31 Mar 21

Memaknai Keberagaman dalam Membangun Kebersamaan di Lingkungan Kerja

Bacaan Alkitab: Filipi 2:1-11

Pdt. Johny E. Riwu Tadu, S.Th, M.Sn  

Tema ini terdiri dari 3 kata kunci, yaitu: keberagamankebersamaan dan lingkungan kerja.

Keberagaman adalah suatu realitas kehidupan kita, termasuk secara khusus dalam lingkup kerja. Keberagaman di lingkup kerja adalah berbagai perbedaan yang melekat pada diri individu, seperti: etnis, jenis kelamin, gender, orientasi seksual, agama, abilitas (Kemampuan dan kecakapan sebagai potensi yang bisa membedakan kualitas setiap individu)/disabilitas (penyandang cacat), nilai-nilai, etika, kemampuan, kebaikan, tingkat pendidikan dan kedudukan sebagai pejabat-staf.

Kebersamaan adalah suatu prakondisi atau prasyarat yang dibutuhkan agar suatu keberagaman itu dapat berfungsi secara positif dalam lingkup tertentu. Kebersamaan bukanlah suatu hubungan yang identik dengan selalu bersama secara fisik, melainkan bagaimana suatu hubungan yang dapat merapatkan hati dengan antar sesamanya karena hati itu sesuatu yang abstrak yang tidak bisa dinilai oleh panca indra biasa. Saling barbagi kebersamaan bisa kepada siapa saja, baik kepada teman, teman kerja, sahabat, keluarga, ataupun dengan kekasih. Banyak persoalan – persoalan / masala-masalah akan lebih mudah diselesaikan jika ada kebersamaan. Sebaliknya, bila kebersamaan terpecah belah akan pahit rasanya dan akan banyak pengorbanan yang dibutuhkan untuk memperbaikinya kembali.

Dalam menjalin suatu kebersamaan, pastinya kita memiliki tujuan yang sama, yaitu menciptakan suatu keutuhan persatuan dan kesatuan bersama yang menjadikan kekuatan dalam mewujudkan visi dan misi yang ingin dicapai. Hal ini mesti ada hubungan timbal balik, atau istilahnya Simbiosis Mutualisme, artinya hubungan antara kedua makhluk hidup yang saling berhubungan yang sama-sama diuntungkan karena adanya hubungan tersebut. Contoh: hubungan antara bunga dengan kupu-kupu. Kupu-kupu yang cantik suka hinggap di bunga yang indah. Kupu-kupu hinggap di bunga karena ia membutuhkan madu yang terdapat di bunga. Kupu-kupu diuntungkan karena menemukan bunga, begitu pula bunga diuntungkan juga karena kedatangan si kupu-kupu. Dengan adanya kupu-kupu bunga dibantu penyerbukannya.

Sedangkan lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekitar para pekerja/karyawan (ASN), baik berbentuk fisik atau non fisik, langsung atau tidak langsung, yang dapat memengaruhi dirinya dan pekerjaannya saat melaksanakan pekerjaannya sehingga akan diperoleh hasil kerja yang maksimal.

Kondisi lingkungan kerja dikatakan baik atau sesuai, apabila yang bekerja dapat melaksanakan kegiatan secara optimal, sehat, aman, dan nyaman. Manfaat lingkungan kerja adalah menciptakan gairah kerja, sehingga produktivitas dan prestasi kerja meningkat. Ketika karyawan berada di lingkungan yang sangat mendukung ide kreatifnya, ia akan bekerja lebih efektif dan menghasilkan pekerjaan yang maksimal. Sebaliknya, jika jenis lingkungan kerja tidak mendukung karyawan dan keseluruhan operasional kerja, maka akan sulit memperoleh sistem kerja yang efisien dan efektif.

Berhubungan dengan konteks dan kebutuhan tema ini, maka bacaan nas Alkitab dari Filipi 2:1-11 sangat tepat bagi kita, karena mengajarkan tentang bagaimana dalam hidup bersama, baik dalam lingkup yang terkecil: keluarga, dalam Jemaat/Gereja, di tengah masyarakat, juga termasuk dalam lingkup kerja di mana kita berada.

Tidak ada seorangpun yang dapat hidup seorang diri tanpa membutuhkan orang lain. Orang yang ingin hidup seorang diri tanpa sesama baik teman, kenalan, tetangga atau saudara, tentu akan mengalami kesulitan. Kita membutuhkan sesama dalam hidup bersama. Tapi hidup bersama bukanlah hal yang mudah. Kadangkala teman, kenalan, tetangga bahkan saudara dapat berubah menjadi saingan atau lawan yang kita anggap mengancam posisi kita. Hubungan baik dapat berubah menjadi permusuhan, percekcokan dan perselisihan.

Jemaat di Filipi sedang menghadapi ancaman perselisihan dan perpecahan. Kehidupan persekutuan di Filipi tidak lagi sehati dan sepikir. Karena itu, Paulus dalam suratnya ini mengajak jemaat di Filipi untuk sehati dan sepikir dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan. Bahkan dalam pasal 4:2 secara jelas Paulus menyebutkan nama 2 wanita yakni Eodia dan Sintikhe supaya sehati dan sepikir dalam Tuhan. Itu berarti bahaya perselisihan dan percekcokan sangat mengancam keutuhan Jemaat yang dibangun dari hasil pemberitaan Injil Rasul Paulus ini.

Paulus mengajak jemaat di Filipi untuk sehati dan sepikir dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Dalam hidup bersama sering muncul kecenderungan untuk mencari pujian. Tidak sedikit orang yang bekerja keras di dalam Gereja, juga di tempat kerja, mengikuti banyak kegiatan tapi untuk mencari pujian bagi diri sendiri. Ada yang berkata: “tanpa saya, kegiatan ini tidak akan sukses"; atau "karena saya yang menjadi panitia maka acara itu sukses". Orang yang mencari pujian bagi diri sendiri adalah orang yang belum sehati dan sepikir.

Paulus mengajak Jemaat di Filipi untuk sehati dan sepikir dengan cara bersikap rendah hati dan mengutamakan kepentingan orang lain lebih dari kepentingan pribadi. Ini juga sama sulitnya. Sebab sebagai manusia kita cenderung untuk mencari penghormatan dan harga diri. Manusia cenderung menjadi orang yang berpengaruh supaya bisa mengatur orang lain. Cenderung menonjolkan kesan yang baik tentang diri sendiri dan menjelek-jelekan orang lain.

Paulus mengajak jemaat di Filipi untuk sehati dan sepikir dalam hidup bersama dengan menaruh pikiran dan perasaan seperti yang terdapat pada Kristus. Berpola pada Kristus yang mengosongkan diri. Kristus yang mulia dan benar, mengutamakan kepentingan dan keselamatan manusia yang berdosa. Kristus yang memiliki kedudukan istimewa, tidak meminta perlakuan istimewa. Kristus tidak mengingini kehendak-Nya sendiri. Dia hanya mengingini kehendak Bapa-Nya. Yesus bukan saja melayani orang lain, bukan saja menyembuhkan orang sakit atau membangkitkan orang mati, tetapi Yesus memberi diri-Nya sendiri untuk mati di kayu salib bagi kita manusia.

Salib bukan saja lambang kasih dan pengampunan, tapi juga lambang pemberian diri. Suatu bentuk pemberian diri yang tidak memerhitungkan harga diri. Adakah kita mampu seperti itu? Memberi waktu, memberi uang, memberi bakat sampai memberi diri untuk kepentingan pelayanan dan pekerjaan, padahal kita tidak menerima apa-apa sebagai imbalannya, justru harga diri kita harus dikorbankan. Jaman sekarang ini, gaya hidup seperti itu akan dianggap bodoh. Gaya hidup seperti itu melawan arus kelaziman. Bukankah semua orang justru berpola hidup mengarah kepada kepentingan diri sendiri?

Sesungguhnya, gaya hidup mengosongkan diri dan memberi diri seperti Kristus yang dianggap bodoh oleh dunia; di situlah letak kekuatan pelayanan Yesus. Itulah yang membuat Allah meninggikan Yesus dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama. Yesus yang merendahkan diri, ditinggikan oleh Allah. Marilah kita memuliakan Allah dalam hidup kita dengan hidup sehati, sepikir, mengosongkan diri seperti teladan Kristus bagi kita.

Senar gitar terdiri dari beberapa buah. Bila dipetik oleh orang yang pintar bermain gitar, akan kedengaran alunan musik yang indah. Piano terdiri dari beberapa tuts. Bila tuts-tuts itu ditekan oleh orang yang piawai bermain piano, akan terdengar rangkaian nada anggun. Bila biola digesek oleh seorang pemain kawakan, akan terdengar alunan musik menawan. Gitar, piano dan biola serta alat musik lain memiliki perbedaan warna suara dan berbeda cara memainkannya. Tidak sama dan memang harus berbeda. Yang penting adalah keselarasannya. Jika dimainkan dengan serasi, akan terdengar lagu merdu.

Bayangkanlah bila dalam suatu orkestra beberapa alat musik dimainkan sembarangan tanpa nada dan not yang tak jelas. Apalagi masing-masing alat musik dimainkan dengan lagu yang berbeda pada saat yang sama dan di tempat yang sama. Apa jadinya?

Akan terdengar musik tidak karuan dan sangat mengganggu pendengaran. Tidak betah kita mendengarnya.

Dalam orkestra ada peran seorang konduktor untuk mengarahkan kapan sebuah alat musik harus dimainkan dan bagaimana temponya. Orang yang memainkan alat musik harus taat kepada sang konduktor dan tidak boleh asik sendiri dan jangan bermain sesukanya meskipun dia pintar.

Demikianlah kehidupan orang yang telah percaya kepada Tuhan di manapun kita berada, bagaikan kumpulan alat musik yang beragam. Kita memiliki perbedaan dalam latar belakang, kedudukan, pemikiran, talenta dan sebagainya. Harus ada keserasian di antara kita agar tercipta irama dan harmoni untuk mencapai maksud dan kehendak Tuhan dalam hidup kita.

Yang penting bukanlah kesamaan tetapi kebersamaan dalam keberagaman kita mewujudkan panggilan Allah atas hidup kita masing-masing. Biarlah masing-masing kita mejadi diri kita seutuhnya dan tidak harus menjadi orang lain.

Tujuan akhir dari tema renungan bulan ini adalah berkaitan dengan keberadaan lingkungan kerja yang baik dalam lingkup Pemerintah Provinsi NTT, di mana dalam realitasnya ada keberagaman itu, sehingga dituntut adanya prakondisi yang baik dalam bentuk nilai kebersamaan. Nilai kebersamaan itu ditunjukkan melalui sehati dan sepikir dengan cara bersikap rendah hati dan mengutamakan kepentingan orang lain lebih dari kepentingan pribadi, bahkan sampai nilai yang terttinggi, yaitu pengosongan diri dan pemberian diri seperti Kristrus yang pada akhirnya mendatangkan kemuliaan bagi Allah. Terpujilah Tuhan melalui Firman-Nya, Amin!

Memaknai Keberagaman dalam Membangun Kebersamaan di Lingkungan Kerja

Oleh : Ir Wayan Sumartika M.Si

Om Swastyastu, Syallom, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Namo Buddhya, Salve, Salam Kebajikan

Para pejabat lingkup pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, ASN selaku anggota KORPRI dan para pejabat BKD yang berada di dalam ruangan ini serta para rohaniawan selaku narasumber yang kami hormati.

Terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami dalam acara pembinaan rohani gabungan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) lingkup pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan tema “Memaknai Keberagaman Dalam Membangun Kebersamaan di Lingkungan Kerja”.

  1. Pendahuluan

Ibu Bapak yang kami hormati, sebagai mana dimaklumi bahwa ASN sebagai abdi Negara dan abdi masyarakat berperan sebagai perencana, pelaksana, dan pengawas penyelenggaraan tugas umum pemerintah dan pembangunan nasional melalui pelaksanaan kebijakan pelayanan public yang professional bebas dari intervensi politik serta bersih dari praktek KKN (Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014).

  1. Memaknai Keberagaman dalam Mebangun Kebersamaan di Lingkungan Kerja

1. Keberagaman

NKRI terbentuk dari keberagaman dalam semua aspek kehidupan meliputi jenis kelamin, wilayah, suku bangsa, agama, ras dan golongan.

Sebenarnya apa arti keberagaman dan apa faktor keberagaman di Indonesia• Pengertian keberagaman adalah suatu kondisi dalam masyarakat yang terdapat banyak perbedaan dalam berbagai bidang. Perbedaan dapat terlihat dari suku bangsa, ras, agama, keyakinan, ideologi politik, sosial budaya, ekonomi, dan lain lain.• Keberagaman adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri dalam kehidupan masyarakat di Indonesia. Keberagaman tersebut merupakan kekayaan dan

  • keindahan bangsa Indonesia. Adanya keberagaman di Indonesia menjadi modal persatuan dan kesatuan bangsa.
  • Faktor penyebab keberagaman di Indonesia. Keberagaman masyarakat Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor baik dari dalam maupun dari luar masyarakat. Secara umum keberagaman masyarakat Indonesia dipengaruhi faktor alam, masyarakat dan individu. Bahwa di Indonesia sangat dikenal dengan keberagaman suku, budaya, dan agamanya.

Keberagaman ini membuat setiap individu memiliki keunikannya masing-masing karena karateristik merupakan cirri khas yang melekat kepada individu ataupun hal lainnya. Dalam masyarakat Indonesia dengan mudah ditemui adanya keragaman karateristik, contohnya keragaman agama, pekerjaan, ekonomi, pendidikan dan lain-lain.

Keragaman karateristik tidak hanya terjadi dalam masyarakat, namun juga terjadi dalam lingkungan kerja dikantor. Keragaman suku di lingkungan kerja berpengaruh pada keberagaman agama, budaya, bahasa daerah, pakaian adat, dan lain lain

2. Kebersamaan

Kebersamaan adalah sebuah ikatan yang terbentuk karena rasa kekeluargaan atau persaudaraan, lebih dari sekedar bekerja sama atau hubungan profesional biasa selayaknya kepentingan bersama lebih diutamakan daripada kepentingan pribadi.

Sekarang timbul sebuah pertanyaan yaitu:

“Bagaimana ASN dan para pejabat memaknai keberagaman dalam membangun kebersamaan di lingkungan kerja di kantor masing-masing?”

Hal ini tentu tidak dapat disangkal lagi, bahwa setiap ASN telah mendapatkan pembagian tugas sesuai tupoksi (job description), serta pembekalan, bimbingan atau pengarahan secara berjenjang, berkala oleh pimpinan unit kerja tentang bagaimana memaknai keberagaman dalam mebangun kebersamaan di lingkungan kerja untuk dapat meningkatkan kualitas kinerja setiap ASN sesuai beban kerja yang telah ditetapkan sebagai program kerja unit kantor. Sekarang bagaimana pandangan Hindu tentang memaknai keberagaman dalam membangun kebersamaan di lingkungan kerja.

Disamping memperhatikan empat pilar kebangsaan (Pancasila, Undang-Undang Dasar Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia) untuk menumbuh kembangkan jiwa patriotisme yang tinggi hingga mampu memaknai keberagaman dalam membangun kebersamaan dilingkungan kerja, dipandang perlu bagi ASN Hindu mampu mengimplementasikan Tri Hitakarana yaitu

a. Hubungan harmonis antara manusia dengan manusia

b. Hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan

c. Hubungan harmonis antara manusia dengan Sang Pencipta.

Disamping ini juga tidak kalah pentingnya dengan apa yang dimuat dalam Bhagavad Gita (Bab III, Sloka 20)

Dari itu laksanakanlah segala kerja, sebagai kewajiban tanpa keuntungan, sebab kerja tanpa keuntungan pribadi, membawa orang kebahagiaan tertinggi.

Kesimpulan :

Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa untuk dapat memaknai keberagaman dalam membangun kebersamaan dilingkungan kerja setiap ASN dapat menjiwai empat pilar kebangsaan untuk menumbuh kembangkan jiwa patriotisme yang tinggi sedangkan ASN Hindu dapat mengimplementasikan Tri Hita Karana dan juga tidak kalah pentingnya dengan Bhagavad Gita (Bab III, Sloka 20).

Terimakasih

 

Materi Pembinaan Rohani Gabungan Anggota Korpri Lingkup Pemerintah Provinsi NTT

Oleh Rohaniawan Islam Drs. Lukman Sara, M.Pd

Keberagaman suku, adat, etnis, budaya, Agama adalah suatu karunia Tuhan yang patut di sukuri. Dengan beragam inilah merupakan kekuatan bangsa saling menopong, saling mendukung untuk saling membangun peradapan bangsa ini Allah yang maha mengetahui segala sesuatu di alam zagat raya ini maka diciptakan segala macam jenis tumbuh tumbuhan, beragam macam jenis hewan, beragam macam jenis tumbuh-tumbuhan, beragam jenis makluk ciptaan Allah merupakan khasanah bangsa, dengan beragam ini merupakan kekuatan dalam mengisi dan membangun bangsa ini. Tiap –tiap suku, etnis, adat, budaya, tradisi, agama mengambil peran dalam mengisi pembangunan di Negeri yang tercinta. Pada masyarakat hindu dan budha telah mengambil peran pada abat ke 5 peradaban umat manusia masi rendah meraka sudah mampu membangun candi Borobudur, candi mendut, candi prabanan merupakan peradaban dunia. Contoh lain seperti umat islam di Indonesia pada abat ke 7 peradaban umat manusia masih rendah umat islam sudah mampu membuat kapal layar/atau perahu layar sudah menguasai nusantara karena wilayah nusantara adalah daerah kepulauan dengan kapal layar dari satu pulau ke pualau yang lain kembangkan perdagangan sambil meyiarkan agama islam ketika bermukim di suatu pulau disitulah terjadi perkawinan antar suku antar etnis antar agama, maka berkembang biaklah semua rumpun manusia dalam satu bingkai Bhineka Tunggal Ika berbeda beda tetapi bersatu.

Satu bangsa bangsa Indonesia satu bahasa bahasa Indonesia satu tanah air tanah air Indonesia kita tidak boleh mungkiri keberagaman ini perbedaan ini adalah karunia Tuhan seperti Allah ingatkan kita dalam Al-Quran Al-Hujrat : 13

Maka terbentanglah kepulauan nusantara dengan keunggulan dan khasnya masing, suku toraja suku bugis suku jawa, suku minang suku dayak suku bali suku irian. Untuk khsus kita di Nusa Tenggara Timur tumbuh beragam macam budaya adat tradisi yang merupakan warisan leluhur kita yang kita kemas dalam satu kekuatan yang luar biasa ada suku alor dengan keindahan pulau kenari, suku sabu dengan keindahanya gula manis suku sumba dengan keindahanya pacuan kuda suku timor dengan keindahannya cendana dan ternak hewan suku rote dengan keindahannya tuak manis.

Inilah makna keberagaman yang tidak terdapat di dunia lain kecuali di negeri nusantara. Suku flores ikan paus Allah juga ingatkan kita dalam Alquran Al-Maidah : 48

Keberagaman ini merupakan khasanah bangsa kekayaan bangsa keindahan panorama Alam baik itu seperti danau, pantai, gunung , cagar alam, hewan dan tumbuh –tumbuhan kita pelihara, kita rawat kita jaga jadikan parawisata untuk menambah ingkam penkapita Kekuatan ekonomi kita. Agar negeri ini hidup makmur aman sentosa rukun dan damai dalam bingkai Negara kesatuan Indonesia.

Contoh lain ingin saya paparkan kepada kita bahan renungan kita di laut sekiranya Allah ciptakan satu jenis ikan hanya ikan nipi saja kita suami istri hari hari bertengkar.

 

Persaudaraan Sejati

Oleh Romo Fransiscus Amandus Ninu,Pr

Negara kita sangat menjunjung tinggi keberagaman dan persatuan. Hal ini bertolak dari kenyataan bahwa penduduk Indonesia terdiri atas berbagai suku, agama, ras dan golongan yang selalu bersatu membanmgun negara dan bangsa kita. Semboyan “Bhineka Tunbggal Ika” yang dipilih oleh para pemimpin bangsa kita di awal perjuangan kemerdekaan sebenarnya hendak menunjukkan bahwa p[erbedaan yang dimiliki harus disatukan demi mewujudkan kemerdekaan. Semboyan Bhineka Tunggal Ika harus menjiwai semangat hidup kiyta agar kita senantiasa menjunjung tinggi keberagaman. Keberagaman di negara kita ini menjadi identitas bangsa Indonesia di mata dunia. Hal ini merupakan satu kebanggaan bagi kita sebagai penduduk Indonesia.

Dalam kehidupan kita, kita selalu berjumpa dan berhadapan dengan keberagaman. Di dalam rumah kita, di dalam keluarga kita, kitapun berjumpa dan berhadapan dengan keberagaman. Kita bertemu dan bekerjasama dengan teman-teman kerja kita yang berbeda latar belakang kebudayaan, agama, ras dan lain-lain. Inilah kenyataan hidup kita dan kita tidak bsa mengngkarinya. Kenyataan lain yang kita hadapi ialah kita cenderung untuk menghondari keberagaman. Kita selalu berusaha untuk mencari keluarga kita, mementingkan keluarga kita di duna kerja. Tindakan kita tersebut menunjukkan bahwa kita sebenarnya meletakkan kepentingan keluarga diatas kepentngan umum. Kita tidak menghayati nilai-nilai keberagaman yang terdapat dalam Pancasila dan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Ini merupakan tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan semboyan negara kita.

Dalam kaitandengan keberagaman ini, Mazmur 133 menegaskan kepada kita bahwa hidup dalamk suasana persaudaraan merupakan sesuatu yang indah. Hidup dalam suasana persaudaraan itu bagaikan minyak yang harum mewangi, yang mengalir ke sekujur tubuh manusia. Minyak yang harum tersebut akan membuat suasana menjadi indah dan akan membawa kesukaan bagi setiap orang, Hidup dlam suasana persaudaraan akan membuat kita bahagia, karena suasana persaudaraan merupakan kehendak Tuhan sendiri.

Hidup dalam suasana persaudaraan sebenarnya sudah ditegaskan sejak awal mula penciptaan. Allah, ketika menciptakan manusia, menghendaki agar manusia hidup berdampingan satu sama lain dalam suasana persaudaraan. Kehendak Allah tersebut menunjukkan bahwa manusia adalah makluk sosial. Kita tidak dapat hidup seorang diri saja. Kita membutuhkan orang lain agar kita bisa hidup dapat mengembangkan diri kita.

Bagaimana cara kita memaknai keberagaman dalam membangun kebersamaan dilingkungan kerja kita masing-masing ? Ada banyak cara untuk memaknai keberagaman dalam membangung kebersamaan, salah satu caranya ialah hidup dalam persaudaraan yang sejati. Kita harus melihat dan menerima orang lain sebagai saudara kita. Hal tersebut kita lakukan bukan saja karena merupakan sesuatu yang benar, tetapi juga lebih dari itu merupakan sesuatu yang di;imgkungan kerja kita. Kita hendaknya menjadi seperti minyak wangi yang menyukakan hati setiap orang, yang mampu membawa kesejukan bagi setiap orang yang menggunakannya. Kita hendaknya menjadi saudara bagi teman-teman kerja kita sama seperti Yesus menjadi saudara bagi kita semua.

0 Comments

You Might Also Like This

Back to top