Pembinaan Rohani : "Kasih sebagai Sikap Dasar Membangun Persaudaraan dalam Lingkungan Kerja"

Kupang- BKD.NTTPROV.GO.ID – (26/02) Badan Kepegawaian Daerah menyelenggarakan Pembinaan Rohani di bulan penuh kasih sayang. Pembinaan Rohani ini diselenggarakan secara live dari Youtube BKD Provinsi NTT. Acara berlangsung di aula Fernandez, Kantor Gubernur NTT lt. 4. Dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Seluruh ASN Pemprov NTT mengikuti pembinaan rohani melalui youtube dari tempat masing-masing.

Kegiatan ini mengangkat tema umum yakni “Kasih sebagai Sikap Dasar Membangun Persaudaraan dalam Lingkungan Kerja”. Mengacu pada tema tersebut masing-masing rohaniwan yang menjadi pembicara menyampaikan renungan dengan inti renungan sebagai berikut :

Oleh : Pater Yulius Yasinto, SVD

Pokok-Pokok Pikiran Renungan

  1. Introduksi:
  • Pandemi Covid-19 mengubah sendi-sendi dasar relasi social kita alam hampir semua bidang: kesehatan, ekonomi, Pendidikan, agama, budaya, social..
  • Menguatkan pandemic komunikasi antar manusia dan peran teknologi informasi sebagai penyelamat sekaligus penjajah baru.
  • Ada ironi tentang jauh dan dekat: teknologi komunikasi membuat yang jauh terasa dekat, tetapi sekaligus menjauhkan kita dari orang-orang terdekat kita.
  • Tantangan untuk hidup bersama dalam dunia media social: ujaran kebencian, penyebaran berita bohong, pengorganisasian tindakan-tindakan intoleran dan anarkis.
  1. Mat. 22 : 34 - 40: Mengasihi sebagai Hukum Utama.
  • Bahasa utama Allah adalah Bahasa cinta.
  • Yesus berulang kali menegaskan Kasih sebagai perintah utama. Yesus mengajarkan 3 hal baru tentang kasih:
  1. Menempatkan perintah kasih kepada Allah dan kepada sesama sebagai dua sisi dari perintah yang sama (sebelumnya dipisahkan, tidak berhubungan satu sama lain)
  2. Menjadikan kasih sebagai landasan semua hukum lainnya. Hukum tidakboleh demi hukum, tetapi demi melayani kepentingan manusia. Hukum kasih sebagai dasar berarti ada ikutannya: kerelaan berkorban, saling menghormati, saling memaafkan..dll
  3. Mengasihi sesama tanpa kecuali, termasuk para musuh, orang asing, orang yang dianggap kafir.(When you look good in others, you discover the best in yourself).
  • Ciri-Ciri khas cinta Kristiani:
  1. Dua arah: berakar pada Allah, dan mewujud pada sesama.
  2. Didasarkan atas kesetaraan dan penghormatan terhadap martabat manusia dan alam lingkungan.
  3. Melewati batas-batas primordial (lawan politik identitas)
  4. Menghidupkan nilai-nilai luhur persahabatan, relasi social tradisional.
  5. Diwarnai kerelaan berkorban.
  6. Mengasihi sesama adalah sikap aktif. Ini menyangkut kontribusi terhadap kehidupan bersama, kewajiban social, menjalankan kewajiban sebagai warga negara dan solidaritas.
  1. Perwujudan Kasih
  • Membersihkan hati dari segala dendam dan prasangka.
  1. Yesus mengganti aturan gigi ganti gigi, mata ganti mata, dengan “beri pipi kiri dan kanan”. Yesus mengajarkan cinta untuk menggantikan dendam.
  2. Tidak membenci sesama adalah bagian dari kekudusan.
  3. Yesus lebih maju lagi. Jangan ada dendam sama sekali. “To return good for good is human; to return good for evil is divine”.
  • Berikanlah hatimu – ulurkanlah tanganmu !
  1. Hati, otak dan tangan adalah tiga organ terpenting tubuh manusia.
  2. Tiga organ ini sering digunakan sebagai symbol dari konsep-konsep sosio-religious yang penting juga: Hati adalah pusat afeksi, jadi symbol kasih, rasa cinta; Otak adalah pusat pengelolaan data dan informasi, jadi symbol pengertian, pemahaman, kebenaran; Tangan adalah sarana pergerakan yang penting, jadi symbol karya, pro-kreasi.
  3. Hati-otak-tangan, juga menjadi symbol dari aspek-aspek terpenting penghayatan hidup iman kristiani: Hati symbol kasih sebagai hukum utama, otak sebagai symbol kebenaran manusiawi yang harus mengacu pada atau berpedoman pada kebenaran Ilahi, tangan adalah symbol karya tangan manusia sebagai partisipasi dalam karya penciptaan Allah.
  4. Pesan: menjaga keseimbangan peran hati, otak dan tangan !
  1. Solidaritas dan Persaudaraan di Masa Pandemi Covid-19
  1. Keluar: Bertindak kasih menembus batas
  • “Menjaga jarak fisik” mudah membuat kita over-protektif, tertutup, hanya peduli pada keselamatan diri, keluarga dan orang-orang terdekat kita. Kasih justru mengharuskan kita melewati batas2 itu.
  • Berlangkah lebih jauh dari sekedar tindakan-tindakan simbolis: ajakan berdoa itu baik dan benar, tetapi lebih baik lagi kalau benar-benar berdoa; ajakan membantu, prihatin itu benar dan baik, tetapi lebih baik lagi kalau benar melakukan tindakan nyata membantu.
  • Menjaga kenyamanan dan kesopanan dalam ruang bersama/public. Jangan membanjiri ruang-ruang dalam media social dengan postingan-postingan yang merendahkan martabat sesama, baik yang hidup maupun yang sudah meninggal, mengumbar kebencian dan fitnah, dll.
  1. Kedalam:
  • Bekerjasama lebih erat, tetapi lebih dari itu, melaksanakan semua tugas dan kewajiban kita dengan rasa kasih yang lebih dalam dan tulus.
  • Saatnya membuktikan bahwa kita hidup penuh kasih dalam lingkungan kantor yang sudah kita anggap sebagai rumah/keluarga, dan menunjukkan cinta kita kepada tempat/kantor di mana kita mengabdi.

 

Oleh : Pdt Inggerid Lina Kakiay-Then, S.Si

1 KORINTUS 13 : 1 – 13

Kasih adalah sebuah kata yang tidak asing di telinga kita. Kasih bahkan menjadi sebuah alasan yang seringkali kita katakan mendasari apa yang kita lakukan. Kasih menjadi dasar dari tindakan kita. Ketika memberi bantuan sembako bagi sekelompok korban terdampak langsung Covid-19 alasannya karena mengasihi. Memberikan sejumlah dana yang besar bagi gereja, alasannya karena mengasihi Tuhan. Alasan Orang tua yang memasukan anaknya ke sekolah favorit di Kota Kupang karena mengasihi anaknya. Namun benarkah apa yang kita lakukan itu berdasarkan kasih ? Benarkah kita mengasihi korban dampak Covid-19 atau sekedar pencitraan, benarkah kita mengasihi Tuhan atau mengasihi diri sendiri karena ingin dihargai, dihormati oleh warga Gereja. Benarkah kita mengasihi anak ataukah mengasihi diri sendiri karena tidak mau dianggap sebagai orang tua yang gagal jika tidak menyekolahkan anak di sekolah favorit. Apakah itu KASIH ?

Seringkali kita menggunakan kasih sebagai alasan, namun ternyata bukan kasih yang menjadi dasar tindakan kita. Karena itu mari kita lihat pemahaman kasih dalam bacaan kita saat ini.

Jemaat Korintus adalah Jemaat yang heterogen, terdiri dari orang-orang yang berbeda suku bangsa dan status ekonomi. Bahkan keragaman ini juga nampak dalam karunia-karunia yang berbeda pada Jemaat. Keragaman bukan hal yang mudah untuk mempersatukan, karena seringkali keragaman ini menjadi sumber konflik. Karena itu Rasul Paulus menekankan pentingnya Kasih sebagai dasar yang harus dimiliki dalam hidup berjemaat di Korintus. Jika mereka memiliki Kasih, maka perbedaan/keragaman tersebut justru akan memperkaya dan mendewasakan mereka, bukan memecah belah.

Pada ayat 1-3 dalam bacaan ini, Paulus menjelaskan betapa kasih itu menjadi sesuatu yang sangat penting. Ada 6 karunia yang menjadi kebanggaan Jemaat di Korintus, yaitu karunia bahasa lidah, bernubuat, pengetahuan, iman, karunia memberi, dan mati syahid. Namun sekalipun ada seseorang yang mampu melakukan salah satu bahkan ke 6 hal tersebut, semuanya akan menjadi sia-sia dan tidak berguna bagi siapapun apabila tidak memiliki KASIH. Rasul Paulus tidak melarang jemaat memiliki karunia-karunia tersebut, tetapi kembali pada motivasi. Apabila karunia tersebut dipakai hanya untuk dilihat orang, hanya untuk memperoleh pujian atau sekedar pencitraan, maka sama sekali tidak ada faedahnya.

Selanjutnya Paulus tidak mendefinisikan apa itu Kasih, namun ia menunjukan bagaimana Kasih itu bekerja. Baginya Kasih bukan sebatas perasaan sayang, cinta atau emosi, tetapi lebih kepada apa yang harus dilakukan. Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, tidak cemburu, tidak sombong, tidak melakukan apa yang tidak sopan, tidak egois, tidak pemarah dan pendendam, suka melakukan kebenaran. Inilah kasih itu, bahwa Kasih bukan sekedar rasa tetapi perilaku, kasih bukan hanya slogan tetapi gaya hidup, kasih bukan sekedar identitas kekristenan tetapi kasih adalah jiwa dari kekristenan itu sendiri.

Dalam hidup bersama dengan orang lain, kerapkali terjadi benturan atau konflik, oleh karena kita tidak mampu mengelola perbedaan, keragaman yang ada. Merasa tidak nyaman, tidak damai, saling mencurigai dalam lingkungan kerja kita. Belum lagi adanya masalah ketidakpekaan antara atasan kepada bawahan, perpindahan kerja yang mungkin tidak dikehendaki atau beban kerja yang berlebihan. Firman Tuhan menasehatkan kita untuk mengikis hal tersebut, mari jadikan Kasih sebagai dasar dalam membangun relasi dan persahabatan ditempat kerja. Dalam mendefinisikan kasih itu jelas bagi kita, bahwa dalam kasih tidak ada persaingan, tidak ada kemarahan, iri hati, tidak egois, tidak arogan, memberi pengampunan, menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan. Ingatlah jabatan dan kekuasaan yang kita miliki itu bersifat sementara, tidak kekal. Hidup kita seperti roda yang berputar, tidak ada yang kuat didunia ini dan tidak ada yang lemah didunia ini. Hari ini kita di atas, esok lusa kita sudah dibawah. Karena itu mari kita berkarya sesuai dengan talenta dan kepercayaan yang diberi dengan mewujudkan kasih itu. Mari kita mengasihi tanpa membedakan jabatan, tanggung jawab dan kemampuan, dengan memiliki rasa empati dan simpati terhadap rekan sekerja kita. Artinya kalau kita tidak senang disakiti, maka janganlah menyakiti orang lain. Kalau kita senang di “orang”kan, maka kita pun harus meng “orang” kan orang lain. Kalau kita senang dihargai, maka kitapun harus menghargai orang lain. Yesus berkata “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Matius 7 : 12). Mari kita hadirkan suasana damai, sukacita dalam kebersamaan di lingkungan kerja kita, kasih yang kita hadirkan adalah kasih yang tulus. Motivasi kita bekerja dan berkarya adalah karena Kasih yang tulus. Mengasihi bukan untuk kepentingan diri sendiri. Mengasihi bukan sekedar “cari muka” untuk selalu ada di posisi aman, bukan sekedar pencitraan dan mencari pujian semata, namun karena benar-benar ingin relasi yang terbangun dalam dunia kerja kita adalah relasi persaudaraan yang penuh dengan kedamaian, ketentraman dan sukacita. Sehingga membangkitkan semangat kerja, pekerjaan menjadi lancar, membangun kekompakan team dan ada harmoni yang terbangun.

Kasih tidak pernah berkesudahan, karunia-karunia Roh akan berakhir tetapi kasih tidak berkesudahan. Inilah keunggulan kasih itu. Bila kasih berhenti, maka kita tahu bahwa itu bukanlah kasih. Kasih yang sejati tidak pernah berhenti, tetapi hari demi hari terus bertumbuh menjadi lebih indah. Demikianlah tinggal ketiga hal : iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar diantaranya ialah KASIH. Jika Allah yang telah lebih dahulu mengasihi dan menyelamatkan kita, melalui kematian Yesus Kristus di kayu salib, maka haruslah kita juga saling mengasihi. Persekutuan dan kebersamaan haruslah kehidupan yang mencerminkan kasih.

Saya kira hal sederhana yang dapat kita lakukan sebagai wujud kasih dalam lingkungan kerja kita, tidak ada salahnya memberikan sapaan hangat ketika kita berjumpa “selamat pagi bapa, mama, kaka, kawan”. Atau mengucapkan salam pamit saat pulang “slmt sore semua… sampai ketemu besok…”. Dan masih banyak lagi yang bisa kita lakukan sebagai wujud kasih itu. Kita percaya dimana ada kasih disitu ada damai sejahtera, ada sukacita. Kasih itu berasal dari Allah, kita yang lahir dari Allah, yang mengenal Allah, maka kita harus saling mengasihi. AMIN

 

OLEH : DRS. H. HUDAYANUR

Assalamualaikum wr. Wb.

Pertama dan utama sekali marilah kita panjatkan rasa Puji dan syukur yang mendalam kepada Allah SWT. Kita semua ini hamba hamba-Nya, berada dalam genggaman-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Semoga Kesehatan, kekuatan selalu di berikan kepada kita dalam menjalankan tugas-tugas kita sebagai Aparatur Sipil Negara ,dapat melayani masyarakat dengan sebaik baiknya.

Materi pembinaan kita kali ini adalah “ Kasih sebagai sikap dasar dalam membangun Persaudaraan di lingkungan kerja “. Dalam suasana covid -19 ini marilah kita selalu menjaga protocol Kesehatan, semoga kita semua berada dalam keadaan sehat wal afiat. Salam sehat untuk kita semua.

Materi ini amat penting kita pahami dengan baik, sebagai landasan kita dalam al Quraan Allah SWT. Berfirman :

Artinya : Manusia adalah umat yang satu, maka Allah mengutus para Nabi sebagai pemberi kabar dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan Bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.. ( Al. Baqarah : 213 )

Dengan jelas ayat ini mengambarkan dan menjelaskan kepada kita pada dasarnya bahwa manusia itu adalah umat yang satu. Dan dalam hadits Rasulullah SAW di nyatakan :

Artinya : Tidaklah beriman seseorang, sampai(dia) mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri. ( H. R. Muslim )

Dalam hadits lain ditegaskan pula antara lain ;

Artinya : “Barang siapa yang tidak mengasihi manusia, Maka Allah tidak akan mengasihi”.

Artinya : “sekali kali kalian tidak beriman, sebelum kaliaun mengasihi “

Artinya : “ Kasih sayang itu tidak terbatas, pada kasih sayang salah seorang diantara kalian kepada sahabatnya, tapi untuk seluruh umat manusia “ ( H. R. Thabrani ). Artinya : “ Tidak termasuk golonganku orang yang tidak mengasihi yang lebih kecil dan tidak menghormati yang lebih besar.” ( H. R. Abu Daud dan Thabrani ).

Banyak sekali hadist - hadist yang mengingatkan kita tentang pentingnya berkasih sayang, bahkan Allah menjanjikan kepada kita akan melapangkan Rezeki dan memperpanjang umur yang berkah., jika kita menghubungkan tali kasih sayang sebagai mana sabda Nabi SAW :

Artinya : “ Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menghubungkan tali silaturahni ( Kasih saying ) “ ( H. R. Muslim ).

Islam mengajarkan kepada kita untuk selalu menjaga tali kasih sayang, dan melarang beberapa hal yang sebagaimana dijelaskan :

artinya : “ Jangan kamu saling memutuskan silaturahmi, jangan saling belakang membelakangi, dan jangan saling benci membenci, dan jangan saling dengki, jadilah hamba Allah yang bersaudara,, Dan tidak halal bagi seorang muslim untuk tidak bicara ( karena Jengkel dan sebainya ) lebih dari tiga hari”

Artinya : “ Tidah masuk surga orang yang memutuskan Silaturahmi ( tali kasih saying ) “

Marilah kita tidak hanya sekedar memahami saja tapi hendaknya kita praktekkan dalam kehidupan keseharian kita. Bahkan Islam mengajarkan kita akhalak bukan kepada manusia saja melainkan juga terhadap makhluk di alam ini. Banyak riwat yang kita temukan pada sahabat sahabat nabi yang Ketika musim dingin menebarkan makan di gunung gunung yang tinggi, pada hal tidak ada manusia disana, untuk siapa itu, pada hal manusia tidak ada disana, guna untuk makhluk berupa binatang yang susah menemukan makanan di musim dingin.

Ketika saya berada ditanah suci, betapa banyaknya burung merpati, ribuan bahkan jutaan burung yang hidup damai, aman, dan kita dilarang membunuhnya, pada hal tumbuhan susah, dimana ia akan mencari makan tetapi hidup beranak pinak, ternya banyaknya manusia yang bersedekah, memberi makan burung burung merpati itu. Inilah ajaran agama yang memerintahkan kita, kita bersedekah bukan hanya kapada manusia, tapi kepada makhluk Allah lain seperti binatang dan sebagainya.

Terakhir suatu Ketika seorang khalifah Amirul mukminin khalifah abu bakar sidik, menerima berita gossip tentang putri beliau, dari orang orang yang ada pada saat itu bahkan kerabat kerabat terdekat yang membuat beliau jengkel dan marah, sehingga beliau bersumpah tidak akan membantu saudara saudaranya yang telah mengosipin putrinya, padahal beliau sudah banyak membantu saudara saudaranya karena beliau sangat dermawan. Kemudian Allah Menurunkan firmannya yang ternukil dalam surahannur untuk mengingatkan :

Artinya : “ Maafkanlah mereka dan berlapang dadalah, tidakkah engkau mau di ampuni ?”

Ayat ini memberikan penjelasan kepada kita, jika seorang hamba mau memaafkan dan berlapang dada dengan orang yang telah melakukan kejahatan kepada dirinya, maka Allah SWT. Akan memberikan balasan Keampunan dari Allah SWT.

Demikian saja, semooga kita tetap berkasih sayang sebagai sikap dasar dalam membangun persaudaraan di lingkungan kerja.

Wassalamualaikum wr wb.

 

Oleh : I Wayan Wira Susana, SE

Kasih Sebagai Sikap Dasar Dalam Membangun Persaudaraan

Menurut Kitab Suci Bhagavad Gita

BAB.XII Sloka 13-Sloka14 dan sloka 18- 19

Sloka 13-14

advesta sarva-bhutanam

maitrah karuna eva ca

nirmamo nirahankarah

sama-duhkha-sukhah ksami

santustah satatam yogi

yatatma drdha-niscayah

mayy arpita-mano-buddhir

yo mad-bhaktah sa me priyah

Artinya

Mereka yang tidak iri hati keoada semua makhluk hidup, berteman, murah hati, bebas dari rasa kepemilikan, bebas dari ke akuan palsu, bersikap sama dalam suka maupun duka, bersifat pengampun, berpuas hati, selalu dalam kesadaran sebagai seorang yogi,

mengendalikan pikiran dan indria-indria, mempunyai kemantapan batin yang baik, pikiran kecerdasan yang senantiasa terpusatkan kepadaku, siapapun penyembahku seperti itu, maka dia sangat aku sayangi.Dia yang tidak menjadi riang (berlebihan), bebas dari rasa tidak suka (atau iri hati), tidak menyesal, tidak (terlalu) menginginkan, tidak terikat pada baik dan tidak baik, dia yang berbhakti (dalam sifat-sifat mulia

seperti itu). dia sangat aku kasihi.

Sloka 18-19

samah satrau ca mitre ca

tatha manapamanayoh

sitosna-sukha-duhkhesu

samah sanga-vivarjitah

tulya-ninda-stutir mauni

santusto yena kenacit

aniketah sthira-matir

bhaktiman me priyo narah

Artinya

Orang yang bersikap sama terhadap kawan maupun lawan, pada penghormatan maupun penghinaan, pada panas dan dingin, pada suka dan duka, (pada pergaulan dan penolakan) bebas dari bebas dari keterikatan-keterikatan duniawi, memiliki kesadadaran sama pujian dan ejekan , diam dalam merenung, berpuas hati dengan apapun dan siapapun, yang mantap dalam ketidakterikatan pada tinggal dan badan jasmani, orang (seperti itu) yang mantap dalam bhakti adalah orang sangat KUSayangi. Sifat yang mulia serta bertingkah yang baik menggambarkan kesejatian, seseorang, kebenaran ini berlandaskan cinta kasih. Apakah engkau melakukan karma Yoga, Jnana Yoga serta Bhakti Yoga dari segala kegiatan spiritual ini adalah cinta kasih. Kebenaran (Sathya), Kebajikan (Santhi), dan Tanpa Kekerasan(Ahimsa) tidak terpisahkan yang pada hakikatnya di dasari oleh cinta kasih. Apabila cinta kasih mengisi pikiran akan menjadi kebenaran, bila mana cinta kasih mengisi dalam bentuk

kegiatan maka ia akan menjadi Dharma atau Kebajikan. Apabila perasaanmu diliputi oleh cinta kasih maka engaku menjadi wujud kedamaian. Artinya melaksanakan cinta kasih adalah Dharma, berpikir cinta kasih adalah Santhya serta merasakan cinta kasih adalah Shanti dan mengerti cinta kasih adalah Ahimsa. Pada Budi Yoga dalam Gita Bab Pengabdian dikatakan “isilah dirimu dengan cinta kasih dan gunakan kasih itu untuk mencapai aku dengan cara itu engkau akan memupuk kedekatan dan kemesraan bersamaKU. Seluruh tingkah lakumu hendaknya dijiwai dengan cinta kasih kemudian Dharma sendiri akan terlihat dalam segala usaha perbuatanmu serta seluruh perasaanmu hendaknya di resapi dengan cinta kasih maka engakau akan mendapatkan kedamaian yang mendalam sehingga tidak dapat membenci dan menyakiti siapapun. Cinta kasih adalah asal muasalah dari kebenaran, cinta kasih adalah dasar Dharma dan Ahimsa, sebab itulah Swami sering berkata,”Kasih adalah Tuhan, Tuhan

adalah Kasih”.

 

Penulis : Florina Selfiana Mandala