita akan sangat terpukul menyaksikan usaha yang hancur, rumah yang dibangun dengan penuh tetesan keringat dan air mata hancur tak berbekas. Kita seolah berada di titik-titik ketidakpastian. Kita bisa jadi  menjadi gelisah, panik, dengan kehidupan kita sendiri. Untuk apa kita bersusah-susah, tow  pada akhirnya hancur berkeping-keping, untuk apa berjerih lelah kalau tow pada akhirnya semuanya hancur. Ini tentu menjadi pengalaman traumatis yang sulit membuat kita bangkit. Pengalaman-pengalaman ini baik ketakutan dan kegelisahan akhirnya  membuat kita seolah tidak mau melangkah, menjadi orang yang skeptis dengan sesama bahkan dengan Tuhan sendiri. Mengapa Tuhan harus mendatangkan bencana bagi hidup saya dan keluarga?

          Bacaan Injil yang kita dengar tadi, bercerita tentang pengalaman para murid yang berjuang di tengah badai.Setelah mereka bersama Yesus dalam karya pewartaan Yesus mengajak mereka untuk bertolak ke seberang.Mereka seolah baru selesai dalam satu fase kehidupan dan Tuhan ingin mengajak mereka berteduh ataupun berlayar di tengah hari yang sudah mulai petang. Dengan menjauhkan dari  banyak orang ada sebuah kesan bahwa para murid bersama Yesus  telah selesai dengan karya pewartaan  mereka seharian.  Namun comfort zone rasa nyaman itu tidak berlangsung lama. Justru dalam perjalanan bersama Yesus  mereka dihantam badai yang besar. Bahkan dalam Injil tercatat bahwa ombak besar menyembur masuk seingga perahu itu mula penuh air.Para murid menjadi takut dan cemas. Apakah hidup mereka akan selesai waktu itu. Meskipun mereka adalah nelayan namun berhadapan dengan  badai yang besar tentu bukanlah hal yang gampang. Di tengah kondisi itu sebuah seruan ketakutan muncul, protes kepada Tuhan “Guru Engkau tidak peduli kalau kami binasa?”. Apa ending dari injil ini : Yesus bangun menghardik angin itu  dengan dua kata  Diam! Tenanglah!

 

Ada beberapa poin yang coba kita petik:

  1. Jangan kita terlampau rasa nyaman dengan kehidupan kita, jangan kita merasa bahwa apa yang kita capai sudah sangat cukup dan selanjutnya terserah saya mau buat apa saja. Tow tidak ada yang menegur saya. Anak-anak sudah sukses karier saya bagus, koneksi saya bagus dan selanjutnya. Badai sesekali akan datang dalam hidup kita karena kita bukanlah  pemilik kehidupan. Kenyamanan tidak boleh membuat kita lupa diri atau mengisinya dengan menindas orang lain, menganggap rendah orang lain dan sebagainya. Kita hendaknya membangun sikap kewaspadaan dalam diri kita. Apa yang kita bangga-banggakan dalam hidup ini bisa hilang seketika. Kita belajar dari badai seroja yang menghantam siapa saja tanpa pandang bulu. Kita juga punya badai-badai  lain dalam hidup kita: kematian  orang yang kita cintai, perceraian , konflik dan sebagainya.
  2. Tuhan ada dalam Perahu.

Ini yang menjadi pesan utama bagi kita.Tuhan Yesus ada dalam di perahu rumah tangga kita.Kalau kita berada di dalam badai apapun kita yakin bahwa Tuhan ada bersama kita.Dia ada dalam perahu hidup kita, dia ada dalam rumah hati kita.Dia peduli dengan kita, dia tidak ingin kita binasa karena badai besar dalam hidup kita. Kehadiran Tuhan dalam perahu mengiktiarkan agar kita  memiliki sikap iman.Percaya bahwa meskipun kita dihantam badai yang bertubi-tubiTuhan tidak meninggalkan kita sendiri.Dia ada dalam perahu.Bagaimana kita yakin Tuhan ada dalam hidup kita. Saya teringat sebuah syair lagu yang menarik

“tenang mendayung di dalam ombak, selepas pantai

Tenang-tenang merenung di tengah taufan hidup yang ramai, di tengah taufan hidup yang ramai

Bila terbawa arus di dalam ombak laut terenang

Sabda penguat doa resapkanlah di dasar hatimu sedalam laut medan hidupku”.

          Meresapi Sabda Tuhan membuat kita percaya bahwa Tuhan bersama kita dalam setiap badai apapun.Badai Pasti Berlalu. Tidak ada badai yang abadi.Bahkan badai sebesar apapun tidak lebih besar dari badai kasih yang menyelubungi di saat sulit seperti kemarin.

 

Kadang butuh luka untuk jadi tegar.

Butuh derita untuk mengerti makna hidup.

Butuh hina untuk jadi sabar dan kuat...

Butuh hati yang hancur untuk mengerti caranya bangkit.Dan butuh Tuhan untuk menjadikan semuanya indah.Pergumulan tidak pernah berhenti.Cobaan tidak pernah habis.Harapan tidak pernah sirna.Kasih dan cinta Tuhan tak pernah surut.

Tak perlu kita cari-cari kesalahan sesama hanya demi menunjukkan kebenaran kita.

Tetapi tunjukkan saja bahwa kita hidup dengan benar, maka kesalahan orang akan menjadi nyata..

Karena dengan mematikan lilin orang lain tdk akan menambah terang lilin kita.Dengan menunjukkan kebodohan orang tidak membuat kita jadi lebih pintar.

 

ASN yang mengikuti Kegiatan Pembinaan Rohani Gabungan secara Virtual berjumlah : 2045 orang.

0 Comments

You Might Also Like This

Back to top