03 Sep 21

“Memaknai Kemerdekaan Dengan Cara Membangun Optimisme ASN Demi Terwujudnya NTT Bangkit, NTT Sejahtera”

 

Pembinaan rohani kali ini mengusung tema “MEMAKNAI KEMERDEKAAN DENGAN CARA MEMBANGUN OPTIMISME ASN DEMI TERWUJUDNYA NTT BANGKIT, NTT SEJAHTERA”

 

Oleh : Ustad Rasyid Muzhar S.Ag.M.H

Kemerdekaan yang kita raih tidak lepas atas kehendak Allah Tuhan YME, serta kobaran semangat perjuangan yang tinggi para pejuang kemerdekaan.

Kini telah 76 tahun Indonesia merdeka, tugas kita selanjutnya adalah mengisi kemerdekaan dengan karya nyata mewujudkan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia yaitu mewujudkan kesejahteraan Rakyat Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia.

Berjuang tanpa dilandasi semangat yang tinggi, maka tidak akan menghasilkan karya yang optimal, oleh karena tu semangat dan pantang menyerah dalam setiap perjuangan dan berkarya adalah hal mutlak.

Sebagaimana kemerdekaan yang telah diraih tentu bukan hanya karena kemampuan untuk melawan penjajah, akan tetapi bersamaan pula dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa.

Demikian pula di dalam mengisi kemerdekaan, optimisme harus terus dikobarkan dalam setiap karya. Agar optimisme terus berkobar, maka sebagai insan yang berketuhanan Yang Maha Esa, maka perlu  mempedomani instrumen-instrumen agama dengan harapan suatu perjuangan diredhoi dan diberkahi oleh Allah SWT.

Adapun instrumen-instrumen itu adalah :

  1. Bersyukur (Thanks God)

Bagaimana aktualisasi syukur dalam kehidupan nyata kita?, aktualisasinya adalah :

  • menerima potensi yang diberikan Allah pada diri kita apapun bentuknya;

Kegagalan sering terjadi karena manusia terlalu banyak mengeluh atas potensi yang ada pada dirinya.

Jika para pendahulu kita terus mengeluh karena senjata yang ada hanyalah bambu runcing, mungkin saja Indonesia belum merdeka;

Tapi ajaran alquran yang harus terus kita segarkan dalam keyakinan kita bahwa:

“Ketika manusia bersyukur dalam arti menerima apa yang diberikan seraya memuji kebesaranNya, maka insya Allah karunia Allah akan semakin bertambah kepadanya, sebaliknya ketika diingkari akan mengakibatkan manusia semakin jauh dari kasih Allah”

Zinedin Zidan yang pernah meraih predikat Pemain terbaik dunia pernah berkata :

"Saya pernah menangis karena saya tidak mempunyai sepatu sepakbola untuk bermain bola bersama teman-teman. Tapi suatu hari saya melihat seseorang tidak mempunyai kaki, lalu saya menyadari betapa kaya-nya saya."

  • Jangan menyalahkan Tuhan ketika suatu kendala menghambat kita
  1. Ikhtiyar (Do better to be the best)

Kita sering bermimpi, tetapi mimpi itu hanya dalam tidur

Sukarno mengatakan, “gantungkan cita-citamu setinggi langit…”

Artinya, apa ?, kita harus ikhtiyar, ikhtiyar itu apa, ikhtiyar itu usaha.

Allah berfirman dalam al-Quran :

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Caranya kita berusaha, bagaimana caranya ?, terserah kita dengan segala kemampuan yang telah diberikan, kewajiban kita hanyalah ikhtiyar, berusaha.

  1. Tawakkal

Yang sering menjadi masalah dalam kehidupan manusia adalah berbedanya antara harapan dengan kenyataan. Ketika usaha manusia tidak sesuai hasilnya dengan harapan, maka kondisi ini sering membuat orang prustasi, dia lupa bahwa yang menentukan hasil adalah Allah Swt.

 Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ                                                                     “…dan barangsiapa bertawakal kepada Allâh, niscaya Allâh akan mencukupkan (keperluan)nya…” [ath-Thalâq/65: 

Serahkan hasilnya kepada Allah

Man Purpose God Disposes

Artinya : Human beings can make any plans they want, but it's God that decides their success or failure. Manusia yang berusaha, Tuhan yang menentukan, Manusia hanya dapat merencanakan, akan tetapi Tuhan yang akan menentukan hasilnya baik atau tidak.Akan tetapi, Allah tidak akan memgingkari janjinya, barang siapa yang sungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkan sesuatu dari kesungguhannya itu…

  1. Jangan berputus asa

Yang terakhir, ketika hasil usaha kita baik, terus tingkatkan, jika hasilnya belum sesuai harapan, maka jangan berhenti sampai di sini, jangan putus asa, siapkan rencana baru dengan mengevaluasi kenapa terjadi kegagalan. Maju terus NTT, maju terus INDONESIA…

 

oleh Pdt Stefanus A Pandie, S.Th.

 Kita baru saja merayakan HUT ke 76 NKRI, dengan tema Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh. Ini berarti kita sebagai anak bangsa harus mengisi kemerdekaan melalui semua aspek kehidupan untuk mencapai cita-cita nasional: Masyarakat Adil dan Makmur Berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Salah satu pihak yang juga mempunyai peranan penting dalam memaknai kemerdekaan adalah ASN Lingkup Prop. NTT demi terwujudnya NTT Bangkit (kualitas SDM, tingkat kemakmuran, kemampuan berusaha serta menurunnya tingkat kemiskinan-menjadikan kehidupan sejajar dan sederajat dengan daerah lain), NTT Sejahtera (Terpenuhinya kebutuhan dasar, tidak ada diskriminasi). Untuk itu dibutuhkan ASN yang mampu meninggalkan semua pengalaman, baik itu kegagalan masa lalu maupun trauma yang tersimpan dalam jiwa/batin, yang menghambat seorang ASN untuk bangkit, maju, sukses dan bahagia.

Sebaliknya ASN Lingkup Prop. NTT perlu memiliki sikapoptimisdalam diri dan kerja sehingga dapat melihat peluang di setiap hal, memiliki pikiran terbuka terhadap segala hal, berpengharapan dan sukar untuk berputus asa. Sikap Optimisme tidak dapat tumbuh dengan sendirinya, sikap optimisme harus dibangun. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya ASN memiliki Optimisme?

1.Jadikan Anugerah Allah sebagai fondasi hidup

Yeremia 17:5 Beginilah Firman Tuhan  “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan”.

Ini berarti orang yang mengandalkan manusia dan kekuatannya dikutuk oleh Tuhan

Saudara2, pada zaman sekarang ini dikampanyekan optimismeyang mengandalkan kekuatan manusia. Manusia dengan kekuatan diri yaitu pikiran, dapat mencapai keinginannya. Hal ini tidak sejalan dengan Firman Tuhan di atas, bahwa pencapaian manusia bukan karena ia hebat, melainkan karena ANUGERAH ALLAH.

Tuhan Yesus adalah Anugerah terbesar yang diutus Bapa untuk menyelamatkan manusia sehingga barang siapa yang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mempunyajaminan hidup yang kekal. Oleh karena itu Anugerah Allah menjadi dasar dalam membangun optimisme dan pengharapan yang pasti.

Bagi orang percaya, prestasi dalam bentuk apa pun semata-mata karena Anugerah, bukan karena usaha dan kehebatan manusia

2.Jadikan Firman Tuhan sebagai Peraturan hidup.

Mazmur 1:1-2 berbunyi: Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh  tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

Ini artinya nasihat manusia dan sistem dunia akan membawa hidup kita pada kehancuran sehingga tidak ada alasan untuk mengandalkan/mengikuti petunjuk dan jalan2 yang ditawarkan oleh dunia.

Namun sebagai orang percaya kita mempunyai pengharapan karena ada landasan yang kuat yaitu Firman Tuhan. Kita harus berharap dan tunduk kepada Tuhan dan ketika kita setia melakukan Firman Tuhan maka kekuatan dari Tuhan akan menopang kita.

Membangun sikap optimisme ditengah2 kehidupan dewasa inicukup berat karena kita berhadapandengan fakta Sosial, Ekonomi,  Pandemi Covid 19 dll. yang tidak bisa kita hindari.

Tetapi Tuhan memiliki cara yang ajaib untuk menolong kita umat-Nya dalam menjalani kehidupan ini

 

Firman Tuhan dalam Alkitab berisi tindakan2 besar dan ajaib yang Allah lakukan dalam sepanjang sejarah. Tindakan yang sama akan terus dikerjakan oleh Allah hingga kini dan masa yang akan datang.

. Tuhan yang bertindak dalam sejarah adalah Tuhan yang kita percaya dalam Yesus Kristus. Di sinilah optimisme menjadi seni berpengharapan yang pasti.

Saudara2, dengan  menjadikan Anugerah Allah sebagai  fondasi dan Firman Tuhan sebagai peraturan hidup maka orang percaya dalam hal ini ASN lingkup prop NTT dapat memiliki optimisme hidupdan kerja untuk mewujudkan NTT Bangkit, NTT Sejahtera. Tuhan Yesus memberkati, Amin.

 

Oleh : Pater Yulius Yashinto, SVD

 Memasuki usia ke 76 kemerdekaan Indonesia, kita semua boleh bersyukur karena kelimpahan berkat yang telah kita terima sebagai bangsa. Namun demikian, kita juga sedang berada dalam situasi cobaan yang luar biasa karena pandemic Covid-19 yang berdampak negative pada berbagai aspek kehidupan Negara dan bangsa kita.

 Pada situasi baru seperti ini, kita semua ditantang untuk merumuskan kembali peran kita masing-masing di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.

 Refleksi kita bersama dalam bimroh kali ini mengajak para ASN provinsi NTT untuk memaknai kemerdekaan dengan menjadi penumbuh dan penggerak optimisme di tengah masyarakat yang sedang dilanda kecemasan, ketakutan, dan kebingungan akan masa depannya.

2. Pola Pengalaman “Pandemi” dalam Sejarah Keselamatan:

 Abraham dipanggil keluar dari Ur-Khaldea, tempat yang tidak lagi bisa diharapkan untuk pengembangan hidup suatu bangsa, untuk pergi ke “negeri yang baru” di mana Yahweh akan menumbuhkan baginya sebuah bangsa yang besar, bangsa terpilih Israel.

 Kisah Nabi Nuh: Dunia lama dihancurkan sama sekali dan diganti dengan yang baru.

 Bangsa Israel meninggalkan hidup di bawah perbudakan di Mesir, dan berjuang selama 40 tahun untuk mencapai negeri dan kehidupan yang baru.

 Pengalaman pembuangan yang terjadi berkali-kali mengubah kehidupan umat Israel secara mendasar.

 Polanya:

1) Kehidupan lama tidak produktif lagi

2) Tercipta kondisi-kondisi baru yang tidak diprediksi sebelumnya (walaupun sudah ada nubuat para nabi, tapi tidak diperdulikan), yang menghasilkan kecemasan, ketakutan dan kebingungan. Merasa kehilangan arah, Yahweh seperti tidak hadir lagi.

3) Yahwe memanggil tokoh/tokoh tertentu untuk membangun optimism, motivator-motivator, perpanjangan tangan Yahweh sendiri untuk memasuki dunia yang baru, “the new era”.

4) Tercipta dunia baru yang lebih baik dari sebelumnya.

3. Mrk. 4 : 35 – 41 : Yesus menenangkan badai danau.

 “Badai itu sebenarnya bukan berada di laut/danau, tapi dalam ketakutan-ketakutan dan kecemasan hati para murid sendiri. Rasa damai itu berasal dari dalam hati. Dunia sekitar kita akan tetap seperti itu, tidak berubah, tetap menantang dan menekan hidup mereka. Adalah mereka sendiri yang berhasil mengubah cara memandang dunia dan tantangannya, menjadi lebih percaya diri dan yakin akan kehadiran Tuhan yang menyelamatkan”.

 Ketika dilanda gelombang yang mengguncang, badai dalam hidup, apakah reaksi kita? Ada berbagai kemungkinan:

a. Menyalahkan orang lain sebagai penyebab, merasa diri sebagai korban dari keputusan orang lain yang salah. Reaksi spontan: melawan, membalas dendam. Tapi banyak bukti sejarah menunjukkan bahwa membalas dendam hanya akan menambah besar badai kehidupan. “Using evil to overcome evil only multiplies evil by two; it doesn’t divide it in half”.

b. Terlalu menyalahkan diri sendiri, putus asa, kehilangan kepercayaan diri. Sikap seperti ini juga tidak meredakan badai kehidupan sama sekali.

c. Menyalahkan Tuhan, mempertanyakan kehadiran dan peran Tuhan, kehilangan iman. Ini sebuah reaksi yang fata. Dalam kenyataannya, terbukti sepanjang sejarah bahwa Tuhan selalu hadir menolong umatnya yang digoncang badai kehidupan.

 

 Badai kehidupan harus mendewasakan hidup kita, membuat kita lebih bertahan dalam iman, harapan dan kasih. Penderitaan dapat dialami oleh siapa saja, termasuk oleh orang-orang yang baik dan saleh sekalipun. Kewajiban kita adalah memihak dan membantu orang yang menderita. Pengalaman penderitaan harus meningkatkan rasa solidaritas dengan orang-orang lain yang menderita.

4. Panggilan seorang ASN yang beriman: Mengelola Penderitaan dan Tantangan jadi Energi Positif

Kita tentu tidak mengharapkan penderitaan. Tapi kita bisa saja menderita, entah karena fenomena alam, atau hasil perbuatan orang atau karena merupakan bagian dari korban kita secara sukarela. Kalau penderitaan datang:

 Kelola jadi energy positif; tidak kehilangan kepercayaan kepada Allah. “Whispers in pleasure, speaks in conscience, shout in pain” – harus yakin bahwa Allah semakin dekat;

 Belajar dan Berusaha menemukan anugerah-anugerah yang tersembunyi.

 Jangan menjadi penyebab penderitaan bagi orang lain, tetapi harus menjadi sumber kegembiraan, harapan/optimism bagi orang-orang yang sedang dilanda kecemasan dalam hidup.

 Membantu pada waktu kesempatan itu ada, sekecil apapun. Menunda bisa berarti kehilangan kesempatan sama sekali. “Great occasions for service come seldom. Little ones surround us daily”.

 

Oleh : I Wayan Wira Susana, SE

 

Memaknai Kemerdekaan Dengan Cara Membangun Optimisme ASN Demi

Terwujudnya NTT Bangkit NTT Sejahtera

Dalam perayaan kemerdekaan Republik yang ke-76, sudah waktunya kita

merenungkali kembali, melakukan introspeksi: pilihan-pilihan apa yang kita miliki

untuk mengatasi masalah kesehatan, ekonomi dan sosial yang saat ini kita hadapi

bersama. Pilihan-pilihan apa yang kita miliki untuk membuat diri kita sendiri,

lingkungan atau komunitas di mana kita berada dan, tentunya, Nusa Tenggara Timur

tercinta, menjadi lebih baik.

Pertama-tama, kita perlu mendefinisikan kembali makna kemerdekaan.

Definisi ini menjadi penting, karena definisi dari suatu subyek atau obyek

berkembang berdasarkan konteks dan masanya.

Kemerdekaan perlu mendapatkan definisi yang sesuai dengan konteks dan

masanya. Di masa lalu, defisini kemerdekaan berkaitan erat dengan penjajahan.

Kedua kata tersebut memiliki makna yang berlawanan. Merdeka atau tidak terjajah.

Kemerdekaan adalah bebas dari penjajahan. Pengertian tertanan dalam di

benak sanubari para pendiri bangsa, yang kemudian dituliskan sebagai bagian dari

paragraf awal pembukaan konstitusi kita.

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh

sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan

perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Sejarah memperlihatkan bahwa melalui perjuangan fisik, Indonesia berhasil

mengusir para penjajah dan kelompok yang ingin menjajah bangsa dan negara ini.

Namun ketika penjajah berhasil dikalahkan dan diusir, Negara Republik Indonesia

terbentuk.

Belajar dari pengalaman sejarah menjadi penting dalam memaknai arti

kemerdekaan kita saat ini. Jangan lupakan sejarah, kata Bung Karno dalam salah satu

orasinya yang monumental itu.

Oleh karena itu, saat kemerdekaan kembali kita nyatakan hari ini, maka

kedaulatan untuk membuat pilihan adalah hal yang harus kembali diangkat. Kembali

digelorakan. Bahwa merdeka bukan hanya sekadar tidak dijajah secara fisik. Bahwa

merdeka harus dimaknai sebagai daulat dalam menentukan sendiri pilihan yang

diharapkan.

Perayaan kemerdekaan tahun ini harusnya dimaknai dengan membangun

pilihan-pilihan untuk masa depan yang lebih baik. Disatu sisi, saat ini, dalam

penanganan Pandemi Covid 19, pilihan yang kita miliki, jelas tidak banyak. Namun

disisi lain, sambil terus berjuang bahu membahu, kita perlu memikirkan bagaimana

Indonesia pasca-Pandemi. Sesuatu yang perlu dilakukan bersama-sama dengan

mengesampingkan perbedaan yang selama ini membatasi pilihan kita. Untuk

menjadikan NTT betul-betul merdeka. Menjadikan NTT lebih berdaulat dalam

membuat pilihan masa depannya sendiri.

Hal ini juga harus kita tanamnkan bersama sama di Nusa Tenggara Timur

dengan situasi Pandemi Covid 19 yang kita rasakan bersama ini. Banyak aktivitasaktivitas

yang di batasi guna untuk memutus rantai penyebaran virus.

Selain kita melawan musuh dari luar, menurut sudut pandang agama Hindu kita juga

harus melawan musuh dalam diri yang kita harus kita kendalikan. Musuh dalam diri

disebut adalah SAD RIPU. Sesuai dengan Kitab Sarasamuscaya sloka 46, 96, 267,35,

322 serta sloka 88 maka sad ripu meliputi sebagai berikut :

1. KAMA

Kama Adalah Hawa Nafsu. Hawa nafsu yang dapat menjerumuskan manusia

ke arah yang buruk jika dilakukan secara berlebihan. Sekehendaknyalah bila umat

bisa mengekang hawa nafsu mereka menuju kebaikan dari dharma itu sendiri

2. Lobha

Lobha artinya kerakusan. Artinya suatu sifat yang selalu menginginkan lebih melebihi

kapasitas yang dimilikinya. Untuk mendapatkan kenikmatan dunia dengan merasa

selalu kekurangan, walaupun ia sudah mendapatnya secara cukup.

3. Krodha

Krodha berarti sifat kemarahan. Jika berlebihan akan membawa manusia ke jurang

kehancuran. Pengendalian sifat-sifat marah tentu saja akan lebih menyejukkan hati

manusia dalam menjalani berbagai jalan kehidupan.

Sebenarnya, meskipun orang itu selalu jaya terhadap seterunya, serta tak

terbilang jumlah musuh yang dikalahkan, asal yang dibencinya kalah, maka selama

hidupnya pun, jika ia hanya menuruti kemarahan hatinya belaka, tentu saja tidak akan

habis musuhnya itu. Akan tetapi yang benar-benar tidak mempunyai musuh, adalah

orang yang berhasil mengekang kemarahan hatinya.

4. Moha

Moha berarti pula bingung. Bingung yang tiada mampu membedakan mana arti benar

dan salah. Seperti orang bodoh yang tidak tahu mana jalan yang mengandung

kebenaran. Tujuan utama agama akan menghantar pada yang baik yaitu surga.

5. Mada

Mada berarti suatu kemabukan. Kemabukan yang membawa manusia pada

kebingungan. Dan akhirnya dihadapkan pada perbuatan buruk yang akan

mengarahkan ia pada neraka serta kemelaratan hidup.

6. Matsarya

Matsarya disebut juga iri hati. Manusia yang memiliki sifat seperti ini, dalam

Sarasamuscaya adalah manusia yang tidak mengalami kebahagiaan abadi dan

menimbulkan hanya kesengsaraan dalam kehidupannya.

Selain terdapat dalam Kitab Sarascamuscaya mengendalikan musuh di dalam

diri juga tertuang dalam kitab suci Bhagavad Gita Sloka 21 Bab 16

Tri-Vidham Narakasyedam

Dvaram Nasanam Atmanah

Kamah Krodhas Tatha Lobhas

Tasmad Etat Trayam Tyajet

Hawa nafsu, amarah dan loba, ini semua adalah tiga jenis pintu gerbang masuk ke

neraka yang menyebabkan sang roh semakin mengalami kejatuhan. Oleh karena itu

tinggalkanlah ketiga jenis sifat tidak terpuji itu

Akhirnya selain kita bisa mengendalikan musuh dari luar, kita umat hindu juga

berharap mampu mengendalikan musuh di dalam diri yang disebut dengan SAD

RIPU. Karena diyakini jika kita mampu mengendalikan musuh di dalam diri kita

mampu menjadi orang-orang yang bijaksana yang sedikit tidaknya ikut berpartisipasi

membangun NTT Bangkit, NTT Sejahtera.

Saya Bangga menjadi orang NTT walaupun kita tidak se-kaya Provinsi lain

namun kita masyarakat NTT mampu mengangkat martabatnya sebagai provinsi kasih

serta bertoleransi tinggi sebagai cerminan agama itu sudah di praktekan.  

0 Comments

You Might Also Like This

Back to top