01 Aug 21

Ikhlas Melayani di Masa Pandemi Sebagai Wujud Pengorbanan yang Sejati

Oleh: Dr.I Gusti Made Budiana, S.Si., M.Si

 

Hadirnya pandemi COVID-19 telah membawa perubahan terhadap dunia dengan berbagai tantangan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Di Indonesia, wabah COVID-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir dan bahkan cenderung mengalami peningkatan. Wabah ini telah memberikan berbagai dampak merugikan kepada kita baik di bidang sosial maupun ekonomi. Di bidang sosial telah menimbulkan permasalahan-permasalahan sosial seperti meningkatnya angka pengangguran dan kemiskinan. Pada bidang ekonomi sudah tentu terjadinya perlambatan petumbuhan ekonomi, yang sebelum pandemi mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah seperti memberikan bantuan sosial kepada masyarakat yang terdampak pandemi, melakukan pembatasan sosial untuk menekan penyebaran virus Covid-19 sambil di sisi lain terus gencar melaksanakan rogram vaksinasi guna tercapainya kekebalan yang diinginkan sehingga pandemi ini segera dapat di atasi. Tentunya semua program pemerintah tersebut tidak akan berhasil tanpa peran serta semua masyarakat dan aparatur negara Korps Pegawai Negeri atau KORPRI.

Korps Pegawai Negeri Republik Indonesia sebagai abdi Negara dituntut selalu kuat, kompak dan bersatu padu, memiliki kepekaan, tanggap dan memiliki kesetiakawanan yang tinggi, berdisiplin, serta sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat. Sebagai pelayan masyarakat para Pegawai Negeri haruslah dapat melaksanakan tugas dengan keikhlasan. Jika kita tidak bisa membantu masyarakat di masa pandemi ini dengan materi setidaknya jangan kita bebani mereka dengan sikap-sikap ketus dan kasar dalam pelayanan.

Berbicara tentang keihklasan dalam menjalankan tugas, ijinkan saya mengutip salah satu sloka atau ayat dari Kitab Bhagavad Gita Bab II. Sloka 47,

yang berbunyi:

Karmany evadhikaras te

Ma phalesu kadacana

Makarma-phala-hetur bhur

Ma te sango stv akarmani

Artinya:

Hakmu hanyalah pada pelaksanaan tugas kewajiban

dan sama sekali tidak pada pahala dari tugas kewajiban yang engkau lakukan

jangan beranggapan engkau menjadi penyebab dari hasil perbuatan

dan jangan pula menjadi terikat untuk tidak melaksanakan tugas kewajibanmu.

  

Ayat di atas mengandung makna agar dalam melaksanakan selalu fokus pada pekerjaan yang menjadi tanggung jawab setiap Aparatur Sipil Negara, mengenai pahala adalah urusan Tuhan yang dengan sendirinya akan kita peroleh jika kita telah melaksanakan tugas dengan dilandasi sikap-sikap ramah dan ikhlas dalam pelayanan, hormat pada orang lain, jujur, bekerja keras dan bertanggung jawab. Sikap-sikap tersebut harus senantiasa tertanam dalam setiap diri ASN terlebih-lebih di masa-masa sulit Pandemi Covid-19 yang sedang melanda negeri ini. Ada beberapa manfaat yang dapat kita peroleh jika melaksanakan tugas dengan penuh keikhlasan yaitu;

1. Diberkati Tuhan

2. Semua tugas menjadi ringan dan hati kita menjadi lapang

3. Dijauhkan dari rasa benci, iri, dengki dan sifat-sifat negatif lainnya

4. Dicintai oleh sesama.

 

OLEH : DRS. H. HUDAYANUR

 

Sesuai denganTopik yang diberikan yakni :” IKHLAS MELAYANI DI MASA PANDEMI SEBAGAI WUJUD DARI PENGORBANAN YANG SEJATI ”. ini adalah sebuah tema yang menarik untuk dikaji, dipahami dan diamalkan. Dalam melaksanakan tugas sebagai Aparatur Sipil Negara. Dalam masa masa sulit menghadapi pandemic yang kita tidak bisa mengetahui kapan berakhirnya.

“Ikhlas” menurut Bahasa ialah suci atau murni, menurut Istilah Ikhlas adalah Mengerjakan sesuatu atau Amal Ibadah semata mata mengharapkan keridhaan zat yang maha Agung , Alllah SWT. Bagi orang yang beriman, Ikhlas seharusnya menjadi titik tolak dari setiap amal, perbuatan yang kita lakukan. Karena

Barang siapa yang Ikhlas Akan menyempurnakan Iman. “ “

Dalam hadist lain Rasulullah SAW. Bersabda yang artinya ; Barang siapa yang cinta karena Alllah,

benci karena Allah dan bertemu kerena Alllah serta berpisah karena Alllah, maka sungguh sempurnalah

Iman ( H. R. Abu Daud dan Turmizi).

Imam Al Ghazali pernah berkata :

Artinya : Jika Amal Perbuatan dimisalkan dengan sebuah tubuh (jasmani) maka Ikhlas merupakan Rohnya.

Dalam urai diatas mengambarkan kepada kita bahwa Ikhlas itu merupakan sumber kekuatan yang

mendorong untuk berbuat tampa pamrih ,yang memberi hidup amal dan perbuatan dalam pelayanan sebagai

wujudnya terlihat dari pengorbanan yang sejati, dapat dirasakan dari hasil dan manfaatnya oleh orang lain.

Dalam mengurusi urusan public, yakni pelayanan di tengah tengah masyarakat Rasulullah SAW bersabda

yang artinya :

“Permudahlah jangan mempersulit, dan jadikanlah suasana yang tentram, jangan menakut- nakuti “

(H.R. Muslim )

“Barang siapa yang melepaskan kesusahan duniawi seseorang, Allah akan melepaskan kesusahannya diakhirat, barang siapa memudahkan seseorang yang mendapat kesusahan, Alllah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat” (H.R.Muslim)

Artinya : “ Jika kamu berbuat baik, sesungguhnya kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri, jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu untuk dirimu sendiri “ (Q.S. Al Isra’ : 7 )

Artinya : “ berbuat baiklah engkau (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”

(Q.S . Al-Qashas : 77 )

Ikhlas melayani di masa Pandemi sebagai wujud dari pengorbanan yang sejati, perlu kita instropeksi diri kita masing masing, berkaca diri pada masa masa sulit sekarang ini kita dihadapi persoalan pandemic yang susah untuk dipradiksi dengan pasti. Membutuhkan Pengorbanan, kesabaran dan berikhtiar serta berjuang secara Bersama sama untuk saling menguatkan, bergontong royong, bahu membahu supaya kita terbebas dari pandemic.

Mari kita mengambil pelajaran dari para pejuang, pahlawan bangsa kita, berjuang tanpa pamrih, melawan penjajah yang ingin mencengkram, menguasai tanah air kita, serta perlawanan Rakyat diberbagai daerah di nusantara ini. Perjuang setelah kemerdekaan untuk mempertahankannya dari Penjajah Belanda yang ingin menghilangkan peta Indonesia dari peta dunia, ingin menguasai Kembali bangsa kita. Hikmak yang dapat kita petik, para pahlawan, pujuang dan perlawanan Rakyat begitu Ikhlas, tanpa pamrih, Bersatu padu, rela berkorban untuk mewujutkan kemerdekaan dan mempertahankanya sampai titik darah terakhir.

Semangat para pahlawan bangsa kita, perlawanan Rakyat hendaknya menjadi ispirasi untuk Ikhlas Melayani sesama di masa pandemic covid-19. Diberbagai pertempuran rakyat dengan rela memberikan makanan , dan kebutuhan lain kepada laskar pejuang, bahu membahu sesuai kemampuanya masing masing. Perwujudan dari berkorban Bela Negara.

Dalam masa pandemic ini, banyak persoalan yang harus dicarikan pemecahannya untuk Bersama sama

menyelesaikannya. Semua Elemen hendaknya focus untuk bisa keluar dari pandemic covit-19. Mari Bersatu padu, rela berkorban, tampa pamrih, baha membahu menghadapinya, saling berbagi.dll.

Rasulullah SAW. Banyak menyinggung hubungan sedekah dengan sehat dan Kesehatan, bahkan ada hadist yang mengatakan bahwa sedekah itu menyembuhkan dan dapat menolak bala atau musibah. Hadist ini hendaknya bisa memotifasi kita untuk melakukan banyak bersedekah yang intinya berbagi kepada orang orang yang tidak mampu, atau berkekurangan dan bahkan tidak bisa memenuhi kebutuhan makanan minumnya.

Corona akan mudah menyerang orang yang stress, daya tahan tubuhnya lemah ( Imun ), memiliki komorfid (penyakit Penyerta), sampai saat ini belum ada obatnya. Bagi orang yang terkena corona dokter selalu mengingatkan jangan stress, jaga imun tubuh, kosumsi multivitamin, makanan yang bergizi, berjemur dengan panas matahari pagi, makan yang cukup.

Kita banyangkan kalau yang kena adalah saudara saudara kita yang memiliki serba kekurangan yang tidak

bisa memenuhi kebutuhan dasar pangan mereka. Maka Pertahan terakhirnya dari serangan corona akan jebol karena tidak memiliki makanan (perutnya Kosong), stress daya tahun tubuh turun mengakibatkan kematian. Disini Pentingnya berbagi bagi saudara saudara yang diberi kemampuan Rezeki lebih untuk bersedekah. Disini hadist mengatkan sedekah itu menyembuhkan dan dapat menolak bala atau musibah.

 

OLEH : PDT. ELSA MARAMBA-KEBANG,STh

 

PEMBACAAN ALKITAB :

IBRANI 10 : 23 – 24

“Doakan apa yang kita kerjakan dan kerjakan apa yang kita doakan”

Kita sedang menghadai hari-hari yang sulit karena Pandemi Covid 19. Jaga jarak, hindari kerumunan, menahan diri untuk tidak keluar rumah cukup menantang dunia kerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Pendemi ini mengubah/menggangu banyak hal dalam dunia ASN. Kita begitu “terpuruk” karena tiba –tiba harus beradaptasi dengan berbagai aturan agar secara maksimal kita bebas dari penularan virus ini. Seiring dengan itu kita dituntut untuk bekerja secara profesional dan tetap produktif di masa Pandemi untuk melayani masyarakat.

Ibrani 10 : 23-24 menjadi dasar renungan hari ini untuk menjawab tema IKHLAS MELAYANI DI MASA PANDEMI SEBAGAI WUJUD PENGORBANAN YANG SEJATI. Pertanyaannya : sanggupkah kita ikhlas dan berkorban untuk tekun bekerja di masa Pandemi?. Covid 19 ini virus yang “kejam” karena menggentarkan kita untuk waspada dan dapat menjadi korban. Mari kita belajar dari dua ayat tadi bahwa tidak ada yang perlu ditakuti dalam dunia ini karena hidup kita dalam rancaangan Allah. Surat Ibrani ditulis kepada orang percaya agar hidupnya, karya dan pengabdiannya bersumber pada Kristus yang bekerja dan melayani dengan taat, taat sampai tuntas untuk kemuliaan Allah Bapa.

Bagi ASN : dunia kerja di masa Pandemi cukup menantang karena prioritas kesehatan dan keselamatan dipertaruhkan. Segala kebijakan pemerintah dan aturan-aturannya tetap merujuk pada kesehatan dan keselamatan karyawan yang tentunya mengedepankan disiplin dan etik kerja. Bekerja dari rumah, bekerja dengan shif atau apapun metodenya seorang ASN mesti melihat pekerjaannya sebagai anugrah sekaligus tanggungjawab kepada Allah. Hal mendasar adalah mencintai pekerjaan sebagai panggilan iman sehingga apapun perubahan zaman dan waktu iman kepada Allah pemberi kerja tidak goyah.

Pada ayat 23 : berharaplah pada Tuhan karena Allah setia dalam janjiNya. Berharap berdoa bekerja 1 paket dan jangan kehilangan salah satu apalagi hilang ketiganya. Ini penting agar segala penyesuaian waktu dan pengabdian dimasa Pandemi yang terus berubah-ubah kita tetap andalkan Tuhan. Ayat 24 : saling memperhatikan dan mendorong, ini bicara tentang kebersamaan kita (ASN) untuk besikap pada Pandemi. Hal ini mengajak kita tentang kerja dan protokoler kesehatan di masa pendemi. Beberapa hal menjadi pergumulan bersama : 1. Kita perlu sukacita dalam bekerja (IMAN). Pengharapan kita kepada Allah pengendali hidup tetap teguh. Karena dari iman keluar doa dan ibadah-ibadah yang tidak boleh kendor. Perkuat jam-jam doa disegala urusan kehidupan. Himbauan dari mimbar-mimbar gereja perhatikan dan laksanakan dengan baik. Dalam komunitas percaya saling menopang, mendoakan dan melayani dengan kasih. Iman dan kasih berjalan bersama.

2. Kita perlu semangat untuk bekerja (IMUN). Ayat 24 : saling memperhatikan, saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan yang baik bermakna untuk semangat kerja. Gunakan waktu kerja dengan baik, bangun komunikasi dengan baik untuk menjaga emosi jiwa. Hubungan di kantor baik dirumah juga baik : tubuh sehat dan sebaliknya. Kalau salah satu masalah virus gampang masuk. Mari kita saling memperhatikan dan saling mendorong. Tips2 yang baik untuk imun bagikan kepada rekan kerja. Bantu teman yang bermasalah, selalu berusaha jadi teman yang baik dengan rekan sekerja agar semangat kerja tetap ada.

3. Kita perlu selamat dalam bekerja (AMAN). Rasa aman adalah kebutuhan manusia terutama di masa pendemi yang menakutkan. Taat prokes, standar 5M laksanakan dengan taat. Senantiasa berhikmat dalam masa masa yang sulit ini. Beban kerja , beban keluarga kelola dengan hikmat sebab bekerja dimasa pandemi dibutuhkan pengorbanan yang sungguh-sungguh dengan tetap waspada untuk tidak jadi korban. Gunakan waktu kerja dengan baik. Kerja dengan jujur, taat , setia dan beretika.

4. Akhirnya : Bekerja sesuai teladan Kristus menurut kita Ibrani adalah :

• cintai pekerjaan kita (ASN) sebagai angurah Tuhan maka kita akan sungguh-sungguh mengabdi dalam segala perubahan zaman karena kerja kita untuk kemuliaan Tuhan. Kita hidup dari janji Tuhan bahwa Ia menyertai kita sampai akhir zaman. Karena itu zaman boleh berubah kasih Alllah janji Allah tetap kekal tidak berubah.

Berhikmat untuk tidak konyol dalam beriman. Sebab masa pandemi membawa perubahan : perubahan waktu kerja, metode kerja dan upah kerja untuk dapatkah kita tetap mengabdi dan siap berkorban? (beberapa anggaran kerja diover jadi dana covid, tidak ada tugas luar atau studi banding/ tunjangan perjalanan tidak ada sedangkan itu salah satu pendapatan dari jabatan yang kita pikul, dll).

 

Mari kita aminkan bahwa Allah kita Allah yang bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita karena itu bailah kerja kita adalah ibadah; adalah pelayanan dan kesaksian kita untuk memuliakan Allah yang adalah PEKERJA. AMIN.

 

Oleh : Romo Longginus Bone, Pr.

JADILAH GARAM DAN TERANG DALAM KARYA PELAYANAN SEBAGAI ABDI NEGARA DI TENGAH PANDEMI

Inspiras dari Tuhan (Garam dan Terang)

Matius 5:13-16

Apa yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan di tengah wabah virus covid-19 saat ini. Di satu sisi, kita akan berpikir, mengapa Tuhan masih saja memberikan cobaan sedangkan kita terus berdoa dan memohon kepada-Nya. Apakah Tuhan tidak mendengarkan suara kita. Memang kita membutuhkan Iman dan Imun di tengah persoalan saat ini. Hanya iman yang bisa menjawab keraguan imun kita. Jika tanpa Iman maka kita akan tetap protes dan tidak melihat adanya sisi lain dari kejadian ini. Karena itulah, inspirasi di tengah persoalan hidup saat ini haruslah datang dari Tuhan. Inspirasi harus datang dari Firman Tuhan dan dari doa. Kita boleh berjuang dan boleh berkehendak untuk yang terbaik dalam hidup kita, tetapi jika itu adalah kehendak kita sendiri maka kita juga akan mengalami putus asa. Tetapi apabila yang kita usahakan berasal dari kehendak Tuhan maka di tengah kesulitan sekalipun kita akan memiliki sandaran untuk berharap.

Menjadi Garam

Dalam Markus 9:50 Yesus mengingatkan supaya Selalu mempunyai garam dalam dirimu. Garam menunjukan kapasitas untuk memelihara, memurnikan dan membersihkan sama seperti api yang membakar ketidakmurnian dan mengubah segala sesuatu. Garam dalam diri kita, teristimewa para ASN adalah tetap menjaga kekompakan dan kebersamaan di tengah pandemi. Ketika garam dikenai pada suatu makanan, akan mencegah pembusukan. Ini pula menjadi spirit pelayanan para ASN di tengah kemelut Wabah Virus Covid-19. Setiap ASN menjaga agar mutu pekerjaan dan produktivitas tidak rusak oleh karena situasi yang sulit. Namun sebaliknya, ASN terus berinovasi untuk melayani dengan semangat kebersamaan dan tetap menjaga kerukunan agar tidak saling menyalahkan, melempar tanggung jawab dan saling membenci. Menjadi Garam juga berarti bersedia untuk memberikan pertolongan terbaik dalam pelayanan bagi orang-orang membutuhkan. Memberikan bantuan kepada orang lain juga akan membantu kita untuk merubah diri kita menjadi seorang pribadi yang lebih rendah hati dan mau membantu sesama yang lebih membutuhkan dengan demikian kita akan menjadi lebih peka dengan keadaan sekitar kita.

Sifat positif garam lainnya adalah sebagai penyedap (menghibur, membawa damai dan sejahtera); pengawet (melestarikan nilai-nilai kasih). Di tengah proses pembusukan nilai-nilai kemanusiaan, etika dan moral yang destruktif dan mereduksi kualitas hidup manusia di komunitas dunia maupun masyarakat bangsa kita saat ini, seorang ASN harus tampil dengan membawa perubahan melalui pelayanan dan pekerjaannya. Seorang ASN harus menumbuhkan harapan bagi masyarakat yang mengalami kegalauan akibat Corona Virus saat ini. Semangat dan kegembiraan, hendaknya tetap terpancar dalam wajah-wajah kita karena di tengah pelayanan kita, senantiasa hadir yang lain dan kehadiran orang lain inipun yang justru memberikan kepada kita warna, sebagaimana yang dikatakan oleh Thomas Hardy bahwa, "Kita harus melihat kebahagiaan itu seperti pelangi. Tidak pernah berada di atas kepala kita sendiri, tetapi selalu berada di atas kepala orang lain". Maka hendaknya kita senantiasa menimba inspirasi ini, agar kita pun selalu dilihat yang lain sebagai pemberi bahagia bagi mereka.

Meluasnya penyebaran Covid-19 bukan menjadi penghalang untuk tetap produktif dan terus berpikir positif. Dengan berpikir positif maka akan muncul pribadi kreatif yang bisa menghasilkan inovasi-inovasi yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat sekitar. Begitu pula dengan aparatur sipil negara (ASN). Di tengah perubahan sistem menjadi kerja dari rumah (work from home), mereka harus bisa menjaga produktivitas kerja dan tetap memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat. ASN juga harus bisa menjadi sosok penyebar energi positif di tengah perang melawan Covid-19.

Menjadi Terang

Setiap ASN memiliki tugas untuk membawa terang dari Tuhan kepada sesama. Di tengah pandemi covid-19 ini, kita sebagai ASN mengambil bagian dalam tugas tersebut. Dalam Yesaya 60:1 dikatakan, “”Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu”. Salah satu sikap hidup dalam terang adalah hidup dalam kasih. Kasih adalah suatu sikap yang sangat mendasar dalam kehidupan setiap manusia. Hendaknya terang itu ditunjukkan, dan bukannya kita simpan cahanya (Matius 5:14-16). Terang dalam diri setiap pribadi ASN haruslah member dampak nyata dalam karya pelayanan dan dapat dilihat oleh orang lain. Kasih itu bukan hanya sekedar menolong ataupun berbagi. Tetapi kasih adalah bagaimana sikap iman kita. Kalau kita hanya menolong tetapi dengan paksaan atau karena tuntutan ekonomi semata, maka itu bukanlah kasih. Kalau kita memberi tetapi tidak ikhlas itu pun bukan kasih. Karena kasih mengajarkan untuk mengasihi dengan hati iman yang sungguh-sungguh ikhlas mengasihi. Hidup dalam kasih juga berarti hidup untuk rendah hati. Rendah hati dalam diri seorang ASN ketika mengalami pandemik yang sulit seperti saat ini berarti selalu bersyukur untuk apa yang diterima. Tidak mengeluh akan kesulitan hidup yang kemudian membuat diri kita sebagai ASN, pada akhirnya tidak mampu berkembang secara produktif. Ketika kita sudah hidup dalam terang, maka kita harus membawa terang itu kepada orang lain. Artinya dengan sikap pelayanan seorang ASN yang membawa terang, maka akan mampu menghapus kegelapan dan berbagai persoalan hidup yang dihadapi oleh publik. Sebab kebajikan sebenarnya dari menjadi terang, sesungguhnya ialah menjadi yang paling bermanfaat bagi orang lain.

ASN juga harus bisa menjadi ujung tombak dalam penanggulangan Covid-19. Ketika mengemban tugas sebagai pelaksana kebijakan dan pelayan publik, artinya ASN harus berperan sebagai pelopor, penggagas dan penggerak dimana pun dia berada. Bukan hanya di tempat kerja tetapi juga di lingkungan masyarakat. Selain itu, peran ASN dalam penanggulangan Covid-19 juga bisa dilakukan dengan menyebarkan informasi benar terkait Covid-19 untuk mengedukasi masyarakat. Diperlukan teknik komunikasi agar pesan yang disampaikan bisa dicerna masyarakat dengan mudah dan jelas.

Akhirnya, bagi para ASN, dengan sistem bekerja dari rumah bukan menjadi alasan untuk tidak produktif.  WFH menuntut keaktifan dan komunikasi yang baik antara atasan dan bawahan agar target kinerja tetap tercapai. Di sinilah kita diuji untuk tetap membawa kekompakan dalam kerja dan membawa nilai kebersamaan yang tulus dan ikhlas dalam setiap pelayanan bagi orang lain.

 

0 Comments

You Might Also Like This

Back to top