Hati Yang Tidak Memihak Dalam Tugas Pelayanan Sebagai Aparatur Sipil Negara

Kota Kupang, BKD.NTTPROV.GO.ID - Badan Kepegawaian Daerah Provinsi NTT menyelenggarakan Pembinaan Rohani Gabungan ASN Anggota KORPRI Lingkup Pemerintah Provinsi NTT, hari Jumat, 25 Maret 2022 secara virtual dan disiarkan secara live streaming melalui channel Youtube BKD Provinsi NTT. Tema Renungan : ""Hati yang tidak memihak dalam tugas dan pelayanan sebagai Aparatur Sipil Negara"" Hadir memberikan renungan masing-masing rohaniwan dari agama Kristen : Pdt. Mercy Kapioru-Patikawa, S.Th, agama Islam : Drs. H. Hudayanur, agama Katolik : Romo Longginus Bone, Pr. dan agama Hindu : Ir. I Wayan Sumartika, M.Si. Adapun intisari renungan yang disampaikan oleh masing-masing rohaniwan yaitu : 

Renungan 1
Pertama dan utama sekali marilah kita panjatkan rasa Puji dan syukur yang mendalam  kepada Allah SWT. Kita semua ini hamba hamba-Nya, berada dalam genggaman-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Semoga Kesehatan, kekuatan selalu di berikan kepada kita dalam menjalankan tugas-tugas kita sebagai Aparatur Sipil Negara ,dapat melayani masyarakat dengan sebaik baiknya.

Materi pembinaan kita kali ini adalah “ Hati yang tidak memihak dalam tugas pelayanan sebagai Aparatur Sipil Negara “. Tema Pembinaan Rohani kita hari ini, sangat menarik.Diantara tugas Utama seorang  pegawai pemerintah yang diberi tanggung jawab menangani urusan public adalah memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat tanpa pilih kasih.

Pelayanan Publik harus memperhatikan azas azas keadilan dan non diskriminasi. ( UU no 25 Tahun 2009 tentang pelayanan public}

Pelayanan Publik dikatakan baik jika memenuhi beberapa azas azas kepentingan umum, kepastian hukum, kesamaan hak dan kewajiban, proposional, partisipatif, persamaan perlakuan/tidak diskriminatif,keterbukaan, akuntabilitas, ketepatan waktu dan lain sebagainya.

Peserta live streaming Pembinaan Rohani gabungan Anggota KORPRI di mana saja berada…

Saya Kembali lagi pada “ Hati yang tidak memihak dalam tugas pelayanan”

Katanya sehederhana mudah di ucapkan, tetapi dia memiliki makna yang mendalam. Apa yang ada didalam hati seseorang pada dasarnya tidak ada yang tahu kecuali orangnya sendiri dan sang Pencipta itu sendiri yakni Tuhan yang mengetahui apa yang tersimpan dalam hati seseorang.

Yang jelas Tema ini mengingatkan kita  sebagai aparatur sipil negara, memberikan pelayanan tidak pilih kasih, Tidak diskriminatif, berlaku adil, terbuka,  transparan ,perlakuan yang sama pada setiap orang. Kepastian hukum dan kesamaan hak dan kewajiban.

Agama mengajarkan kepada kita untuk berbuat baik kepada siapapun tanpa membedabedakan suku,ras warna kulit dan status social. Serta memerintah kan kita untuk berlaku adil, bertutur kata yang baik.

Dalam Al Quran al Karim dalam surah Al Baqarah Ayat 267 Al Berfirma yang Artinya :

Wahai orang orang yang beriman! Infaqkanlah Sebagian dari hasil usaha mu yang baik baik dan Sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk mu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah Allah Maha Kaya, Maha terpuji.

Ayat ini mengingatkan kepada kita, untuk melakukan perbuatan yang terbaik, mengeluarkan sesuatu atau menginfakkan, memberi, melayani  dengan sepenuh hati, dengan keiklasan, sesuatu yang berkualitas tinggi, Allah SWT. Maha Baik dan menyukai sesuatu yang baik pula.

Konsep Pelayanan menurut Islam, pertama Ta’awun (tolong menolong, Kedua  At- Taysir (Memberi Kemudahan), Ketiga  Musawah ( Persamaan ), Keempat Muhabbah ( saling mencintai ), Kelima Al- layin ( Lemah lembut) ke enam  Ukhuwah ( Kekeluargan/Persaudaraan )

Allah SWT. Berfirman :

Artinya : “ Jika kamu berbuat baik, sesungguhnya kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri, jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu untuk dirimu sendiri “ (Q.S. Al Isra’ : 7 )

Artinya : “ berbuat baiklah engkau (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu” (Q.S . Al-Qashas : 77 )

Dalam mengurusi urusan public, yakni pelayanan di tengah tengah masyarakat  Rasulullah SAW bersabda yang artinya :

“Permudahlah jangan mempersulit, dan jadikanlah suasana yang tentram, jangan menakut- nakuti “

(H.R. Muslim )

“Barang siapa yang melepaskan kesusahan duniawi seseorang, Allah akan melepaskan kesusahannya dii akhirat, barang siapa memudahkan seseorang yang mendapat kesusahan, Alllah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat” (H.R.Muslim)

Bangunan Islam itu kita lihat dalam sebuah Hadits yang artinya :

“ Islam itu dibangun atas lima perkara (1) Persaksian bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan Nabi Muhammmad utusan Allah (2) Mendirikan Shalat, (3) Menunaikan Zakat, (4) Puasa Ramadhan, (5) Haji bagi yang Mampu. “ ( H. R. Bukhari dan Muslim ).

Intinya akan mengarah kepada Pensucian,  persamaan  hak dan kewajiban  di hadapan Sang Pencipta  Tuhan Alam Semesta.

Kami ambil suatu contoh Ritual Ibadah Haji, memakai pakaian ihram, ini menggambarkan kesamaan kita di Hadapan Tuhan yang Maha Kuasa, berpakaian putih hanya dua lemabar , satu disarungkan dan yang satu lagi diselempangkan, semua sama tidak ada beda, pejabat, penguasa, pengusaha, petani,pegawai, rakyat biasa, seorang pemulang kita melepaskan semua atribut dunia mengadap kepada Tuhan yang satu, Allah SWT.

Hakikat dari Ajaran Islam itu  sangat mendorongn persamaan manusia, yang tidak membedabedakan suku, ras dan status social, apalagi dalam pelayanan public tidak diskriminatif ( hati tidak memihak dalam Pelayanan.)

Renungan 2
Bahan Alkitab : Matius 23; 1-12

Ada beragam manusia bukan hanya fisik tapi juga karakter. salah satunya munafik. Setiap orang pasti ada sisi munafiknya dalam karakter. Tetapi kembali kepada setiap orang karakter mana yang diperkuat. Di Indonesia sekitar 6- 7 tahun terakhir, viral dengan istilah “pencitraan”. Di mana sesorang berkeinginan selalu terlihat baik, dengan berbagai janji atau tindakan kebaikan, dengan motivasi yang keliru. Karena kenyataannya kebaikannya semu hanya untuk kepentingan sesaat. Bacaan saat ini Yesus mengkritik orang-orang Farisi dan ahli - ahli Taurat. Yesus tidak menentang Taurat yang mereka ajarkan. Karena itu Yesus memberikan pembenaran terhadap isi Taurat, Yesus juga tidak menentang posisi ahli Taurat dan orang Farisi yang menduduki kursi Musa. Yang Yesus tentang adalah sikap dan perbuatan mereka yang penuh dengan kemunafikan. Ada dua hal yang di tentang oleh Yesus, dan ini menjadi pembelajaran bagi kita. Sikap yang pertama dalam bahasa modern adalah NATO ( No action, Talk Only ) Ahli Taurat dan orang Farisi sangat lihai dalam mengajar Taurat, namun mereka tidak melakukan dan menghidupinya dalam keseharian. Ajaran mereka palsu, hidup mereka jauh dari apa yang diajarkan. Mereka tidak berintegritas. Sikap yang kedua, juga istilah ini dalam bahasa gaulnya Carmuk alias cari muka. Apa yang mereka (ahli Taurat dan orang Farisi) lakukan di motivasi untuk mendapatkan pujian dari orang lain. Mereka berlomba-lomba menjadi rabi, bapa dan pemimpin “nomor satu”. Bahkan perbuatan baik dilatarbelakngi oleh ketidak tulusan ada ambisi kesombongan yang terselubung. Tindakan kebaikan hanyalah pencitraan. Di tengah zaman ini, di dunia kerja , kita adalah orang percaya dipanggil untuk menjadi orang-orang yang berintegritas. Yesus menggambarkan dua karakter kristiani yaitu sungguh bekerja dan melayani dalam ketulusan dan rendah hati. Ada dua hal yang menjadi point penting bagi saudara-saudara juga bagi kita semua : Pertama,jadilah orang Kristen yang melakukan apa yang di ajarkan dan menghidupinya. Jangan hanya jadi orang yang sok tahu, sok pintar tapi hanya sampai batas bicara. Jangan jadi orang Kristen yang pintar menghafal Firman atau peraturan-peraturan tapi tidak menghidupinya. Berhentilah jadi orang yang munafik. Tuhan tidak butuh orang yang hanya pandai berbicara, yang Tuhan pakai adalah orang yang pintar dalam bekerja. Telah terbukti pada masa pandemi ini mereka yang bertahan adalah mereka yang bekerja dengan rajin, sungguh, jujur, dan benar. Menghidupkan apa yang diajarkan maka saduara-saudara akan bekerja dalam kejujuran, kebenaran. Matius 5:37 : “Jika ya, hendaklah kamu katakan :ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat”. Dengan demikan tidak ada keberpihakan pada yang salah dan tidak benar. Siapapun dia, salah tetaplah salah dan benar tetaplah jadi yang benar. Untuk berpihak pada kebenaran tidak mudah apalagi jika dia adalah atasan, keluarga, kolega. Wah serba perasaan. Tapi ingatlah Tuhan tidak berkompromi dengan dosa. Jangan takut jika tidak dipromosi, karena Tuhan yang akan mempromosikan kita, kerja keras dan pengorbanan tidak sia-sia di hadapan Tuhan. Memang tidak mudah, menghidupi apa yang diajarkan oleh Yesus, tapi tidak ada tidak dapat dilakukan jika Tuhan bersama dan memampukan kita. Kedua, orang Kristen yang sungguh melayani dan rendah hati, yang melakukan segala sesuatu dengan motivasi yang tulus. Berhentilah untuk pencitraan, bekerjalah bukan untuk dipuji orang dan mencari kedudukan, tapi untuk Tuhan. Ada percakapan antara anak nyamuk dengan ibu nyamuk . Anak nayamuk : Aku hebat mak. Ketika aku terbang orangorang bertepuk tangan”. Ibu nyamuk : “ Awas nak, tepuk tangan mereka untuk membunuhmu, bukan karena kamu hebat. Kolose 3:23 : “ Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Bekerjalah dengan hati yang tulus, yang sungguh dengan motivasi yang murni, maka sungguh pekerjaan dan pelayananmu akan diberkati Tuhan. kerja dan karyamu menjadi berkat. Amin.

Renungan 3
(Yoh. 19:1-15)

Saya tertarik dengan sebuah ilustrasi kecil yang menarik tentang seorang nelayan. Nelayan ini adalah seorang yang taat beribadah dan selalu mengandalkan Tuhan. Saking taatnya, bahkan dalam kenyataan sehari-hari, imannya akan Tuhan terkesan ekstrim. Suatu hari, ketika dia sedang pergi menjala ikan, tiba-tiba gelombang datang dan memukul perahunya sampai tenggelam. Lalu datanglah perahu nelayan yang lain ingin membantunya, tetapi ia menolak dan berkata, tidak apa-apa. Saya menunggu Tuhan saya yang datang menolong saya. Lalu berlalulah nelayan ini. Kemudian datanglah kapal motor pengangkut penumpang, sebut saja kapal feri. Melihat kondisi si nelayan yang makin terpuruk ini, nahkoda kapal menyuruh abk-nya untuk menolong si nelayan ini. Tetapi si nelayan ini tidak mau. Ia bersikeras bahwa ia sedang menunggu Tuhannya datang untuk menyelamatkan dia. Lalu berlalulah kapal feri ini. Singkat cerita, nelayan ini tenggelam dan menderita. Kemudian tibalah waktunya bertemu dengan Tuhan. Ketika bertemu, dia bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, kenapa Engkau tidak datang menolong saya? Saya berusaha bertahan dengan keyakinan bahwa Engkau pasti datang menolong saya, kenapa Tuhan tidak pernah datang?” lalu kata Tuhan kepadanya, “betapa bodohnya kamu anak-Ku. Aku telah mengirimkan beberapa orang untuk menolongmu, tetapi mengapa hatimu begitu keras?” lalu sadarlah dia dan menyesal.

Mari membumi. Berimanlah secara nyata dengan belajar dari kenyataan-kenyataan yang tampak di hadapan kita. Sadar atau tidak, kita adalah alat-alat Tuhan yang sesungguhnya sedang dipakainya. Menjadi seorang Aparatur sipil Negara bukanlah sebuah predikat belaka. Di dalamnya termuat tugas-tugas yang sesungguhnya menjadi ruang pewartaan kita. Kita tidak hanya sekedar menjadi seorang aparat, tetapi sekaligus wakil Tuhan yang sedang diutus. Kita bertanggungjawab untuk menunaikan tugas-tugas kita, tidak hanya sebagai seorang aparat, tetapi sekaligus sebagai pembawa kebenaran berdasarkan iman dan keyakinan kita. Itu berarti kebenaran senantiasa menjadi hal utama yang harus kita perjuangkan. Cerita ilustrasi di atas sesungguhnya menggambarkan kepada kita bahwa kebenaran tidak harus menjadi sesuatu yang tampak ideal semata, tetapi harus juga menjadi realita yag harus kita bagikan. Beriman kepada Tuhan tidak harus membuat kita melayang, bahkan menolak manusia, tetapi manusia harus kita manusiakan. Dan sebagai aparatur sipil negara, kita wajib menunjukkan kebenaran ini. Pelayanan kita harus mampu menjadi sumber sukacita, kenyamanan, tempat dimana semua mereka yang datang mengalami pelayanan kita, mengalami bahwa Tuhan hadir melalui diri anda. bahwa Tuhan tampak begitu dekat dan bukat sangatlah jauh. Sebagi seorang aparatur sipil negara, yang sekaligus orang beriman, kita bertugas untuk menunjukkan kebenaran ini. Mau tidak mau. Suka tidak suka. Senang atau tidak. Tetapi kebenaran bahwa anda seorang aparat yang beriman, anda harus bisa sampai kepada titik ini.

Karena itu, milikilah hati yang tidak memihak. Apapun alasannya, bahkan seberapapun nikmat yang bakal anda peroleh. Kebenaran bahwa anda seorang aparatur sipil negara yang beriman, memaksa anda untuk menunjukkan kualitas ini. Bacaan suci yang barusan kita dengar sesungguhnya hanya mau menunjukkan kepada kita bahwa kenyataan kadang lebih kuat daripada usaha mempertahankan kebenaran. Kadang kita lebih takut kepada ancaman ketimbang keselamatan. Kita lebih memihak yang mayoritas, ketimbang yang minoritas. Kita terlampau mencari kenyamanan ketimbang memberikan keadilan. Acap kali ketika diharuskan berpihak, kita sebenarnya sudah jelas mengetahui kepada pihak manakah seharusnya kita lakukan pembelaan. Kita sadar siapakah yang benar dan tulus dan pihak mana yang bertindak sebaliknya. Namun ada banyak pertimbangan yang memaksa kita, kadang tidak memilih pihak yang benar. Pada akhirnya, tanpa kita sadari, ketika kita salah memihak, kita justru telah melakukan penindasan terhadap mereka yang benar. 

Itulah yang dilakukan oleh Pilatus dalam cerita Injil yang baru saja kita dengarkan. Ia mendapat tekanan massa untuk menyalibkan Yesus. Padahal Pilatus tahu dengan sangat baik bahwa Yesuslah yang benar. Namun ia takut kehilangan jabatan karena ancaman orang banyak. Karena itu, Pilatus berusaha keras melepaskan dirinya dari tanggung jawab. Awalnya, Pilatus menyerahkan kembali perkara Yesus kepada orang Yahudi. Tetapi orang Yahudi yang ingin tampak bersih menjelang Paskah, menyerahkan kembali keputusan kepada Pilatus. Pilatus pun kemudian membuat keputusan untuk menganiaya dan menyalibkan Yesus demi menyenangkan banyak orang, lalu mencuci tangannya karena takut ditimpa hukuman. Namun ia tidak sadar jika di sini keputusannya adalah sebuah kesalahan. Keputusannya justru tidak mencerminkan kualitasnya sebagai seorang pelayan masyarakat.

Motivasi tindakan kita, tidak ada satu pun tersembunyi di hadapan Tuhan. Ujian atas ketulusan terjadi saat kita dibenturkan pada dua pilihan sulit, yaitu apakah kita berpihak pada kebenaran ataukah menentang kebenaran demi menyenangkan hati orang. Apakah kita bersedia mengambil risiko menderita bersama orang benar? Ataukah justru bertindak demi rasa aman kita sendiri? Sebagai seorang aparatur sipil negara, kita punya tanggungjawab meluruskan kebenaran-kebenaran yang masih terselubung. Kita bertanggungjawab untuk menunjukkan bahwa kita adalah alat Tuhan yang memiliki kualitas. Kita harus menunjukkan bahwa kita datang dari Allah, kita bekerja sebgai orang-orang dari Allah dan kita berperan mewartakan keselamatan. Susah atau senang, suka maupun tidak, sebagai seorang aparat yang beriman, saya bertugas memperjuangkan rahmat ini..