29 Oct 20

Om Thomas Liunome dan Baju Merah Muda: Sebuah Catatan Di Ujung Pengabdiannya

BKD.NTTPROV.GO.ID, Postingan di Group Whatsapp BKD NTT Yes 3x mengejutkan saya. Terpampang foto  Om Thomas dan kawan-kawan, lalu tertera caption di bawahnya.

“Hari ini terakhir kebersamaan kami dengan Pak Thomas karena tanggal  01 November 2020 Pak Thomas memasuki masa purna bakti. Terimakasih kepada Pak Thomas atas kerjasama selama ini. Maaf kami apabila ada salah kata, salah ucap dan perbuatan kami yang menyinggung perasaan dan hati Pak Thomas. Bukan perpisahan yang kami tangisi namun pertemuanlah yang disesali. Selamat memasuki masa purna bakti pak Thomas.” Tulis Ibu Agnes Odjan.

Saya kenal Om Thomas sejak saya berstatus CPNS. Tahun 2009, saya, Neny Anggraeny, Sandra Isliko, Santa Anna, Philip Tatut, Tiny Tousalak, dan Ema Dulik, “diterima” di Biro Kepegawaian Sekretariat Daerah Provinsi NTT. Kami lapor diri di sekretariat lalu, kami berkeliling dari sekretariat ke bagian lain sebelum ditempatkan di sub bagian tertentu. 

Kami diperkenalkan dan wajib mengenal Kepala Biro dan seluruh jajarannya. Saya, Neny, dan Philips ditempatkan di Bagian Pengembangan. Saya di subbagian Diklat dan Formasi, Neny di subbag Jabatan Struktural dan Philips di Jabatan Fungsional. Sedangkan Sandra di bagian Kesejahteraan Pegawai, Ema dan Tiny di Bagian Mutasi. 

Setelah membaca postingan Ibu Agnes Odjan, Kabid Mutasi Pegawai, (Selasa, 27/10/2020), muncul perasaan menyesal. Menyesal pada diri saya sendiri karena kurang peka dengan situasi hari itu. Saat itu, saya dan Ibu Dewi keluar dari pintu Bidang Pengembangan, Om Thomas datang dari arah Bidang Mutasi. Ia mengenakan kameja merah muda dan balutan kain tenun. 

“Kalau merayakan ulang tahun, undang o?” Ujar ibu Dewi.

Saya melihat Om Thomas hanya tersipu. Saya tidak pun tidak bertanya. Kami berjalan beriringan menuju Sekretariat. 

Setelah absen, seperti biasa, saya langsung ke meja belakang mununggu dimulainya apel pagi. Om Ir sudah duduk di kursi besar sedangkan Om berdiri di belakangnya. Dengan gerakan tanpa melihatnya, saya pura-pura mengayunkan tongkat hendak menginjak kakinya. Om Thomas dengan refleks menarik kakinya.

“Bu, jangan begitu.” Tanggapnya.

“B (beta, penulis) son lihat o.” Saya membalasnya.

Ini salah satu canda kami. Setiap kali kami bertemu. Entah di kantor maupun di luar kantor.

Apel dimulai. Saya dan Om Thomas segera masuk barisan. Selesai apel pegawai kembali ke ruang masing-masing.

Dan, sorenya, saya baru tahu jika Om Thomas tidak masuk kantor lagi terhitung 1 November 2020 karena pensiun. Saya lalu mengingat lagi candaan ibu Dewi, juga ketika teman-teman lain yang ‘mengusiknya’ hari itu pula sebelum apel dimulai. 

Saya tidak sempat ucapkan kata dan mengulur tangan kepadanya. Segenap keyakinan saya, lain kesempatan saya pasti akan bertemunya untuk menebus kekilafan di hari itu. 

Peristiwa yang terjadi tanpa disengaja. Bila saya ingat lagi detail peristiwa pagi itu, saya tak menyangka  hari itu adalah hari terakhir pengabdiannya sebagai Pegawai Negeri Sipil. Atas kesalahan itu, saya menebusnya dengan tulisan ini untuk mengenangnya sepanjang jalan kenanangan dimulai Biro Kepegawaian hingga berganti nama Badan Kepegawaian Daerah.

Om Thomas, Om Taniu (almarhum) dan Om Kain Faot adalah  PNS senior yang sangat dekat dengan saya. Dekat dalam arti memiliki hubungan yang baik. Bacarita dan baganggu. Dan, saya pastikan tak memiliki konflik dengan mereka.

Hubungan baik terbangun dan terjalin sejak tahun 2009. Saya di Bagian Pengembangan, mereka berdua di Bidang Mutasi. Menurut saya mereka adalah “jawara bertahan”. Sejak saya CPNS hingga tiga kali saya ‘bolak-balik’ Biro Kepegawaian (BKD, sekarang), mereka masih tetap di bidang yang sama. Dari Biro Kepegawaian hingga menjadi Badan Kepegawaian Daerah. Dari almarhum Bapak Karolus Kia hingga Ibu Henderina S. Laiskodat – dari pemimpin yang satu ke pemimpin yang lain - Om Thomas tetap ‘bertahan’ di tempat dan posisi yang sama.

Tentu itu ada alasan yang mendasari mereka menjadi ‘jawara bertahan’. Alasan itu adalah ketekunan dan profesionalisme. Argumentasi ini dapat diuji dan dibuktikan oleh siapapun – termasuk saya. Dan, siapapun tak dapat menyangsikan penguasaan mereka di bidang tugasnya. 

Saat menjalani masa orientasi CPNS hingga diangkat seagai PNS dan ditempatkan  di Biro Kepegawaian, saya selalu jambangi Bidang Mutasi. Saya keliling dari meja Om Thomas, berpindah ke meja Om Kain, kadang juga meja Om Blas Nou (waktu masih staf), Bapak Made (pensiunan) dan Ma Katrin Gembira. Kadang sekedar main, pula bertanya sesuatu tentang aturan kepegawaian. Bagi saya mereka adalah referensi hidup, sumber yang tepat untuk mendapatkan informasi tentang kepegawaian daripada bongkar-bangkir buku atau berselanjar di dunia maya.

Saat kerja,  SK-SK tergeletak di atas meja kerja. Jemari mereka menggengam pensil. Mereka akan mengoreksi SK satu per satu. Jam pulang, mereka merapihkan kembali meja kerja masing-masing. Saya menilai modal Om Thomas adalah ketelitian, ketekunan dan loyalitas. Modal itu jadikan mereka sulit ‘terangkat’ dari Bagian atau Bidang Mutasi hingga memasuki purna tugas.

Di luar dari itu, bagi saya Om Thomas adalah seorang sahabat, pribadi yang akrab dan rendah hati. Saya jarang jumpai dirinya berwajah garang atau bernada suara tinggi. Senyuman selalu menghiasi bibirnya. 
Hal yang paling saya kenang adalah kami suka baganggu. Saya selalu menyapanya “Kase”. Tiap kali berpapasan, entah saya atau Om Thomas akan menyapa dengan sedikit tarik, “O Kase.” Saya mendekatinya sembari mengayun tangan seolah-olah hendak memukul atau pura-pura berlagak menginjak kakinya dengan tongkat saya.

“Usstttt…Kase. Jangan begitu.” Jawab dengan dialek Timor.

Tahun 2010, saya pindah kontrakan di Oepoi. Saya dan Om Thomas melewati rute yang sama. Pada waktu itu, saya membawa sendiri motor tiga roda, uniknya, tanpa sepengetahuan saya, ia selalu menguntit saya dari belakang. 

Setiap kali bertemu di Kantor dan dihadapan Om Kain,  ia selalu bercanda, “Saya tidak bisa kejar roda tiga. Lari pung cepat.”

Saya hanya bisa tersenyum dan selalu menjawab dengan canda, “Saya kalau sudah di atas motor tidak bisa lihat ke kiri dan kanan lagi. Fokus ke depan.”
Itu semua adalah kenangan bersama Om Thomas. Tak mungkin terulang lagi. Apalagi ia sudah mengakhiri karier yang telah dilakoni puluhan tahun. 

Setelah saya melihat foto yang diposting Ibu Agnes, memori saya mencoba mengingat-ingat lagi perjumpaan saya dengan Om Thomas pagi itu. Menyisir  aura wajahnya. Sepertinya ada sesuatu tersembunyi. Seandainya wajah itu gumpalan awan, mungkin akan pecah dan menjelma jadi butiran hujan seketika.
Tetapi kameja merah muda yang dikenakan mengungkapkan semua yang terbungkus raganya hari itu. Kameja itu mewakili seluruh perasaannya yang tak terungkap saat itu. 

Warna merah muda adalah warna cinta. Merah muda diidentikkan dengan jatuh cinta. Merah muda selalu diselaraskan dengan hari kasih sayang (valentine day). Apakah itu sebuah kebetulan atau kesengajaan? Apapun itu, saya selalu yakin dengan apa yang disebut dengan gerakan alam bawah sadar.

Baju merah muda yang dikenakan Om Thomas adalah dampak daripada awal dan proses alam sadar itu. Dengan kata lain, itu bukan sebuah kebetulan belaka. Kameja itu menggambarkan wujud nyata apa yang ada dalam benak dan hati Om Thomas. Ekspresi yang hendak dibaginya kepada semua orang yang mengenalnya – terutama Keluarga Besar BKD Provinsi NTT. Baju itu pralambang cinta yang melandasi awal dan akhir perjalanan kariernya sebagai seorang PNS serta sepanjang perjalanan hidupnya.  

Cinta adalah ekspresi yang mampu merangkumkan semuanya - segala pengalaman dan perjalanan Om Thomas. Om Thomas ‘mungkin’ tak sanggup mengungkapkan seluruh perasaan di penghujung tugas dan pengabdiannya. Ia ‘mungkin’ pula hanya mampu mengungkapkan melalui simbo-simbol yang dikenakannya – baju kameja berwarna merah muda tersebut. 

Dan, baju yang dikenakannya ibarat sekuntum mawar merah yang hendak dipersembahkannya sebagai wujud cintanya pada dirinya (perjalanan kariernya), BKD sebagai ladang tugas pengabdianya dan seluruh rekan kerjanya yang jalan bersamanya. Di atas semua itu, Sumber Cinta itu sendiri, Sang Maha Pencipta, yang memperkenankannya melewati tugas secara paripurna. 

Di peghujung pengabdian
Kadang kita lupa segalanya

Tak sanggup berkata-kata
Lidah keluh

Gugup
Gagap

Segala perasaan itu melebur berjuta rasa
Air mata merangkumkan semuanya
Cinta memegahkan dirinya

Terimakasih Om Thomas untuk sebuah pengabdian,
kebersamaan,
persahabatan, dan 
cinta

Om Thomas, selamat menempuh babak kehidupan baru! 

Penulis: Gergorius Babo, S.Kom (Kasubid Penilaian Kompetensi dan Kinerja)

Foto: Agnes Ina Odjan, S.Sos (Kabid Mutasi Pegawai)

0 Comments

You Might Also Like This

Back to top