Kota Kupang, BKD.NTTPROV.GO.ID - Badan Kepegawaian Daerah Provinsi NTT menyelenggarakan Pembinaan Rohani Gabungan ASN Anggota KORPRI Lingkup Pemerintah Provinsi NTT, hari Jumat, 24 Juni 2022 secara virtual dan disiarkan secara live streaming melalui channel Youtube BKD Provinsi NTT. Tema : "Mewujudkan ASN Sebagai Pelayan Publik yang BerAKHLAK". Hadir memberikan renungan masing-masing rohaniwan dari agama Kristen : Pdt. Ronny S. Runtu, M.Th, agama Islam : Drs. H. Masdriansyah, agama Katolik : Romo Amandus Nuban, Pr dan Hindu : Ir. I Wayan Sumartika, M.Si. Adapun renungan yang disampaikan adalah :
Renungan 1Â (Sudut pandang agama Hindu)
Om Swasty Astu, Syallom, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Namo Budaya, Salve, Salam Kebajikan. Para Pejabat lingkup Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, ASN selaku Anggota Korpri dan Para Pejabat BKD yang berada didalam ruangan ini serta para Rochaniawan selaku Narasumber yang kami hormati. Terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami dalam acara pembinaan Rochani gabungan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) lingkup Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan Thema: Mewujudkan ASN sebagai Pelayan Publik yang Berakhlak. A. Pendahuluan. Ibu Bapak yang kami hormati, sebagaimana kita maklumi bahwa ASN sebagai Abdi Negara dan Abdi Masyarakat perperan sebagai Perencana, Pelaksana dan Pengawas penyelenggara tugas umum Pemerintah dan pembangunan nasional melalui pelaksanaan kebijakan public yang profesional, dan bebas dari intervensi politik serta bersih dari KKN ( Undang- Undang Nomor : 5 Tahun 2014 ). Sesuai Thema tersebut diatas yaitu Mewujudkan ASN sebagai pelayan Public yang berakhlak, terkesan bahwa ASN selama ini kurang berakhlak dengan garis bawahi mohon maaf, sehingga dipandang perlu diberikan pembinaan secara berjenjang oleh atasan dalam Unit Kerja tertentu, dengan harapan kesan negatif tersebut akan hilang dan akan memperoleh kepercayaan yang positif oleh Masyarakat didalam pelayanan publik. B. Pembahasan. Pelayan Publik : Aparatur Sipil Negara ( ASN ) sebagai pelayan publik, hal inilah yang selalu diangkat, dipahami, dicermati, ditanamkan dan dilaksanakan oleh setiap individu yang mengaku dirinya sebagai seorang ASN. Dalam Undang- Undang Nomor : 5 Tahun 2014 tentang ASN adalah profesi bagi Pegawai Negeri Sipil dan Pegawai Pemerintah dalam Perjanjian Kerja yang diangkat oleh Pejabat Pembina Kepegawaian dan diserahi tugas dalam suatu jabatan Pemerintahan atau diserahi Tugas Negara lainnya dan digaji berdasarkan Peraturan Perundang- undangan . Berdasarkan Undang- Undang Tersebut, ASN berprofesi dengan berlandaskan prinsip komitmen, integritas moral dan mempertanggung jawabkan tindakan dan kinerjanya sebagai pelayan public. Nilai dasarnya adalah pengabdian kepada Negara dan Rakyat Indonesia. Sebagai pelayan publik, ASN bertugas memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap, cepat, tepat, akurat, berdaya guna dan santun (santun ini bagian dari berakhlak). Menurut A.S.Moenir, didalam bukunya; Manajemen pelayan umum di Indonesia, menyebutkan bahwa pelayanan ialah sebuah proses pemenuhan kebutuhan yang melalui aktivitas orang lain secara langsung (Moenir 1992: 16). Dengan demikian seorang ASN harus menyadari kehadirannya di tengah- tengah masyarakat adalah untuk melayani masyarakat dan bukan untuk dilayani. Ada pertanyaan siapa saja ASN yang harus melayani masyarakat? Menurut Undang- Undang Nomor: 25 Tahun 2009 tentang pelayanan publik , dalam pasal 1 angka 5 yang menyatakan; Pelaksana pelayanan publik yang selanjutnya disebut pelaksana adalah pejabat , pegawai, peugas,dan setiap orang yang bekerja didalam Organisasi penyelenggara yang bertugas melaksanakan tindakan atau serangkaian tindakan pelayanan publik. Dari pernyataan tersebut sudah jelas bahwa yang dikatakan pelayan masyarakat adalah seluruh pegawai ASN baik staf pelaksana, petugas, termasuk pejabat didalamnya, sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. Setiap ASN harus menyadari artinya pelayan, pasti mengertilah artinya pelayan dan apaapa yang harus dilakukan oleh seorang pelayan. Maka tidak seharusnya seorang ASN menyombongkan diri dengan setatus atau jabatannya dipemerintahan, karaena sejatinya ASN, kita hanyalah seorang pelayan, maka sudah sepatutnya kita bertindak dan bersikap selayaknya seorang pelayan yang harus hadir memenuhi seluruh kebutuhan dan kepentingan masyarakat. ASN yang bertugas sebagai pelayan public harus memahami betul fungsi dan tugasnya yaitu sebagai pelayan pulik dan memberikan pelayanan publik yang professional dan berkualitas. Lalu mengapa masih ditemukan belum maximal dalam pelayanan? Ada juga ditemukan jam operasional pelayanan yang tidak berlangsung sesuai dengan ketentuannya, kecuali masa pandemi,baik terhadap jam buka, jam istirahat petugas, maupun jam tutup pelayanan public tersebut sehingga masyarakat menunggu tidak lama, bahkan ada juga masyarakat pulang dengan sia-sia. Masih ada pelaksana pelayanan public yang bersikap santai, acuh, tidak ramah,bahkan lebih parah lagi sering kali pandang bulu dalam memberikan pelayanan dengan melihat penampilan sipemohon;bahkan ada juga pelaksana pelayanan memintak dilayani sebagai imbalan, kalau tidak bisa ditunda-tunda dengan alasan tertentu. Untuk dimaklumi bahwa Pemerintah sedang berupaya membangun citra positif dan kepercayaan masyarakat terhadap figur ASN dengan menggaungkan Reformasi ASN yang dibentuk oleh Pemerintah, termasuk sistem perekrutan CPNS dan reformasi birokrasi didalamnya. Lalu haruskah oknum oknum ASN seperti dicontohkan tersebut diatas yang akan merusak citra positif yang susah payah diupayakan untuk dibangun, masih pantaskah oknum tersebut disebut sebagai ASN sejati? Pada dasarnya profesi ASN adalah pekerjaan sebagai pelayan adalah pekerjaaan yang sangat mulia sebagai bagian dari ibadah jika diamalkan sepenuhnya dan selurus-lurusnya sesuai dengan sumpah PNS yang telah diucapkan. Seorang ASN harus menyiapkan hati dan mental untuk menjadi pelayan publik yang berintegritas, professional dan handal karena tugas pelayanan publik juga dipertanggung jawabkan kepada Negara, Rakyat,terutama dihadapan Tuhan Yang Maha Esa. Mari bersama-sama kita tinggalkan Budaya ASN yang lama, dengan mereformasi total dengan Budaya kerja ASN dengan menunjukan bahwa ASN kini memang beda. Setiap orang yang bersetatus sebagai ASN diharapkan bias menyadari dan menempatkan dirinya sebagai seorang pelayan publik, jika kesadarannya tersebut sudah tertanam dengan baik pada masing-masing ASN ,harapan tentang integritas dan moralitas( berakhlak), ASN semakin baik akan terwujud. Bagaimana Pandangan Hindu agar ASN berakhlak dalam pelayanan kepada masyarakat: Khusus Umat Hindu untuk dimaklumi bahwa ada beberapa pegangan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat agar citra ASN menjadi positif, bahwa kita sebagai umat benar- benar berakhlak yang baik sehingga kita dipercaya oleh pimpinan, kita mampu menunjukan kinerja yang baik dapat dipercaya juga oleh masyarakat. Adapun yang bisa dijadikan pedoman yang sangat sederhana dalam kehidupan ini kaitan dengan pelayanan, untuk menunjukan bahwa kita mempunyai akhlak yang baik antara lain: 1. Menanamkan akan keyakinan sebagai umat beragama tentang Panca Sradha, terutama srahda yang ke 4 yaitu Hukum Karma Phala. 2. Memahami tentang 3 Kerangka Dasar Agama Hindu, terutama Tatwa/Filsafat, dan Etika/Susila. Dalam filsafat bagaimana kita bisa meningkatkan kecerdasan spiritual dan dalam beretika atau susila harus mampu mengendalikan diri terhadap sadripu yang ada didalam diri kita,serta menanamkan Moto: Tatwam Asi. 3. Menghayati Bagawad Ghita (Bab.III. Sloka 20) yaitu: Dari itu laksanakanlah segala kerja, sebagai kewajiban tanpa keuntungan pribadi, membawa orang kebahagiaan tertinggi. C. Kesimpulan Dari uraian tersebut diatas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Perlu adanya pembinaan terhadap ASN untuk mewujudkan ASN yang berakhlak, agar menyadari dirinya sebagai pelayan public,sebagaimana yang diamanatkan dalam U.U.No.5 Tahun 2014, perlu dibangun ASN yang memiliki integritas, profeional, netral dan bebas dari intervensi politik, bersih dari praktek KKN, serta mampu menyelenggarakan pelayanan public dan berperan sebagai unsur perekat persatuan dan kesatuan Bangsa berdasarkan Panca Sila dan U.U.D.1945. 2. Khusus Umat hindu, tingkatkan keyakinan dalam Panca Sradha terutama Hukum Karma Phala, memahami 3 kerangka dasar Agama Hindu, terutama Filsafat dan etika, serta moto Tatwam Asi, juga menghayati Bhawad Ghita Bab.III Sloka 20
Renungan 2Â (Sudut pandang agama Islam)
MEWUJUDKAN ASN SEBAGAI PELAYAN PUBLIK YANG BERAKHLAK Salah satu fungsi ASN (Aparatur Sipil Negara) adalah sebagai pelayan publik. Pelayan publik adalah pejabat, pegawai, atau petugas yang betugas melaksanakan tindakan atau serangkaian tindakan pelayanan publik, atau pelayanan masyarakat. Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakat yang meliputi pelayan barang, jasa dan administrasi. Sebagai pelayan publik, tugas ASN adalah memberikan pelayanan publik yang professional dan berkualitas. Dalam kaitan dengan pelayanan publik yang professional dan berkualitas, ASN dituntut untuk memiliki dan menerapkan norma-norma tertentu, seperti kompeten dalam melaksanakan tugasnya, jujur dalam perkataan dan tindakan, bersikap tegas dan rasional dalam bertindak dan berperilaku, tegar dan kuat dalam menghadapi berbagai godaan, rintangan, dan tantangan, bersikap netral dalam melaksanakan tugas, adil dan tidak diskriminatif, tidak mempersulit, bersikap simpatik, membuka diri dan siap menampung kritik, protes, keluhan, serta keberatan dari penerima manfaat layanan. Ini semua adalah nilai-nilai yang baik yang di dalam ajaran Islam disebut dengan akhlak yang terpuji. Akan tetapi persoalannya adalah bagaimana agar ASN mampu mewujudkan nilai-nilai tersebut di dalam melaksanakan pelayanan publik ? Dalam pengertian sehari-hari akhlak umumnya disama-artikan dengan budi pekerti, tata-krama, kesusilaan, sopan santun, juga dengan kata moral dan etika. Kata akhlak lebih sering digunakan dalam konotasi positif, sehingga orang yang berperilaku baik sering disebut orang yang berakhlak, sementara orang yang berperilaku tidak baik disebut orang yang tidak berakhlak. Padahal sebenarnya akhlak bisa berarti positif dan bisa berarti negatif. Dalam arti tersebut, orang yang berperilkau baik disebut sebagai orang yang berakhlak terpuji, dan orang yang berperilaku buruk disebut sebagai orang yang berakhlak tercela. Manusia akan menjadi sempurna jika mempunyai akhlak terpuji serta menjauhkan segala akhlak tercela. Aklak seseorang dikatakan terpuji atau tercela bukan hanya diukur melalui tuturkatanya, melainkan juga melalui sikap dan Tindakan atau perbuatannya. Ketika orang bertanya kepada âAisyah, istri Nabi Muhammad s.a.w., mengenai akhlak Nabi Muhammad s.a.w. âAisyah menjawab bahwa akhlak beliau adalah al-Qurâan. Artinya, ucapan dan Tindakan beliau sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam al-Qurâan; Apa yang diperintahkan oleh al-Qurâan beliau lakukan, dan apa yang tidak dikehendaki oleh al-Qurâan beliau tinggalkan. Di dalam al-Qurâan surat adz-dzariyat ayat 56 dikatakan bahwa manusia diciptakan adalah untuk mengabdi kepada Tuhan atau melayani Tuhan. Pengabdian atau pelayanan kepada Tuhan itu sendiri ada dua macam, yaitu pengabdian ritual dan pengabdian non ritual atau pengabdian sosial. Pengabdian ritual adalah kegiatan pemujaan kepada Tuhan sebagai bentuk hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan, seperti sembahyang, puasa, haji, dan zakat atau sedekah; sedangkan pengabdian non ritual atau pengabdian sosial adalah pengabdian atau pelayanan kepada Tuhan melalui kegiatan-kegitan yang dilakukan kepada sesama manusia bahkan kepada sesama ciptaan Tuhan atau sesama makhluk, yang sering disebut dengan hubungan antara sesama manusia atau sesama makhluk. Dalam melaksanakan hubungan antara manusia dengan Tuhan atau pengabdian ritual ada akhlak tertentu, dan dalam hubungan antara sesama makhluk atau dalam pengabdian sosial, juga ada akhlak tertentu. Pengabdian khusus kepada Allah swt, seperti salat atau sembahyang, puasa, haji, dan zakat atau sedekah, yang dilakukan secara baik dan benar akan berpengaruh positif pada perilaku seseorang, baik dalam memperlakukan diri sendiri maupun orang lain atau makhluk yang lain. Allah berfirman di dalam al-Qurâan: âSesungguhnya salat itu mencegah perbuatan keji dan munkar.â (al-Ankabut/29: 45). Ini sama dengan inti ajaran agama itu sendiri, yaitu mendorong orang untuk mengamalkan kebaikan dan mencegahnya dari semua perbuatan yang tidak baik serta dari segala bentuk kejahatan. Karena itu, apabila salat seseorang tidak berhasil mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar, maka sia-sialah salatnya, paling tidak, orang tersebut belum melakukan salat dengan benar. Nabi muhammad s.a.w. mengatakan: âSalat yang tidak dapat mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan munkar, bukanlah salat.â Bahkan di dalam sebuah hadits qudsi disebutkan: âSalat yang Aku (Allah) terima hanyalah salat yang membuat pelakunya merendahkan diri terhadap KebesaranKu, tidak bersikap sombong terhadap ciptaanKu, tidak berkeras menentang perintahKu, senantiasa ingat kepadaKu, menaruh kasih sayang pada orang-orang miskin, orang-orang yang terlantar dalam perjalanan, wanita-wanita yang ditinggal mati oleh suaminya, dan orang-orang yang ditimpa kesusahan.â Di dalam surat al-Maâun Allah swt. juga mengecam orang-orang yang sembahyang tetapi sembahyangnya itu tidak membawa dampak positif pada perilaku sosialnya. Allah berfirman: âTahukah kau orang yang mendustakan agama? (1). Itulah orang yang menghardik anak yatim (2). Dan tiada menganjurkan memberi makan orang-orang miskin (3). Maka celakalah orang yang salat (4). Yang melalaikan salatnya (5). Yaitu mereka yang ingin dilihat (6). Tetapi mereka enggan (memberikan) sedekah (berupa) keperluan yang berguna (7).â Zakat dan sedekah, di satu sisi merupakan upaya untuk menyejahterakan fakirmiskin, di sisi lain merupakan upaya membersihkan diri dari watak kikir, rakus dan tamak, yang sering menghinggapi manusia, dan berdampak buruk bagi kehidupan bersama. Untuk itu manusia dilatih dan dibiasakan untuk memberi kepada pihak lain, baik pemberian wajib, berupa zakat, maupun pemberian suka-rela, berupa sedekah. Kalu tidak memiliki sesuatu untuk bisa memberi, maka segala bentuk kebaikan adalah pemberian. Nabi s.a.w. bersabda: âSenyumanmu kepada saudaramu adalah sedekah, seruanmu kepada kebaikan dan peringatanmu untuk menghentikan kemungkaran adalah sedekah, engkau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat adalah sedekah, engkau menyingkirkan gangguan, duri dan tulang dari jalan adalah sedekah, engkau menuangkan air yang ada dalam timbamu ke dalam timba saudaramu adalah sedekah, dan engkau menuntun orang yang lemah penglihatannya adalah sedekah.â Puasa diwajibkan kepada orang-orang beriman untuk melatih kesabaran, mengekang kemarahan, menghindari kata-kata kotor, dan menghindari berbuat keonaran. Nabi Muhammad s.a.w. mengatakan: âPuasa itu ibarat tameng, maka siapa di antara kalian sedang berpuasa, janganlah dia mengeluarkan kata-kata kotor, dan berteriak mengacaukan suasana; apabila ada orang memancing untuk bertengkar maka katakanlah: âAku adalah orang yang berpuasaâ. (Hadits Riwayat Imam Bukhari). Haji, yang merupakan pengabdian khusus kepada Allah, juga akan membawa dampak sosial yang positif manakala dilakukan secara baik dan benar. Allah berfirman di dalam surat al-Baqarah ayat 97: âHaji itu beberapa bulan yang dimaklumi; maka siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu untuk menunaikan ibadah haji, maka pada waktu itu tidak boleh ada kata-kata tidak sopan, caci-makian, dan pertengkaran.â Demikianlah bahwa pengabdian khusus kepada Tuhan, atau pengabdian ritual, meski sangat spiritual, tetapi sebenarnya merupakan bimbingan bagi manusia untuk berperilaku baik kepada sesama di dalam masyarakat. Ini merupakan cara yang sangat baik untuk mewujudkan nilai-nilai yang terpuji di dalam pergaulan sehari-hari, termasuk dalam melaksanakan tugas dan fungsi ASN sebagai pelayan publik. Di samping mengintensifkan pengabdian ritual, cara lain yang juga harus dilakukan dalam meningkatkan akhlak yang baik adalah saling mengingatkan dan menasehati, yaitu mengingatkan kepada kepada kebenaran, dan kesabaran. Manusia, siapa pun dia, tidak selamanya benar; suatu saat bisa lalai dan berbuat salah. Saat itulah ada kewajiban bagi yang lain untuk mengingatkannya bahwa apa yang dia lakukan adalah tidak benar, dan mengajaknya untuk kembali kepada yang benar, tentu dengan cara-cara yang sangat bijak agar tidak menyinggung perasaan atau membuatnya merasa dipermalukan. Di dalam menjalankan tugas, kadang-kadang orang tidak sabar menahan godaan atau rintangan. Itulah saat bagi teman sekerja untuk menasehatinya agar bersabar. Dalam hal ini juga diperlukan sikap lapang dada dari orang yang dinasehati untuk menerima. Harus ada pemahaman bahwa hanya kawan yang baik yang mau mengingatkan kepada kebaikan. Cara lainnya lagi yang perlu dilakukan dalam rangka meningkatkan akhlak yang baik adalah bergaul dengan mereka yang berakhlak baik. Ini bukan untuk merendahkan apalagi membnci orang lain, tetapi lebih untuk memperbaiki diri, dan lebih karena merasa belum mampu mengajak oang lain kepada kebaikan. Ini perlu dilakukan karena lingkungan itu merupakan faktor yang sangat kuat dalam membentuk pribadi seseorang. Karena itu ada pepatah yang terkenal: âKalua ingin tahu akhlak atau jati diri seseorang, maka kenalilah siapa temannya.â Inilah beberapa hal yang dapat kami sampaikan dalam rangka mewujudkan perilaku yang lebih baik, khususnya bagi ASN dalam melaksanakan tugas pelayan publik. Semoga Allah swt, Tuhan yang Maha Suci dan Luhur, mengabulkan harapan kita semua.
Renungan 3Â (Sudut pandang agama Kristen Protestan)
( 2Samuel 12:1-14)
PENDAHULUAN
v Kebesaran, keagungan dan kemasyuran Daud sebagai Raja atas Bangsa Israel tak terbantahkan. Banyak Keberhasilan-keberhasilan dalam masa pemerintahannya, seperti:
§ Ia konsolidasikan dan persatukan bangsa Israel
§ Ia taklukan musuh-mush bangsa Ibrani (mis: Filistin, Kanaan, Moab, Arnon, Aram, Edom dan Amalek). dan ia jadiakan Israel lebih kuat dari yang sudah-sudah
§ Ia ciptakan pemeritahan yang langeng dengan penuh keadilan
§ Ia taklukkan Yerusalem dan jadikan Yerusaem ibukota Israel
§ Ia bawa tabut perjanjian ke kota Yerusalem dan memulihkan ibadah kepada YHWH
§ Ia tegakkan kerajaannya dan teruskan mahkotanya kepada anaknya, Salomo.
v Namun sangat disayangkan, dibalik kebesaran, keagungan dan kemasyuran itu, Alkitab mencatat kisah yang sangat tragis dan dramatis, tentang bagaimana Daud, seorang yang berkenan di hati Tuhan, kemudian berbalik melakukan perbuatan yang sangat tercela dan kejam !! Dosa dan kesalahan yang sangat fatal itu membuat Allah marah kepadanya. Sebab, apa yang dilakukan Daud adalah jahat di mata Tuhan (bdg. 2 Sam 11:27b).
Â
PENJELASAN AYAT
Ada beberapa hal penting yg dapat kita catat dari kehidupan dan kepemimpin Daud, yaitu;
1)Â Â Â Kesalahan Daud
Daud melakukan perbuatan tercela dan kejam, yaitu:
§ Ia meniduri Bethseba, istri Uria (2 Sam. 11:4-5)
§ Ia merancang jebakan yang mengerikan yaitu ia menyuruh suami wanita yang ia tiduri itu untuk pulang ke rumah supaya ia tidur dengan isterinya agar kejahatannya tidak diketahui orang lain (2 Sam 11:8,10)
§ Ia, dengan siasat yang licik, menempatkan Uria di medan peperangan, dgn harapan ia terbunuh. Sukses atas rencana itu, ia mengambil isteri prajurit tersebut dan menjadikann sebagai istrinya (2 Sam 11:15)
2)Â Â Â Mendapat Hukuman Allah
    Melalui nabi Natan, Allah menegur Daud dan menyatakan hukumanNya. Hukuman itu adalah:
v Pedang tidak akan menyingkir dari keturunanya untuk selama-lamanya (2 Sam 12:12:10)
v Malapetaka akan datang dari dalam kaum keluarga Daud sendiri (2 Sam 12:12:11)
v Isteri-isteri Daud akan ditiduri di depan orang banyak (2 Sam 12:11-12)
v Bahwa sekalipun kemudian Daud bertobat dari segala dosanya, dan Allah memberikan pengampuanan kepadanya (bdg 2 Sam.12:13; Maz. 32:1-5; 51:1-9), tetapi pengampunan Allah tidak meniadakan hukuman atas dosa yang ia buat[1].
3)Â Â Â Titik kelemahan Daud
§ Mengabaikan Kelemahan Karakternya
Daud, sebagai seorang pemimpin mengabaikan kelemahan dalam karakternya, yaitu dorongan seksual. Kelemahan itu membawanya kepada "lingkaran setanâ yang menuju kehancuran landasan moralnya.
§ Mengandalkan Tipu Muslihat Untuk Melindungi Diri
Ketika Daud âbermain-mainâ dengan ketidaktaatan dan kesetiaan kepada Allah, ia menggunakan tipu muslihat untuk melindungi dirinya sendiri. Ia susun rencana untuk menjebak Uria agar tidur dgn istrinya, agar perbuatannya tertutupi.
§ Bertindak menurut Kata Hati
Dorongan seksual untuk tidur dengan Bethseba, membuktikAn bahwa Daud bertindak menurut kata hatinya, DAN BUKAN menurut apa yang TUHAN kehendaki darinya. Dorongan kuat untuk mengikuti kata hati, membuatnya menjadi seteru TUHAN
§ Menyalahgunakan karunia yang diberikan TUHAN
Daud sesungguhnya sangat diberkati TUHAN. Ia seorang musisi yg terampil. Ia penulis lagu yg produktif. Ia Menjadi pemimpin yang diberkati dengan kekuatan dan kekuasaan serta pengurapan kudus dari TUHAN. Namun Daud mempergunakan semua itu justru untuk kepuasan pribadinya !!
[1] Raja Uzia (2Taw. 26:16-18).Seorang raja yang takut kepada Tuhan tetapi setelah menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati dan berubah setia. Hati-hati! Kejayaan, kekuatan bisa membuat manusia berubah setia. Raja Ahas (2Taw. 28:22). Raja yang tidak setia, dalam keadaan terdesak ia makin berubah setia. Permasalahan dapat membuat manusia makin tidak setia. Ia menyalahgunakan kewenangan dan kekuasaannya sebagai Raja untuk âmelayani: kepuasaan diri sendiri, sekalipun harus mengorbankan orang lain
APLIKASI
1)Â Â Â Kemurahan Allah mendorong kita untuk membangun hidup, karya dan kerja yang bermutu/berkualitas.
2)Â Â Â Marilah kita Jadikan karya, kerja dan bakti kita sebagai ibadah sejati kepadaNya. Jika karya, kerja dan bakti menjadi ibadah kita kepadaNya, maka saya percaya, setiap orang akan memberikan yang terbaik kepada Tuhan dan sesama.
Jika prinsip Iman ini kita junjung tinggi maka, tidak akan pernah kita jumpai anak-anak TUHAN yang suka cuci tangan; yang suka berpangku tangan; yang suka Lepas tangan, yang suka lempar batu sembunyi tangan, yang suka memberikan yang sisa-sisa untuk tuhan, dan yang tangannya kotor oleh karena keserakahan, keegoisan, tinggi hati dan kesombongan diri.
Karena itu, marilah kita landasi karya, kerja dan bakti kita dengan menjunjung nilai-nilai utama, yaitu: kesetiaan, ketaatan, kekudusan, maka segala tuntutan kerja/bakti, seperti: membangun kekuatan kolaborasi profesionalisme, sikap bertanggung jawab, berkomitmen dan berintegritas diri, akan dikerjakan dengan penuh suka cita dengan takut akan TUHAN.
Firman-Nya berkata Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3: 23)
Renungan 4Â (Sudut pandang agama Katolik)
Ada dua hal dari tema ini yaitu pertama, hikmat Tuhan, dan kedua setia melayani sesama. Kedua hal ini berkaitan erat satu sama lain. Hikmat Tuhan menjadi sumber kebijaksanaan untuk melayani sesama dengan setia. Kesetiaan manusia dalam karya pelayanan untuk sesama mendapat daya ilahi yang memungkinkan perwujudannya dari hikmat Tuhan. Manusia beriman menggunakan hikmat Tuhan untuk melayani sesama dengan setia. Untuk itu kita akan merenungkan sejenak kedua hal ini dalam kegiatan pembinaan rohani kali ini.
Hikmat Tuhan
Dalam khasanah biblis bangsa Israel, hikmat Tuhan tampak dalam hukum Taurat. Hukum Taurat adalah sumber referensi utama bagi bangsa Israel dalam berlaku bijaksana dalam kehidupan mereka. Dalam hukum Taurat, ada perintah dan larangan Tuhan yang menjadi penuntun bagi Israel agar hidup yang baik dan benar demi kesejahteraannya. Perintah berisi segala hal yang patut dilakukan oleh bangsa Israel. Misalnya perintah untuk menyembah Tuhan, menghormati orang tua, dll. Sedangkan larangan berisi hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh bangsa Israel. Misalnya jangan membunuh, jangan mencuri, jangan bersaksi dusta dan lain-lain. Semua itu menjadi patokan dan pedoman bagi Israel dalam bertindak di hadapan Tuhan dan sesama.
Dalam konteks demikian, orang berhikmat adalah orang yang melaksanakan hukum Taurat dengan tepat. Orang berhikmat mengikuti perintah dan larangan Tuhan dalam hidupnya sehingga ia berada dalam kesejahteraan hidup. Tema ini dilanjutkan oleh para penulis kitab hikmat dengan mengatakan bahwa orang berhikmat melakukan apa yang baik dan benar sesuai hukum Tuhan dan dengan demikian mengalami berkat Tuhan dalam hidupnya. Sebaliknya orang tidak berhikmat adalah orang yang tidak mengikuti perintah dan larangan Tuhan dalam hukum Taurat. Mereka disebut orang fasik, orang bebal, orang tidak berpendidikan, orang jahat. Hasil dari perbuatan mereka yang tidak mengikuti kehendak Tuhan adalah penderitaan dan kebinasaan.
Hikmat Tuhan menjadi dasar bagi bangsa Israel dalam menjalani kehidupan yang bermakna. Hikmat Tuhan menuntun manusia untuk melakukan hal-hal yang baik dan benar, serta mengelakkan hal-hal yang jahat dan sesat. Bonum faciendum, malum evitandum. Yang baik dilakukan, yang jahat dielakkan. Manusia yang berhikmat melakukan hal-hal yang baik, serentak menghindari hal-hal yang jahat, demi kehidupan bersama yang sejahtera.
Apa yang tertulis dalam Perjanjian Lama, memuncak pada Perjanjian Baru, pada diri Yesus Kristus, sang Hikmat Tuhan yang menjadi manusia. Hikmat Yesus menjadi patokan bagi para muridNya untuk melaksanakan apa yang melampaui hukum Taurat. Dalam Matius 5:17-48 tertulis penyempurnaan yang dilakukan oleh Yesus terkait hikmat hukum Taurat. Hukum Taurat menyatakan sekian, tetapi Yesus dengan otoritas ilahiNya menyatakan yang baru, yang melampaui, yang sempurna. Misalnya hikmat mengasihi sesama dan membenci musuh, disempurnakan oleh Yesus dengan hikmat mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya. Contoh ini jelas menyatakan hikmat Yesus yang melampaui hikmat Taurat. Seluruh ajaran hikmat Yesus tersimpul dalam hukum baru, Hukum Cinta Kasih. Mengasihi Tuhan dan sesama, saling mengasihi, adalah perintah utama yang menjadi titik tolak hikmat dan penjabarannya dalam kehidupan bersama.
Setia Melayani Sesama
Memiliki hikmat membuat orang selalu berbuat baik dan benar dalam hidupnya. Perbuatan baik dan benar mengarah kepada kesejahteraan bersama. Dalam hidup bersama, orang berhikmat menghayati spirit pelayanan yang murah hati demi kebaikan bersama. Hidupnya dibaktikan untuk pelayanan yang bermutu bagi kepentingan bersama atau bonum commune.
Dengan kata lain, peran hikmat adalah menggerakkan manusia untuk selalu berbuat baik, dan mengelakkan perbuatan jahat. Hikmat menuntun manusia untuk menghayati cinta kasih dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Manusia kristiani memiliki patron sejati dalam hal hikmat yang menggerakkan kesetiaan dalam melayani sesama. Patron itu adalah Yesus Kristus sendiri, yang adalah Hikmat Ilahi bagi manusia. Dialah sang Kasih yang memberikan teladan dalam hal melayani sesama dengan setia. Seluruh hidupNya merupakan ungkapan kasih kepada manusia. Kata dan tindakanNya mengungkapkan hikmat yang membawa kebaikan bagi manusia. CintaNya yang berkorban sampai mati, bahkan sampai mati di salib adalah tanda agung hikmat ilahi yang menyelamatkan manusia.
Pada perspektif ini, kita melihat bahwa Yesus semasa hidupNya di dunia sungguh memperlihatkan bahwa hikmat Tuhan menggerakkan manusia untuk dengan setia melayani sesama demi kebaikan bersama. Hidup dan karya Yesus menunjukkan hikmat ilahi yang mengilhami manusia untuk melayani sesama dengan setia dan tuntas demi bonum commune. Itu berarti spirit pelayanan Yesus menjadi model bagi para pengikut Kristus masa kini untuk melayani seperti Dia. Agar manusia kristiani masa kini mampu melayani dengan setia, dia harus memiliki relasi yang intens dan kuat dengan Yesus sang Hikmat Ilahi. Relasi itu menjadi basis baginya untuk menimba kekuatan rohani tak kunjung putus agar ia mampu melayani dengan setia dan sukacita. Memiliki Yesus dalam hati sama halnya dengan memiliki hikmat dalam diri. Hikmat itu digunakan untuk melayani. Artinya pelayanan yang diemban dalam dunia pekerjaan dilaksanakan dengan setia karena digerakkan oleh Hikmat
Tuhan yang dimiliki dalam Yesus Kristus.
Seorang murid Kristus sejatinya adalah orang berhikmat. Dia memiliki hikmat Yesus. Dia mengikuti cara berpikir Yesus, cara bertutur kata Yesus, cara bertindak Yesus. Jika semua itu mempribadi, maka yang keluar dari dirinya adalah cinta kasih yang terjabar dalam pelbagai aspek kehidupan. Semua itu mewujud dalam aneka bentuk karya pelayanan bagi sesama demi kebaikan bersama.Â